OB

Seorang office boy (OB) nyambat kepada saya. “Pak kalo ada pekerjaan lain tolong ya pak, saya mau?”. Saya heran juga dengan apa yang dia katakan, karena penasaran kemudian saya tanyakan alasannya. Dengan agak malu-malu akhirnya dia menjelaskan “Gini Pak, saya malu jadi OB. Saya gak pede kalo ditanya pekerjaan sama orang-orang tu?” Seketika saya paham dengan maksudnya.

Sahabatku yang budiman, apa yang dikeluhkan oleh sobat saya pernah ada di benak sebagian saudara-saudara kita yang bekerja sebagai OB. Masih ada semacam pandangan bahwa menjadi OB bukan pekerjaan membanggakan, menjadi OB pekerjaan remeh gak pake otak, atau bahkan menganggap OB sebagai pekerjaan rendah dan tidak berderajat.

Jujur, saya prihatin dengan paradigma ini. Ini adalah keyakinan keliru bahkan menyesatkan. Keyakinan yang tidak berdalih dan menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Coba anda renumgkan, bagaimana mungkin seorang yang bekerja membantu orang lain, membersihkan kotoran dan help full service dianggap remeh? “Tidak adil”.

Kalau OB tidak membutuhkan training khusus atau pendidikan sarjana mungkin kita bisa terima karena spesifikasinya memeng demikian. Ini artinya OB sama dengan pekerjaan lain, misalnya waiters, juru tulis, pelayan resto dan seterusnya. Apakah OB tidak perlu training sama sekali? OB perlu training, perlu ketrampilan dan semua pekerjaan membutuhkan ketrampilan.

Sahabatku OB, anda termasuk orang yang berjasa dalam hidup saya karena di kantor saya sering dibantu para OB yang ramah. “Sahabat OB, ayo  tetap semangan…………..”

Jaiman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: