SIAPA SEBENARNYA YANG GILA?

Oleh : Jaiman Paiton

http://www.topspeedhelmet.com

Suatu hari dalam perjalanan pulang kantor naik bus bersama dengan teman-teman sekantor. Seorang teman di samping saya berkata “Lihat, kasihan orang gila itu, ke mana-mana tidak pake baju” sambil mengarahkan telunjuknya ke seberang jalan. Saya melihat ada seorang laki-laki gila hanya mengenakan celana pendek compang-camping berjalan gontai.

Dalam hati saya berpikir “Apa ya kira-kira yang terpikir di benak si gila? Mungkin yang dia pikirkan justru sebaliknya, justru saya dan anda semua yang dianggap gila”. Sabar sobat, jangan reaktif. Bisa jadi yang terpikir di benaknya justru dialah yang waras dan kita-kita ini yang gila. Bagaimana orang waras diperdaya oleh harta, dan memenuhi perintah majikan? Berangkat pagi pulang sore, bahkan malam hari waktunya istirahat harus berangkat kerja. Dapat uang habis kemudian cari lagi dan habis lagi. Bukankah itu pekerjaan orang gila.

Kawan, bisa jadi apa yang dipikirkan orang gila tadi benar. Artinya sesungguhnya kita semua ini adalah orang gila. Orang gila yang merasa waras, lalu mengatakan orang lain yang gila. Kalau begitu siapa sebenarnya yang gila?

Mari kita lanjutkan diskusi kita. Benarkan kita sudah gila? Coba anda lihat realitas yang ada di sekeliling. Banyak orang yang bekerja ekstra keras, pagi, siang malam digunakan untuk bekerja dan bekerja untuk menggumpukan uang. Setelah uang terkumpul dikembangkan lagi untuk membeli emas, tanah, gedung, pusat bisnis dan seterusnya. Seluruh waktu habis untuk mengumpulkan harta dan tidak pernah mencapai kepuasan. Tidak hanya itu, orang-orang di sekitar berpendapat sama. Harta dijadikan simbul, simbul kehormatan dan kesuksesan. Tidak peduli cara mendapatkan harta, apakah halal atau haram yang penting menghasilkan harta. Gila. Apakah anda sependapat dengan saya? Mereka tida menyadari telah masuk dalam komunitas gila harta

Sementara itu ada orang-orang yang sangat senang dengan kedudukan. Merasa bangga dengan jabatan yang disandangnya. Dari waktu ke waktu dihabiskan untuk mendapatkan kedudukan tertinggi. Ambisinya untuk meraik jabatan-jabatan menjadi cita-cita terbesarnya. Jabatan adalah segalanya, kalau perlu dengan cara curang atau kekerasan atau menghabisi orang lain. Bagaimana pendapat anda? Orang gila, ya dia gila jabatan.

Masih ada yang gila? Ya, di bagian lain ada orang-orang yang ingin dipuji, dihargai, dihormati setinggi-tingginya. Rasa seperiornya bersifat egoistis. Semua orang harus hormat kepada dia. Itulah sifat si gila hormat. Kalau begitu siapa sesungguhnya yang gila?

Relatifitas. Di dalam pikiran manusia ada kaidah relatifitas. Segala sesuatu bersifat relatif tergantung dari waktu dan tempatnya. Seorang majikan berpikir, “Enaknya jadi pegawai. Tidak kepikiran membayar supplier, cicilan utang, barang rusak, delivery terganggu  dan seterusnya”. Pada sisi yang berlawanan seorang pegawai berpikir sebaliknya “ Enaknya jadi majikan, punya uang banyak dan bisa bepergian jauh ke mana-mana” jadi istilah enak bersifat relatif tergantung siapa yang melihatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: