Pelajaran dari Mundurnya Sri Mulyani

Oleh : Jaiman Paiton

Drama kasus bail out Bank Century memasuki fase cooling down setelah key person-nya sang menteri keuangan Sri Mulyani mundur dari jabatannya sebagai menteri keuangan. Memang eronis, tetapi Sri Mulyani menunjukkan kebesaran hatinya sebagai seorang negarawan. Seorang profesional yang tidak silau dengan prestise jabatan. Dia seorang intelektual yang berpikir jernih untuk mencari win-win solution.

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari mundurnya sang maestro keuangan bertangan dingin sekelas Sri Mulyani? Pertama adalah kebesaran hati dan keluasan berpikir. Di negeri ini sangat langka orang yang berprinsip sehat seperti beliau. Dia berani mengambil langkah mundur untuk suatu kepentingan yang lebih besar, yaitu kepentingan bangsa yang dicintainya. Tentu saja fenomena ini sangat bertolak belakang dengan perilaku sebagian besar  pejabat kita yang kemaruk jabatan. Jangankan mundur untuk sebuah kepentingan bangsa dan negera, bahkan mereka yang jelas-jelas dinyatakan telibat dalam kasus hukum tetap tidak mau mengundurkan diri. Selalu mencari alasan untuk melepaskan diri dari jerat hukum. Ada yang berpura-pura sakit, kemudian minta ijin berobat ke luar negeri dan ujung-ujungnya kabur. Sebagian yang lain langsung stess kemudian masuk rumah sakit minta pengobatan dan ruang khusus di rumah sakit. Semua yang mereka dilakukan hanya acting untuk sebuah syahwat kekuasaan belaka.

Kedua, profesionalisme. Sri Mulyani adalah seorang profesional sejati yang menunjukkan kualifikasinya di dalam negeri dan luar negeri. Penunjukannya sebagai direktur pelaksana bank dunia yang berkedudukan di New York merupakan bukti otentik bahwa beliau memiliki kualifikasi dunia. Bank dunia telah mengakuinya. Lalu apa yang dihormati oleh bangsa ini? Apakah para anggota DPR yang gila gaji besar dan kekuasaan? Apakah anggota pansus yang keminter padahal akalnya buta dan tuli? Apakah pejabat negara korup yang keranjingan jabatan hingga menghalalkan segala cara. Apakah politisi hitam yang selalu beracting manis di depan kamera TV sambil mengucapkan maki-maki dan umpatan?. Rakyat tahu siapa yang benar dan salah, tapi sayang aggota dewan yang terhormat justru hanya mencari kemenangan belaka.

Kawan, coba pikir sekali lagi. Siapa yang lebih profesional, apakah seorang menteri yang rela mengorbankan dirinya untuk kepentingan nasional, atau persekongkolan faksi-faksi yang sarat dengan egoisme?

Ketiga, Sri Mulyani tidak takut dengan teror politik. Coba jawab, apa yang telah dihasilkan dari Pansus Skandal Bank Century? Pansus Century adalah drama politik yang didasarkan pada ego kekuasaan yang tidak mengenal perikemanusiaan. Apakah Pansus Century membela rakyat kecil yang membutuhkan rasa keadilan? Apakah Pansus Skandal Century benar-benar membela rakyat kecil? Bukan. Pansus Century hanyalah acting para petinggi partai karena ego yang berlebihan. Tujuan mereka hanya dua, pertama mempertahankan kekuasaan pribadi dan yang kedua adalah melindungi kepentingan kelompok.

Coba anda lihat, apa yang terjadi setelah sri Mulyani mengundurkan diri? Sang Sutradara muncul di depan panggung sambil membusungkan dada tanpa rasa malu. “Saya menang”. Itulah kata-kata yang diucapkan. Mungkinkah sebuah negara menjadi makmur jikalua para pejabatnya dikendalikan oleh srigala hitam berbulu domba?

Harapan Untuk Menkeu Baru

Sekarang yang perlu dicermati adalah, apa yang akan terjadi setelah Sri Mulyani pergi dan departemen keuangan dikendalikan  Agus Martowardojo? Sebagaimana dalam pidato pelantikan Agus Marto, presiden SBY menegaskan bahwa dipilihnya Agus Martu karena beliau bukan representasi  dari partai politik. Agus Marto adalah profesional tulen yang berkecimpung di ranah perbankan puluhan tahun. Dengan pengalamannya mengelola bank besar tentu tidak salah apabila rakyat masih menaruh harapan di pundak beliau.

Satu sinyalemen positif bahwa penunjukan Agus Marto sebagai menteri keuangan direspon baik oleh investor yaitu naiknya IHSG sebesar 31 poin pada saat pelantikan beliau. Sekali lagi ini adalah sinyal awal yang akan ditindaklanjuti dengan kerja keras.

Memang Agus Martu tidak punya trak record sebagai pejabat publik sekelas menteri di departemen vital seperti departemen keuangan, tetapi Pak Agus Martu berkomitmen untuk melanjutkan kebijakan pendahulunya dengan penuh tanggung jawab. Mari kita tunggu action menteri keuangan kita yang baru.

Batu Sandungan Agus Marto

Apa saja batu sandungan yang akan dihadapi Agus Marto? Sangat banyak. Di Departemen keuangan Agus Marto menghadapi masalah yang cukup rumit baik internal maupun eksternal.

Di internal departemen keuangan Agus Martu memiliki PR seabrek sehubungan dengan reformasi departemennya yang sedang digincang skandar korupsi pajak Gayus Tambunan dan jaringannnya. Konon masalah mafia kasus pajak yang muncul dipermukaan adalah fenomena gunug es. Kalau dicermati lebih seksama, maka akan terkuah betapa hebatnya kasus mafia perpajakan yang terjadi di departemen keuangan. Departemen keuangan menyimpan permasalahan besar dan kalau gagal diselesaikan oleh Agus, maka kepercayaan publik turun. Menurunya kepercayaan masyarakat bisa berdampak global, yaitu target penerimaan pajak bisa terancam. Inilah masalah besar yang akan dihadapi Agus Marto ke depan.

Sandungan Agus kedua adalah dari eksternal yang berkaitan dengan partai politik. Lagi-lagi partai politik menjadi penghalang. Depkeu adalah lahan basah yang menjadi incaran parpol untuk mendapatkan cipratan dana, tarutama pada masa kampanye. Mudah-mudahan Pak Agus Martu mampu mengemban amanah ini dengan sebaik-baiknya. Selamat bekerja Pak Agus Marto.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: