DIALOG DPR DAN MASYARAKAT

Oleh : Jaiman

Apa bedanya DPR dengan Bonek? Untuk menjawabnya mari kita dengarkan dialog antara anggota dewan dengan masyarakat awam yang dipandu oleh seorang presenter TV:

Seorang anggota dewan kebakaran jenggot dan marah-marah ketika diminta pendapatnya tentang kesamaan antara anggota dewan dan Bonek..

Dewan : “Mas jangan gitu lah, masak sih DPR disamakan dengan Bonek. Kami kan melalui proses Pemilu yang demokratis. Kami mewakili konstituen yang banyak. Tolonglah posisi kami dihargai”. Di tempat lain seorang presenter TV mewawancarai seseorang  yang melintas di jalan

Masyarakat :“Kalau gak mau disamakan dengan Bonek, ya sudah kalau begitu sama dengan taman kanak-kanak saja, gimana?”. Pernyataan masyarakat dikonfrontir lagi degan anggota dewan

Dewan : “Pokoknya saya nggak terima dikatakan sama dengan Bonek, apalagi sama dengan taman kanak-kanak. Saya akan mengajukan somasi”. Kembali presenter minta pendapat ke masyaraka.

Masyarakat : “Bukan maksud kami meremehkan anggota dewan yang terhormat, tapi terus terang saja, sandiwara lakon Pansus Skandal Bank Century tidak menarik. Ceritanya mbulet kayak sinetron kehabisan ide. Tuh, lihat saja, orang-orang pada pindah channel, karena ada cerita sinetron baru”

Mungkin seperti inilah pertentangan dua kutub antara masyarakat umum dengan seorang anggota dewan. Masyarakat sudah muak, bosan dengan sandiwara pejabat yang bertele-tele. Masyarakat yang berharap keadilan tidak mendapatkan dari orang yang serahi diamanah. Ada apa dengan Bank Century? Ada apa dengan proses Pemilu tahun lalu? Apakah ada deal-deal khusus yang mencerminkan politik dagang sapi? Apakah benar bahwa drama Pansus Skandal Bank Century penuh dengan kepura-puraan?. Sarat dengan kepalsuan? Adakah hal ini disadari oleh anggota dewan yang (ingin disebut) terhormat?

Kawan, jujur saya tidak mengikuti perkembangan sidang Pansus Skandal Bank Century dengan ditail. Walaupun ada siaran langsung yang memelototi kerja Pansus dari jam ke jam, menit ke minat. Tidak ada gunanya bagi saya menyisihkan waktu yang berharga untuk tontonan sandiwara.  Masih lebih wise apabila saya melakukan aktivitas yang lebih produktif. Bagi TV yang selama ini kameranya memelototi kerja Pansus siang malam, rasanya perlu meninjau kembali keputusannya.

Satu Tanggapan

  1. memang dpr tu bukan wakil rakyat pak “WAKIL-PARTAI” dan wakil kepengtingan politik…. mereka memang diplih oleh rakyat, tapi saat udah duduk di kursi DPR. bukn di”setir” oleh rakyat. tapi kepentingan partai.. nice post:) saya tunggu komen dan kunjungannya ke blog saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: