MANAGEMEN KONFLIK DALAM KELUARGA

Oleh :  Jaiman

Dengan pengalaman berkeluarga selama satu dasawarsa tentunya boleh dong saya bercerita tentang pengalaman saya selama berkeluarga. Yang hendak saya ceritakan di sini adalah tentang managemen konflik dalam keluarga pada saat saya dan pasangan saling berjauhan. Wah, menarik nih….? Ya sangat menarik, terutama bagi anda yang baru meniti jalan rumah tangga. Pengalam saya juga bermanfaat apabila anda dalam jangka waktu tertentu harus berpisah dengan suami/istri untuk tuntutan kerja. Misalnya suami anda adalah seorang engineer di sebuah perusahaan tambang minyak offshore yang pulang sebulan sekali, dua bulan sekali, sebulan dua kali, seminggu sekali dan seterusnya. Hal yang sama juga dialami oleh profesional yang sering melaksanakan business trip dan long journey karena profesi anda harus meninggalkan keluarga dalam jangka waktu tertentu.

Jujur, dalam rumah tangga akan selalu ada konflik. Pasti ada konflik, apakah kadarnya prinsip atau yang remeh remeh, sesuatu yang berat atau ringan-ringan saja. Konflik selalu ada. Oleh sebab itu anda dan pasangan harus memahami management konflik yang jitu supaya kleuarga anda bisa tenteram saling mengasihi. Anda bisa bayangkan bagaimana suatu keluarga yang harmonis, rukun, tenteram. Anda, pasangan anda, anak-anak dan siapapun yang tinggal di bawah atapnya terasa di dalam miniatur al jannah.

Bagaimana cara mengatasi konflik dengan pasangan? Banyak pasangan yang mengawali perkawinan dari pacaran. Konon pacaran adalah model orientasi yang cukup efektif untuk mengenali calon pasangan. Dengan berpacaran yang cukup, dua individu mulai saling menyesuaikan, mengenali kemistri individu untuk dijadikan bahan persenyawaan jangka panjang bernama rumah tangga. Proses orientasipun berragam, ada yang cepat menyesuaikan lalu melangkah cepat ke pelaminan, ada yang relatif lambat sehingga proses pacaran berjalan tahunan. Ada beberapa teman saya yang menjalani masa pacaran sampai lima tahun baru melaju ke pelaminan. Setelah menjadi suami iantri tidak lama kemudian cerai. Ada juga yang proses pacarannya sangat singkat, hanya enam bulan setelah dikenalkan oleh masing-masing keluarga. Setelah menjadi suami istri, punya anak dua, e…. cerai juga. Tentu saya cerai adalah pilihan yang sulit dan berat. Pilihan yang tidak disukai, toh diambil juga karena pertimbangan masing-masing individu sangat beragam. Ya sudahlah, karena jalan itu adalah pilihan mereka Harus kita hormati.

Apakah perceraian dapat dihindari? Bisa. Bahkan saya katakan sangat mudah untuk menghindari perceraian. Bagaimana caranya? Kendalikan egomu. Ego adalah bagian dari isi dadamu yang mudah meledak-ledak menjauhkan akal dari hati nurani. Ego selalu bersekutu dengan nafsu untuk melawan akal sehat bertindak baik, menjauhi amarah dan kesombongan. Karena itu, kendalikan egomu agar akal sehatmu tidak melempem. Masalah perceraian memang menarik dan akan saya sajikan dalam segmen di lain kesempatan. Ok, mari kita lanjutkan kajian kita tentang management konflik rumah tangga.

Apa yang dimaksud dengan konflik dalam rumah tangga? Apapun bentuk dan sifatnya yang bisa menimbulkan terjadinya perbedaan pendapat antara anda dan pasangan adalah konflik. Contoh paling sederhana adalah selera makanan. Anda adalah penggemar masakan jawa, sedangkan pasangan anda penggemar masakan china. Dimana sumber konfliknya? Sewaktu-waktu sangat mungkin timbul perbedaan pendapat apabila anda akan menentukan restoran mana yang anda pilih pada saat hendak makan bersama keluarga. Mungkin anda mengusulkan dinner di Resto Dapur Desa. Apakah pasangan anda berkenan? Belum tentu, karena seleranya adalah chiness food. Wah bisa timbul pertengkaran dong? Ya, hal ini terjadi apabila anda mengambil keputusan secara sepihak alias tangan besi. Keputusan anda dianggap otoriter dan bisa ditentang oleh pasangan dan anak-anak anda.

Bagaimana cara menghindari pertentangan? Musyawarahlah. Jadi  tips pertama untuk meredam konflik dalam rumah tangga adalah musyawarah. Putuskan segala sesuatu dengan melibatkan anggota keluarga supaya mereka bisa menerima dengan lapang dada. Walaupun pendapat mereka tidak berdalih dan diabaikan dalam musyawarah, tetapi mereka punya pendapat yang perlu dihargai oleh individu lain. Nah, dengan musyawarah keputusan menjadi keinginan bersama. Perbedaan pendapat bukan untuk saling menindas yang lemah melainkan menjadi forum apresiasi yang produktif. Apakah anda selalu bermusyawarah untuk memutuskan segala sesuatu di dalam keluarga anda? Kalau belum, sekarang waktunya.

Kedua adalah keterbukaan. Biasakan anda dan pasangan saling terbuka dengan masalah harian sampai dengan masalah yang strategis jangka panjang. Masalah harian misalnya menu masakan harian, mengantar anak sekolah, merawat taman, membersihkan kamar tidur dan seterusnya. Kelihatannya remeh, tetapi bisa menjadi rumit apabila dibiarkan liar tanpa kendali. Lebih baik apabila anda dan pasangan membuat daftar menu selama seminggu ke depan atau bahkan sebulan dan dikomunikasikan dengan suami/istri dan anak-anak. Baik juga membuat jadwal mengantar sekolah anak, misalnya siapa yang mengantar si bungsu dan siapa si sulung dan seterusnya. Bagaimana dengan masalah-masalah non konvensional yang berpotensi menjadi konflik puncak. Apa contohnya? Dalam perjalanan rumah tangga selalu ada kemungkinan orang ketiga yang muncul tanpa disadari. Di kantor atau di jamuan lunch dengan kolega mungkin anda bertemu seorang wanita cantik, menarik dan anda tertarik dengan dia. Ini sangat wajar karena andapun memang  sosok yang menarik dan sopan. Wanita mana yang tidak kesengsem melihat penampilan, sikap dan gaya bicara anda yang elegan? Saling ketertarikan yang wajar dan semua orang juga akan seperti anda. Apa yang anda lakukan? Apakah anda ingin kencan dengan dia? Kisah asmara memang menjadi fitrah manusia. Di depan mata penampilan menarik dan moleh menjadi daya tarik mutlak. Terbayang dibenak anda, “Alangkah bahagianya apabila bisa mendampingi dia” masih ada lagi bisikan nakal “ Saya ingin bercinta denganya”. Godaan-godaan ini makin kuat, terutama apabila anda tidak membagi cerita ini kepada orang lain. Siapa yang akan anda ajak bicara?. Teman, sesama kolega. Sesama teman lelaki yang sama seleranya?. Jangan, kalau anda mau mencari solusi, bicarakan dengan pasangan anda. Berceritalah dengan baik dan terbuka. Terbuka dalam batas-batas yang wajar. Misalnya katakan kepada istri anda, “Tadi aku ketemu dengan kolega di kantor, namanya, Rini, orangnya cantik dan menarik. Tapi cuma kolega kok tidak lebih dari itu” kalatakn juga siapa dia, single atau married, dan lebih baik lagi apabila istri anda perlu kenal dengan dia. Mengapa perlu kenalan? Untuk menghindari terjadinya keinginan anda untuk selingkuh karena istri anda kenal dengannya.

Ketiga kalimat sakti. Apa yang dimaksud kalimat sakti? Ucapkan kalimat yang meng-encourage pasangan anda. Katakan “I love you” pada pasangan setiap kali anda mengakhiri pembicaraan telepon. Ucapkan “I miss you” untuk penutup sms anda dengan pasangan. Katakan “be carefull” untuk mengentarkan pasangan yang hendak melakukan perjalanan. Sudahkan anda melakukan ini kepada pasangan? Kalau belum saat ini juga lakukan, anda akan mendapatkan nikmatnya sejatinya cinta dengan pasangan.

Penulis Tinggal di Surabaya, Saat ini bekerja di PLTU Paiton

Satu Tanggapan

  1. […] saya mengutip dari https://jaiman1.wordpress.com/2010/01/21/managemen-konflik-dalam-keluarga/ […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: