EGOISME MENJADI BERHALA

Oleh : Jaiman Paiton

Awal dari masalah adalah egoisme. Jalaluddin Rumi mengatakan bahwa egoisme yang berlebihan adalah berhala. Egoisme dituhankan, ditempatkan pada posisi tinggi yang tidak terjangkau oleh hati nurani dan nasehat bijak. Egoisme bisa mengabaikan logika dan akal sehat. Mengapa manusia menjadikan ego sebagai berhala? Saudaraku yang baik. Pada dasarnya kita adalah individual-individual yang dilingkupi rasa egois. Sebagai individu, di dalam diri and keinginan pribadi, menempatkan posisi pribadi di atas kepentingan orang lain. Ingat bahwa keinginan menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan orang banyak selalu lebih kuat, wal hasil jangan heran kalau dalam setiap kesempatan kita selalu menganggap diri sendiri lebih baik, lebih tinggi.

Pada saat, kondisi individualisme makin menguat, tumbuhlah benih-benih kesombongan dan membanggakan diri sendiri. Bukan hanya sombong yang berlebihan, dalam hati akan tumbuh rasa merendahkan orang lain, ngenyek, menghina, memaki menyalahkan orang lain. Apapun kebaikan yang dikerjakan orang lain selalu dianggap salah. Kebaikan yang dilakukan orang lain dianggap riak dan mengharap pujian.

Demikian juga pada masa Nabi Musa. Fir’aun yang berkuasa dan memiliki harta melimpah menempatkan dirinya teramat tinggi, lebih dari segala yang ada di dunia. Semua orang dianggapnya rendah, bodoh dan hina. Kesombongan yang mutlak inilah yang kemudian menjadi egoisme tunggal dan menjelma menjadi berhala. Fir’aun menganggap dirinya sangat tinggi, bahkan menyuruh semua orang menuhankan dirinya. Fir’aun yang sombong akhirnya tumbang oleh Musa sang anak angkat.

Dalam keseharian masih banyak kita jumpai rasa egoisme yang keterlaluan. “Pokoknya saya tidak salah. Saya tidak mau minta maaf. Saya benar, anda salah”. Benarkah demikian yang terjadi? Benarkan anda tidak melakukan kesalahan sama sekali? Tuhan yang tahu, dan saya hanya menduga. Keyakinan saya terhadap sesuatu padahal saya tidak menjadisaksi adalah egoisme. Oleh sebab itu, saya hanya memposisikan disi sebagai penonton sebatas kemampuan mata dan telinga. Semoga bermanfaat sebagai bahan renungan saja. Salam berbagi nasehat

Satu Tanggapan

  1. Hmmm, tulisan yang menarik. Terima kasih telah berbagi, karena jujur saja saya merasa jarang ada yang menuliskannya dalam perspektif seperti ini. Kesuksesan memang harus dimulai dari dalam, serta dilakukan dengan penuh komitmen.

    Saya pikir kita memang perlu saling mengingatkan satu sama lain tentang teori dan proses pengembangan diri. Dan sebagai referensi silang, Anda juga pasti bisa menemukan cerminan lainnya dalam tulisan saya yang berjudul Racun Pengembangan Diri. Sekedar untuk semakin menambah wawasan saja, semoga bisa membantu.

    Salam kenal, sobat, senang bertemu dengan sahabat baru yang juga memiliki semangat untuk menginspirasi orang lain.

    Lex dePraxis
    Unlocked!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: