KUNCI KELUARGA BAHAGIA, JAUHI EGO

Oleh : Jaiman Paiton

lukisan bali2

Seperti apa keluarga yang anda bayangkan? Ekonomi mapan, dua anak semua baik dan cerdas, rumah bagus dan asri, mobil kinclong dan sehat lahir batin. Lantas bagaimana kondisi riil yang anda hadapi saat ini? Jauh dari ideal, mendekat ideal, sama dengan yang anda harapkan atau lebih dari yang anda anggankan?

Mari kita menyelami rahasia keluarga kita dengan cara yang bervariasi sesuai dengan yang ada di angan-angan anda.

Ada keluarga yang berantakan karena diterpa badai ekonomi yang sangat hebat. Saking hebatnya prahara ekonomi, suami dan istri memutuskan deforce. Ini artinya keluarga ini berorientasi ekonomi. Kemapanan ekonomi menjadi prioritas utama, sehingga pada saat kebutuhan utama tidak terpenuhi, pilihannnya adalah meninggalkan keluarga. Masing-masing mencari jalan berbeda sesuai dengan orientasi diri.

Ada keluarga yang berorientasi anak. Pokoknya harus punya anak. Perkawinan harus menghasilkan anak, kalau tidak kelangsungan keluarga tidak bisa dilanjutkan. Kalau anak menjadi orientasi utama, maka kehadirannnya menjadi fardhu ain. Mungkin bagi keluarga yang menyadari bisa menerima kehadiran anak adopsi, tetapi sebagian orang tidak menginginkan anak adopsi. Bagi dia anak biologis adalah segalanya dan tidak bisa digantikan dengan yang lain. Beberapa orang akhirnya memutuskan ikrar suci perkawinan karena tidak membuahkan anak biologis. Fenomena ini ada di sekitar kita.

Ada keluarga yang berorientasi kebahagiaan sejati. Mereka membangun keluarga dilandasi oleh keinginan lihur menunaikan kewajiban kerkasih sayang antara sesama. Keluarga yang berorientasi kebahagiaan akan menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan, kejujuran, kesederhanaan, kerja keras, saling tolong menolong. Sebuah keluarga yang berorientasi kebahagiaan yakin dengan kebahagiaan yang muncul dari dalam hati dan keyakinan yang kukuh bahwa kebahagiaan adanya di dalam hati. Materi tidak bisa menggantikan ketenteraman hati karena melakukan perbuatan mulia, membantu orang lain dan tulus hati.

Apakah kita telah memiliki keluarga berorientasi kebahagiaan?

Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang perlu anda jawab. Memang tidak semua materi berkorelasi langsung, tetapi dengan cara ini kita mencoba menyelami diri dan menjauhkan ego yang berlebihan pada diri kita. Ingat, ego yang berlebihan adalah berhala.

Coba anda jawab pertanyaan saya berikut ini:

  • Apakah anda merasa malu, rendah hati dengan naik sepeda motor pada saat resepsi pernikahan anak kolega anda?
  • Apakah anda menghormati pejalan kaki pada saat lampu TL menyala merah?
  • Apakah anda menyapa cleaning service yang sedang membersihkan toilet?
  • Apakah anda tersenyum dan bertegur sapa pada saat bertemu dengan bawahan anda?
  • Apakah anda mengurangi kecepatan mobil pada saat ada sepeda di depan anda?
  • Apakah anda mengucapkan terima kasih setelah membayar uang tol?
  • Apakah anda minta maaf karena tidak sengaja menginjak kaki orang lain?
  • Apakah anda marah karena pagi ini office girl lupa menyediakan kopi di meja kerja?
  • Apakah anda tahu pada saat tetangga masuk rumah sakit?
  • Kapan terakhir anda berkunjung ke rumah orang tua?
  • Kapan anda terakhir menelepon orang tua tercinta?

Jawablah dengan sejujurnya. Biarkan hati kecil anda membisikkan kata-kata indah di dalam akal sehat. Lalu mengatakan berulang-ulang. Saya akan menjadi orang yang rendah hati dan peka terhadap orang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: