KERJA SAMA UNTUK PERFORMANCE

Oleh : Jaiman Paiton

gedung

Dengan dalih menjadi yang terbaik seseorang berpikir dan bekerja keras sedirian. Saking seriusnya, dia tidak punya waktu untuk memikirkan keluarga dan orang di sekitarnya. Ada tetangga meninggal dunia tidak tahu, ada tetangga melangsungkan walimatun nikah tidak tahu, ada tetangga sakit tidak tahu. Bahkan dia sendiri masuk rumah sakit, tetangganya juga tidak tahu.

Kalau anda seorang pegawai di sebuah perusahaan swasta yang dinamis, appraisal menjadi sangat vital. Di sini anda dinilai performance kerja selama setahun. Apakah anda layak mendapatkan reward atau tidak sama sekali,  apakah anda patut naik gaji atau tidak. Semua berlomba, berdedikasi yang terbaik untuk mendapatkan hasil maksimal. Tidak terasa atmosfir persaingan mulai muncul. Diantara mereka bahkan tidak menyadari bahwa atmosfir persaingan membawa sebagian pegawai berpikir negatif. Mulai muncul keinginan menjatuhkan kolega, atasan, dan bawahan untuk mendapatkan pujian dihadapan bos. Apa yang terjadi berikutnya? Pasti, atmosfir kerja sangat kaku, curiga dan egois. “Kerjaan saya, milik saya, kerjaan you harus you kerjakan sendiri”. Dikotomi antara individu sangat kuat sehingga tidak ada kerjasama, akibatnya tujuan bisnis secara keseluruan berantakan.

Konon SunTzu mengajarkan, “teman seribu kurang musuh satu kebanyakan”. Jadi yang peru diperbanyak ada pertemanan dan diminimalkan persaingan. Nah, inilah yang saya maksud bahwa sinergi menghasilkan lebih banyak dibandingkan persaingan.

Dewasa ini kerjasama atau aliansi menyadarkan pabrikasi raksasa dunia sehingga mereka berbondong-bondong menjalin kerjasama, bahkan mencapai tahap merger yang menhasilkan kapitalsasi market monopoli. Di Eropa provider telekomunikasi Inggris Vodafone gabung dengan jasa Telkom Jerman Mannesman. Pabrikan ponsel Erricsson gabung dengan raksasa electronik Sony. Bank CIMB Malaysia, Bank Niaga dan BII mergen jadi CIMB Niaga, dan masih banyak lagi model kerjasama bisnis lainnya. Tujuannya pasti kapitalisasi market dan ujung-ujungnya adalah profit. Kerja sama…. siapa takut?

Dengan dalih menjadi yang terbaik seseorang berpikir dan bekerja keras sedirian. Saking seriusnya, dia tidak punya waktu untuk memikirkan keluarga dan orang di sekitarnya. Ada tetangga meninggal dunia tidak tahu, ada tetangga melangsungkan walimatun nikah tidak tahu, ada tetangga sakit tidak tahu. Bahkan dia sendiri masuk rumah sakit, tetangganya juga tidak tahu.

Kalau anda seorang pegawai di sebuah perusahaan swasta yang dinamis, appraisal menjadi sangat vital. Di sini anda dinilai performance kerja selama setahun. Apakah anda layak mendapatkan reward atau tidak sama sekali,  apakah anda patut naik gaji atau tidak. Semua berlomba, berdedikasi yang terbaik untuk mendapatkan hasil maksimal. Tidak terasa atmosfir persaingan mulai muncul. Diantara mereka bahkan tidak menyadari bahwa atmosfir persaingan membawa sebagian pegawai berpikir negatif. Mulai muncul keinginan menjatuhkan kolega, atasan, dan bawahan untuk mendapatkan pujian dihadapan bos. Apa yang terjadi berikutnya? Pasti, atmosfir kerja sangat kaku, curiga dan egois. “Kerjaan saya, milik saya, kerjaan you harus you kerjakan sendiri”. Dikotomi antara individu sangat kuat sehingga tidak ada kerjasama, akibatnya tujuan bisnis secara keseluruan berantakan.

Konon SunTzu mengajarkan, “teman seribu kurang musuh satu kebanyakan”. Jadi yang peru diperbanyak ada pertemanan dan diminimalkan persaingan. Nah, inilah yang saya maksud bahwa sinergi menghasilkan lebih banyak dibandingkan persaingan.

Dewasa ini kerjasama atau aliansi menyadarkan pabrikasi raksasa dunia sehingga mereka berbondong-bondong menjalin kerjasama, bahkan mencapai tahap merger yang menhasilkan kapitalsasi market monopoli. Di Eropa provider telekomunikasi Inggris Vodafone gabung dengan jasa Telkom Jerman Mannesman. Pabrikan ponsel Erricsson gabung dengan raksasa electronik Sony. Bank CIMB Malaysia, Bank Niaga dan BII mergen jadi CIMB Niaga, dan masih banyak lagi model kerjasama bisnis lainnya. Tujuannya pasti kapitalisasi market dan ujung-ujungnya adalah profit. Kerja sama…. siapa takut?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: