CINTAILAH KELUARGA

Oleh : Jaiman Paiton

Seorang teman bercerita ketemu dengan kenalan mertuanya. Seorang pedagang sapi yang usianya mendekati 50 tahun, tinggal di daerah pinggiran, dan sangat kaya menurut ukuran daerah tersebut. Rumahnya yang paling mentereng menyebabkan semua orang  mengenalnya. Yang menjadi fokus cerita adalah, si pedagang sapi ini beristri dua. Istri kedua masih relatif muda cantik lagi. “dua kosong” seorang teman lain tiba-tiba komen dan kami semua tertawa riuh.

Bukan hanya itu. Ternyata pembicaraan kami seputar poligami adalah menu favorit, munkin karena kami tidak ada yang berpoligami sementara sudah ada beberapa teman satu kantor yang beristri dua. Di daerah kami, seorang kyai juga sering beristri dua atau lebih. Ada seorang kyai terkenal di Probolinggo yang terkenal kawin cerai. Kalau dia suka, langsung diminta ke orang tuanya, dan kalau sudah tidak suka lagi cerai saja, titik. Kami memang tidak sependapat dengan perilaku menyimpang ini. Seorang teman nyetuk “buruk rupa kaca dibelah. Karena gak bisa melakukan, orang lain dianggap buruk”. Ha ha ha… kembali suara tawa kami riuh.

Dalam keheningan, saya selalu berpikir bahwa topik poligami menjadi materi yang menyebabkan kami kaum Adam menempatkan ego di atas orang lain. Paling tidak apa yang saya pikirkan mengabaikan perasaan istri dan anak anak. Coba pikir. Misalnya anda ingin kawin lagi, sementara itu di sisi lain istri anda juga berpikir sama. Satu-satu, adil kan?

Apakah anda sebagai kaum Adam dapat menerima pemikiran perempuan kawin dua (poliandri)? Saya tidak sependapat karena agama melarang perempuan poliandri. Oke, kita tahu bahwa menurut agama perempuan dilarang poliandri, tetapi kalau unsur agama sedikit kita abaikan dan murni diskusi ini adalah sisi kemanusiaan belaka. Laki-laki kawin lagi dan perempuan juga demikian, apa jadinya?

Saya hanya memikirkan bahwa apapun yang kita lakukan harusnya balance, yaitu seimbang antara perbuatan dan balasan. Kalau anda rajin melakukan perbuatan baik pasti mendapatkan balasan yang baik pula. Dan kalau kita menyakiti hati istri dan anak-anak ada balasannnya.

“Saya berpoligami karena ingin menolong orang lain”. Banarkah itu adalah niat yang sesungguhnya? Benarkan keinginan ini bukan nafsu belaka? Benarkan istri dan anak-anak bisa menerima dengan hati tulus? Memang sesama manusia tidak dapat membaca niat masing-masing hati, tetapi kita adalah manusia biasa yang mudah tergoda oleh egoisme nafsu. Kita bukan malaikat, bukan nabi, sehingga perbuatan kita tidak terpelihara dari dosa, tidak terpelihara dari godaan nafsu.

Lalu apa yang harus saya lakukan? Mario Teguh sering menaburkan pesan “Cintai keluarga” dan anda akan mendapatkan belasannya. Mencintai keluarga adalah indah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: