UCAPKAN SELAMAT KEPADA RAKYAT INDONESIA

Oleh : Jaiman Paiton

150611Aero_Landscape_22

Sangat disayangkan bahwa Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009 tidak berakhir dengan happy ending. Kalau kita simak tayangan TV dan media massa, Capres dan Cawapres yang dinyatakan kalah masih tidak legawa. Apa buktinya? Tidak ada satupun dari kandidat yang dinyatakan kalah lembaga survei independent versi hitung cepat (quick count) memberikan “ucapan selamat” secara terbuka kepada pasangan yang memang. Pasangan SBY-Boediono yang dinyatakan memang telak oleh semua lembaga survei dengan perolehan suara sekitar 60% tidak mendapat ucapan selamat secara terbuka dari pasangan Mega-Prabowo dan JK-Wiranto. Mengapa mereka tidak melakukan itu? Apa yang menjadi kendala mereka untuk mengucapkan selamat?

Tidak Siap Kalah, Hanya Siap Menang

Kita teringat pertanyaan moderator dalam debat pamungkas yang diselanggarakan oleh KPU tanggal 2 Juli 2009 lalu. Pada sesi penutup, moderator melemparkan pertanyaan yang sangat menggelitik, “Kalau bapak dan ibu tidak terpilih sebagai presiden dalam Pemilu kali ini, apa yang akan anda lakukan?”. Capres pertama, Megawati menjawab “Saya akan tetap mengabdi untuk kepentingan bangsa dan negara”. Capres kedua, SBY mengatakan “Pertama-tama saya akan mengucapkan selamat kepada Capres terpilih dan menghimbau kepada konstituen saya untuk mendukung Capres terpilih”. Capres ketiga, JK mengatakan “Saya akan pulang kampung, dan tetap berperan untuk kemaslahatan bangsa dan negara. Saya yakin yang terbaik akan terpilih, dan saya adalah yang terbaik ha ha ha” Begitulah kira-kira inti jawaban beliau-beliau pada waktu itu. Apa makna dan konsekuensinya terhadap hasil Pemilu? Sejak awal tidak ada niatan yang kuat dari Capres Mega dan JK untuk mengucapkan selamat kepada Capres terpilih. Artinya apa? Beliau-beliau ini konsisten dengan sikapnya. Apakah ini artinya beliau tidak siap kalah? Di sinilah rakyat yang akan menilai sampai tangal diumumkannnya hasil resmi oleh KPU.

Tentu saja kondisi ini sangat disayangkan, mengapa? Inilah yang pernah dijadikan kesimpulan oleh Jawa Pos pada acara Anugerah Otonomi Award 2009 oleh Jawa Pos. CEO Jawa Pos Group, Bapak Dahlan Iskan pada pidato penganugerahan Otonomi Award 27 Mei 2009 tersebut menyimpulkan, bahwa rakyat Indonesia telah dewasa dalam berdemokrasi. Rakyat telah cerdas dan tidak bisa diseret dalam ranah hitam yang menyebabkan mereka masuk dalam jerat konflik horisontal. Rakyat telah matang berdemokrasi. Menurut penilaian Pak Dahlan, rakyat Indonesia layak mendapat nilai tujuh. Hasil diskusi penel lainnya adalah tentang partai politik. Dalam kesimpulannnya, Dahlan Iskan mengatakan bahwa partai poltik adalah salah satu institusi yang belum dewasa dalam berdemokrasi. Partai politik masih perlu banyak belajar dari rakyat supaya dapat berdemokrasi dengan elegan.

Partai politik dan fungsionarisnya tidak siap kalah. Mungkin kekalahan bagi mereka adalah aib yang sangat berat. Kekalahan adalah akhir segala-galanya yang tidak bisa ditebus walaupun masih ada waktu ke depan. Berangkat dari realitas inilah yang menyebabkan Capres kita tidak bersikap legawa. Tentu saja kita ingin menyaksikan para kandidat bersikap legawa dan lengsung mengucapkan selamat kepada kandidat yang pemenang.

Pidato pernyataan kekalahan adalah cara yang cerdas. Ini adalah pembuktian bahwa mereka siap kalah. Tidak ada salahnya juga kandidat yang kalah langsung menyampaikan pidato pernyataan kalah sebagaimana yang kita saksikan di negara yang telah matang dalam berdemokrasi, seperti Jepang, AS dan Inggris. Nah ini saatnya bagi Indonesia untuk menunjukkan kepada dunia bahwa elit politik kita telah dewasa berdemokrasi

Walaupun demikian ada harapan yang mungkin masih terang. Misalnya Pada saat JK ditanya wartawan beberapa saat setelah lembaga survei mengumumkan kemenangan SBY, Jusuf Kalla berkilah, “Kita tunnggu saja pengumuman resmi dari KPU, karena yang dijadikan acuan adalah hitung manual versi KPU”. Kalau demikian, rakyat akan menunggu waktu saja. Dalam keterangannya Ketua KPU menyatakan bahwa hasil final resmi akan diumumkan maksimal sebulan terhitung  dari tanggal pelaksanaan pencontrengan 8 Juli. Jadi paling lambat tanggal 8 Agustus 2009 hasil akhirnya bisa kita saksikan. Mari kita tunggu, apa yang akan terjadi dengan Capres-Capres tersebut.

Banyak Kecurangan

Tidak mudah untuk mengatakan ini curang dan manipulasi, harus ada bukti pendukung yang meyakinkan  bahwa kecurangan nyata-nyata terjadi dalam Pemilu kali ini. Apakah kalau di dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) terdapat nama ganda sudah mengindikasikan terjadinya kecurangan. Apakah nama yang sama dalam satu propinsi dan wilayah tertentu mengindikasikan adanya kecurangan? Apakah benar terjadi money politic yang menyebabkan pemilih digiring pada pilihan tertentu? Apakah ada pemaksaan konstituen untuk masuk memilik calon tertentu?

Menang sejak awal DPT meninbulkan masalah. Di lapangan terjadi data orang meninggal yang masih terdaftar, usia dibawah umur dan double entry menjadi problem utama. Mungkin ini karena KPUD tidak serius mendapatkan data yang akurat. Apakah pengkinian data pemilih melibatkan RT telah menjamin bahwa data DPT pasti akurat? Kenyatannya, bahwa setelah perbaikan beberapa kali, DPT juga masih masalah. Memang idealnya ada petugas yang ditunjuk olrh KPU khusus mendapatkan data kependudukan yang akurat. Mungkin versi Orde Baru dengan cara membentuk Panitia Pendaftaran Pemilih (PANTARLIH) memberikan solusi. Tetapi masalahnya adalah biaya yang cukup besar, bukankah di setiap kecamatan dan Kabupaten? kota sudah ada data kependudukan yang dianggap akurat? Disinilah dilemanya, antara penghematan biaya dan akurasi data.

Apakah dengan DPT yang tidak akurat ini kemudian seseorang bisa mengklaim bahwa Pemilu kali ini cacat hukum dan tidak sah? Saya tidak hendak mendiskusikan dalam tulisan ini. Tetapi yang patut dicatat, bahwa Pemiu Presiden kali ini mengalami cacat bawaan.

Hitung Cepat Hanya Wacana

Apakah sudah saatnya sekarang Mega dan JK mengucapkan selamat kepada SBY? Tentu saja tidak masalah. Ada sisi positif yang patut dijadikan pelajaran, bahwa secara mental baliau-baliau sudah menyiapkan diri menjadi kandidat yang kalah dan mengakui kekalahan. Lagi-lagi asas formalnya yang dipertayakan, selama belum ada pengumuman resmi KPU, maka presiden definitif belum terpilih, dan segala kemungkinan bisa terjadi Artinya pihak pemenang dalam Pemilu 8 Juli lalu belum final karena hanya KPU yang berwenang memutuskan presiden terpilih. Silahkan saja kalau lembaga survei melakukan hitung cepat. Silahkan lembaga survei membuat kesimpulan bahwa SBY adalah presiden terpilih dengan perolehan suara sekitar 60%. Semua ini hanya sekedar wacana akademis dimana survei hanya untuk memperkaya khasanah keilmuhan yang didasarkan pada ilmu pengetahuan.

Yang menarik untuk digaris bawahi bahwa survei ini didasarkan pada ilmu pengatahuan statistik yang valid dan scientist. Setiap orang bisa melakukan dan hasilnya akan sama apabila dilakukan dengan metode yang sama. Buktinya semua lembaga survei menghasilkan kesimpulan yang sama, pemenangnya adalah SBY, dengan akumulasi suara mencapai 60%. Lebih meyakinkan lagi, ternyata SBY mendapatkan sebaran suara lebih dari 23 propinsi melebihi 20%. Ini artinya survei bukanlah laporan abal-abal yang bisa dibuat tanpa metode sahih. Nah, sekarang apakah Capres dan tim suksesnya mempercayai  produk ilmu pengetahuan atau tidak?

Saya yakin dan kita semua juga percaya dengan produk ilmu pengetahuan, sehingga tidak akan menjadi pandir apabila hasil perhitungan quick count kita percayai. Tapi tetap saja patokan hasil Pemilu adalah perhitungan manual KPU, dan untuk itu diperlukan waktu sebulan. Semoga KPU dapat menuntaskan rekapitusasi ini dengan baik. Bagaimana dengan tolerasi error bisa mencapai 1 sampai dengan 5 persen? Perlu waktu panjang untuk menjelaskan error term yang selalu muncul dari metode statistik, tetapi begitulah yang lazim dihasilkan dari metode ini.

Apakah Ibu Mega dan Bapak Jusuf Kalla akan memberikan ucapan selamat kepada SBY? Walaupun ke depan kita semua tidak tahun persis yang akan terjadi, saya masih yakin bahwa beliai-beliau akan berlapang dada dan memberikan selamat kepada SBY. Jadi masalahnya adalah waktu. Mungkin bukan sekarang karena proses perhitungan manual masih berlangsung. Artinya proses Pemilu Presiden belum berakhir, tetapi pada saat hasil Pemilu diumumkan saya yakin Capres yang kalah akan menerima dengan lapang dada.

Tim Sukses Harus Legawa

Sebagai tim sukses tentu saja ingin menunjukkan hasil yang gemilang di hadapan Capres-Cawapres yang diusung. Tetapi pemanang adalah satu, yang menjadi presiden hanya satu orang, oleh sebab itu kalah dan menang pasti akan terjadi. Apakah dengan kekalahan ini segalanya telah berakhir? Kalau kita percaya dengan keberhasilan memang berkaitan dengan waktu, maka ada kemungkinan ke depan calon yang kalah akan memang di masa yang akan datang.

Ada fenomena yang agak menggelitik pada hari H pencontrengan. Di TVOne LSI melakukan tabulasi secara on line. Walaupun data yang masuk mencapai 70 persen dengan sebaran data relatif merata, pimpinan LSI berani menyimpulkan bahwa SBY-Boediono sebagai pememang satu putaran. Memang LSI memiliki pengalaman cukup dalam hal ini, tetapi kesimpulan yang dilakukan terlalu berani. Menjelang sore hari, semua data sampel masuk dan dinyatakan 100 persen komplit, and the winner is SBY.

Sementara itu Lembaga survei tidak mau ketinggalan, mereka mengumumkan hasil quick count on line di MetroTV, Trans 7 dan RCTI. Hasilnya sama, SBY bertengger di papan teratas  Pada umumnya semua lembaga survei hasilnya seragam, sehingga mereka berani membuat kesimpulan bahwa Pemilu berlangsung satu putaran dan penemangnya adalah SBY-Boediono.

Statement ini langsung mendapatkan perlawanan keras dari tim sukses lainnya. Bahkan karena terlalu emosional, mereka cenderung menyalahkan rakyat. Rakyat tidak rasional, rakyat salah pilih, rakyat tidak bisa memilih dan seterusnya. Jelas pernyataan ini melawan arus, karena rakyat Indonesia telah dewasa berdemokrasi.

Selamat Kepada Rakyat Indonesia

Selamat kepada SBY-Boediono, “Congratulation, now you are my president”. Sambil menunggu pengukuhan hasil KPU, rakyat Indonesia patut mendapatkan selamat dari para Capres-Cawapres. Apakah mereka memilih anda atau tidak, rakyat Indonesia telah berpartisipasi dengan santun dan elegant. Hasilnya adalah Pemilu damai jujur dan adil. Sekali lagi Selamat kepada SBY-Boediono, Selamat kepada seluruh rakyat Indonesia.

Satu Tanggapan

  1. Ternyata, untuk mengucapkan selamat pun perlu belajar …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: