BAYARLAH TARIF TOL MOBIL BELAKANG

Oleh : Jaiman Paiton

300Sand Dunes, Central Africa

Coba anda baca cerita ringkas ini:

Setiap minggu malam aku melakukan perjalan pendek dari Pasar Loak-Dupan menuju Bungurasih. Aku biasa naik bus kota jurusan Jembaran Merah-Dupak-Tol-Medaeng-Bungurasih. Perjalanan dari Dupak-Bungur cukup singkat, dapat ditempuh selama 20 menit atau kurang.

Naik ke dalam bus, suasana terasa beku. Masing-masing penumpang yang memenuhi semua kursi saling diam hanyut dalam pikirannya masing-masing. Sebagian yang lain bercakap dengan teman yang telah dikenalnya atau memainkan hp. Sebagian yang lain membisu sambil membuang arah pandangan ke luar mengamati mobil yang lalu-lalang keluar masuk tol. Aku duduk di sebuah seat kosong di bagian tengah. Seorang bapak dewasa duduk diam sambil mendekap tas hitamnya yang lusuh. Penampilannya sangat sederhana, dia sempat mengembangkan bibirnya pada saat aku minta ijin duduk di sampingnya. Tidak ada basa-basi diantara kami, aku diam sambil pikiranku memikirkan pekerjaan esok pagi yang selalu penuh kesibukan.

Hampir semua penumpang terdiam, sebagian lagi ber-sms ria, hanya suara angin dan raungan mesin yang memenuhi telinga kami. Seorang kondektur datang untuk menarik ongkos. Aku keluarkan uang pecahan besar, sambil mengatakan “Dua orang pak, sama bapak ini” sambil kuarahkan telunjuk tanganku ke samping kiri. Tiba-tiba dia terperanjat lalu memandang saya sambil mengatakan “Terima kasih Mas”. Hatiku berbunga-bunga sambil melebarkan senyum saya membalas “Sama sama Pak”. Setelah itu kami saling memperkenalkan diri dan bicara ringan seputar perjalan kami. Ternyata bapak ini sangat ramah. Dia seorang tukang becak yang kesehariannya mangkal di Terminal Jembatan Merah. Dia biasa pulang ke kampung halamannya, Lumajang sebulan sekali, tetapi hari itu dia terpaksa pulang lebih awal karena istrinya sakit. “Saya turut prihatin, mudah-mudahan istri bapak cepat sehat kembali, amin”.

Sungguh aku sangat bersyukur bisa berkenalan dengan orang baik seperti dia. Hari itu dia sangat bersedih, terlihat dari raut wajahnya. Perjalanan 20 menit berlangsung sangat singkat dan kami harus berpisah di Bungurasih untuk melanjutkan perjalan kami masing-masing.

Di atas bus antar kota aku masih memikirkan bapak tadi. Jauh-jauh dari Lumajang ke Surabaya untuk mencari nafkah. Perjuangan hidup yang sangat hebat, saya kagum dengan semangat hidupnya. Untuk sebuah kehormatan keluarga dia rela berpisah dengan keluarga. Sebelum turun dia juga sempat menceritakan tiga anaknya yang sehat dan sedang duduk di bangku sekolah. Terlihat sekali dari ucapannnya, dia bangga dengan anaknya yang sulung karena selalu menjadi juara kelas. Aku juga antusias mendengar ceritanya.

Masih terngiang di dalam hatiku, “Untung tadi kumembayar ongkos busnya, hingga aku mendapatkan pelajaran berharga hari itu”.

Dua manfaat langsung yang saya rasakan dari membayar ongkos bus orang seperjalanan:

Pertama, saya mendapatkan teman dalam perjalanan, sehingga rasa bosan dan bete lenyap ditelan waktu.

Kedua, aku merasakan nikmatnya bersedekah. Memang kecil nilainya, tetapi yang kecil ini memberikan manfaat langung pada orang lain. Beruntunglah anda yang suka bersedekah, Sejak kejadian itu saya suka sekali membayar ongkos bus trman satu deret. Indahnya hari itu bisa meringankan beban orang lain.

Kalau anda kebetulan sedang menumpang bus kota, sempatkan membayar ongkos teman satu deret. Anda akan mendapatkan surprise hari itu, minimal hatimu merasa senang karena meringankan beban orang lain. Saya berangkat ngantor naik mobil pribadi. Ada jalan untuk bersedekah hari ini. Sempatkan megeluarkan uang kecil untuk membayar tarif tol mobil dibelakang anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: