SEORANG IBU PEMULUNG DAN ANAKNYA

Oleh : Jaiman Paiton

helena

Sore itu aku lihat seorang ibu paruh baya menarik gerobak sebagaimana yang sering digunakan tukang sampah keliling di kampung kami. Dengan mengenakan pakaian lusu warna gelap dia menarik gerobak dengan susah payah. Terlihat nyata dia sangat lelah karena sepanjang siang ini, udara Surabaya sangat panas. Sebuah topi lusu berwarna merah yang dia kenakan tidak banyak membantu kepala dari sengat sinar matahari yang mencapai 35 derajat. Di sebelah kanan terlihat tongkat besi yang ujungnya lancip melengkung seperti sabit. Itulah alat yang biasa digunakan pemulung sampah di kota Surabaya. Di atas gerobak yang tingginya sekitar satu setengah meter itu berdiri seorang anak laki sekitar 5 tahun yang menyaksikan orang-orang yang berlalu lalang dengan mengendarai sepeda motor. Tidak ada senyum diantara mereka, bahkan terdengar sekali-kali suara keras dari si ibu kepada anaknya untuk duduk. Dasar anak kecil, pada saat mendengar perintah ibunya dia langsung duduk, kemudian berdiri lagi setelah kata-kata itu tidak terdengar lagi.

Setelah menempatkan gerobak di pinggir jalan, dia memerintah anaknya tetap diam di dalam gerobak. Tangannya memegangi kepala anaknya sambil menekan ke bawah. Sepertinya dia sudah paham benar dengan maksud ibunya, dia langsung menundukkan kepakanya dan duduk di dalamnya. Setelah itu, diambilnya tongkat pengais sampah yang tergantung di samping gerobak agak ke depan. Dengan tongkat itu, dia mengais-ngais ba sampah yang ada di depan rumah. Wajahnya lusuh, tidak ada senyum. Yang ada hanya cucuran keringat di sekujur tubuhnya. Dia kecewa, dari beberapa bak sampah yang dikais, dia tidak mendapati apa yang diinginkan.

Sambil melangkah gontai, dia menuju gerobaknya. Setelah mengantungkan tongkat pengais pada tempatnya, dia menari kembali gerobak yang setia menemani sepanjang hari. Lagi-l;agi dia bersuara keras kepada si kecil memerintahkan supaya dia duduk saja. Entah apa yang dirasakan anak ini, mungkin di berokan ini berisi sampah yang berbauh busuk sehingga dia berusaha mengeluarkan kepalanya sedemikian rupa supaya terbebas dari bau busuk.

Perjuangan ibu yang sangat berat. Entah apa yang terjadi pada ibu pemulung ini. Mungkin suaminya sakit sehingga dia harus mengantikan suaminya untuk mencari nafkah. Atau mungkin suaminya telah tiada, atau mungkin dia ada kondisi tertentu yang tidak saya ketahui dengan segala keterbatasan.

Itulah hidup manusia, kadang hidup adalah pilihan sulit. Apa yang kita inginkan berbeda dengan kenyataannya. Ada orang yang sangat kaya kara hingga nilainya mencapai triliunan rupiah, memi;iki pesawat jet pribadi, rumah mewah di pulau mandiri, memiliki perusahaan jejaring internasional, liburan ke bulan dengan biaya 10 miliar. Demikianlah kenyataan dunia. Kaya dan miskin adalah realitas. Di mana posisi kita pada saat itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: