GOLKAR TERSINGGUNG, CERAIKAN AJA DEMOKRAT

Oleh : Jaiman Paiton

artis72

Golkar mulai bermain keras. Pernyataan Sekjen Partai Golkar,  Soemarsono Rabu, 22 April 2009 yang menyatakan bahwa partainya tidak menemukan titik temu dan visi dengan Partai Demokrat adalah trik politik. Kasat mata, Golkar melemparkan sinyal akan berpisah koalisi dengan Demokrat. Golkar merasa tersinggung dengan 5 syarat yang disampaikan dalam konferensi pers beberapa hari lalu. Pertama syarat loyalitas terhadap presiden. Bahwa Wapres adalah pembantu presiden sesuai dengan amanat UUD 45, oleh sebab itu wapres tidak perlu berlagu seperti yang dilakukan Jusuf Kalla selama ini. Intinya SBY mau menegur JK kalau masih ingin mendampingi SBY, you jangan berlagu. Jadilah wapres yang manis dan manut saja. Hal ini wajar sekali karena beberapa waktu lalu Syafii Ma’arif, mantan Ketua Umum Muhamaddiyah melemparkan statement bahwa “JK is the real president”. Tuh, apa gak panas nih kuping SBY dengan pernyataan itu.

 

Faktor kedua yang menyebabkan Golkar tersinggung adalah Tim Sembilan bentukan Partai Demokrat menginginkan calon wapres yang diajukan oleh Golkar lebih dari satu. Beberapa fungsionaris Golkar langsung angkat bicara dengan galaknya, “ini namanya intervensi. Golkar tidak mau didikte”. Wah makin panas nih.

 

Apa sih yang menyebabkan Demokrat ngotot bahwa capres yang diajukan Golkar harus lebih dari satu? Jawabannya sederhana, JK tidak marketable. JK tidak punya daya jual di mata rakyat. Kalau kita lihat kembali hasil survey lembaga independent beberapa bulan menjelang Pimilu Legislatif beberapa bulan lalu. Populeritas JK hanya 3 persen, jauh dari Sultan yang hampir menyentuh 10 persen. JK juga kalah dengan Prabowo dan Megawati yang bertengger pada kisaran 15 persen dan 10 persen. Jadi dengan meminta calon lebih dari satu, Demokrat bisa mendapatkan dua keuntungan langsung, yaitu wapres yang patuh pada presiden dan lebih populer. Tapi kayaknya Golkar tersinggung, ya sudah silahkan menempuh jalan lain.

 

Sebenarnya sangat disayangkan sikap Golkar yang mudah tersinggung. Golkar sebagai partai tertua dan dewasa seharusnya tidak tersinggung. Politisi Golkar yang sudah menginjak rentah mulai tidak menggunakan akal sehat. Sikap emosional ini sebenarnya adalah akumulasi dari hasil Pemilu Legislatif yang tidak sesuai dengan harapan. Sebagai masyarakat awam saya menilai bahwa target 30 persen memang sangat ngakik. Golkar tidak mengaca pada performance-nya yang main suram.

 

Benarkah Golkar ingin pisah ranjang dengan Demokrat? Menurut hemat saya ini adalah trik. Golkar untuk menggertak Demokrat, “You memeng pemenang Pemilu Legislatif, tapi jangan mentang mentang dong”. Sejatinya Golkar masih tetap ingin mesrah dengan Demokrat, dan motivasinya tetap di pemerintahan. Apapun alasannya masuk di pemerintahan lebih banyak keuntungannya. Lihat saja Demokrat. Setelah 5 tahun memerintah, perolehan suaranya berlipat 3. apa gak ngiler tuh Golkar.

 

Apakah Golkar bisa jadi oposisi? Sejarah menunjukkan baha Golkar tidak bakat menjadi oposisi. Mulai Orde Baru, Golkar telah memerintah puluhan tahun. Golkar merasa nyaman duduk dalam pemerintahan. Jadi kalau tahun ini Golkar memutuskan pisah dengan Demokrat dan nyalon preseden sendiri maka pilihannya makin jelas. Kalau kemudian calonnya tidak jadi, Golkar bisa memposisikan diri sebagai oposisi. Tapi sayang kader Golkar sebagain besar uzhur dan kurang punya semangat juang, so masih lebih enakan jadi pejabat, betul nggak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: