JADI BURUH, MISKIN SELAMANYA

Oleh : Jaiman Paiton

artis9

Gaji rendah merupakan masalah paling besar yang menyelimuti dunia perburuhan di banyak negara. Sepertinya cerita ini adalah trailer kisah buruh sepanjang masa. Sama seperti mengangkat legenda revolusi industri yang menyebabkan terciptanya dua kutub nyata antara dua kepentingan.

Majikan berkepentingan meningkatkan produksi sebanyak-banyaknya dengan biaya tenaga kerja tertentu. Buruh di satu sisi membutuhkan penghasilan yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pada saat gaji buruh mengalami kenaikan, kebutuhan barang dan jasa langsung meningkat. Lebih buruk lagi ternyata gaji yang diterima buruh adalah bulan depan tetapi kenaikan harga terjadi saat ini juga. Bagaimana mungkin derajat hidupnya bisa meningkat?

Buruh adalah manusia yang memberikan tenaga untuk memproduksi barang/jasa di tempat kerja yang dimiliki oleh pemilik modal. Buruh seperti ini adalah tenaga kasar (blue coral worker) yang fokus pekerjaannya mengandalkan tenaga otot. Karena hanya menggunakan tenaga fisik, hasil produksinya juga relatif sedikit, wal hasil penghasilan juga tidak banyak. Lain lagi dengan tenaga kerja yang memiliki skill tertentu (skill labor), misalnya para manager lulusan dari perguruan tinggi bergengsi.

Buruh akan miskin selamanya, benarkah demikian? Sebuah buku tentang financial planner di susun oleh Safir Senduk menggagas perbaikan nasib buruh dengan cara membuat perencanaan keuangan untuk buruh. Menarik untuk menyikapi saran Senduk, bahwa seorang buruh bisa mentas dari jerat kemiskinan yang membelenggu turun temurun asalkan melakukan perencanaan keuangan terbaik. Bukan masalah besar kecilnya gaji bulanan yang masuk ke kantong buruh, melainkan pola hidup yang harus ditata sedemikian rupa sehingga ke depan nasib keuangan buruk tidak suram.

Kata Safir kuncinya adalah minimum 10 persen dari penghasilan harus digunakan untuk saving. Semakin besar komposisi untuk tabungan semakin bagus hasil yang akan dicapai. Masalahnya adalah gaji bulanan mereka sudah dianggarkan 40% untuk cicilan utang, sepeda motor, perabot rumah tangga, utang di koperasi, cicilan bank dan seterusnya. Gaji hanya numpang lewat di kantong tidak kurang dari 24 jam. Mereka tidak menggunakan rekening bank untuk menampung gaji, eh… ginama punya tabungan, wong gaji mingguan saja habis sehari saja.

Benarkan 10 persen bisa merubah nasib mereka? Penghasilan saya UMR, saya menanggung hidup keluarga dengan dua anak.coba anda bayangkan, betapa besar pengeluaran yang harus saya tanggung sementara penghasilan hanya dari gaji bulanan yang stagnan sepanjang masa. Tuan Safir… kami masih bingung tidak habis pikir bagaimana caranya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: