Tuh, Pak Becak Aja Poligami…

Oleh : Jaiman Paiton

221845white-sands-new-mexico

Cerita yang sering kami dengarkan di daerah Probolinggo adalah kasus poligami. Seorang kyai memiliki istri dua, tiga atau empat. Bahkan beberapa waktu lalu seorang teman bercerita bahwa tetangganya yang menjadi pengasuh Ponpes kecil kelas kampung beristri empat. Keempat istrinya tinggal di satu rumah dan hidup rukun. Bahkan kalau menghadiri kondangan manten dan pengajian keempat istrinya diajak. Mereka rukun-rukun saja, mereka juga berseragam sarimbit seperti kakak beradik.

Gimana, heran kan? Bukan hanya itu, tukang becak yang mangkal di depang kompleks perumahan kita juga beristri dua. Waktu kami coba tanya kepada dia, gimana caranya mengatur kedua istrinya supaya rukun. Dengan tenang saja dia menjawab, “ Biasa saja Pak. Kalau saya ada uang saya beri belanja, tapi kalau gak ada hasil, dia bisa kerja di sawah”. “Lho Pak memang keduanya tidak pernah berantem?” ‘Namanya orang. ya pernah Pak, tapi gak pernah sampai pukul-pukulan. Paling banter Cuma ngambek dan diam saja”.

Kedua cerita ini menarik, apalagi bagi para kaum Adam yang bisa dikatakan berpenghasilan cukup mapan. Pertanyaan yang sering kami lemparkan kepada teman adalah “Tuh, Pak Dhi, tukang becak di depan kompleks aja istrinya dua”. Kalau sudah demikian, kami akan diskusi makin serius. Dalil-dalil naqli dan aqli muncul bertubi-tubi. Kemudian kami saling melempar tantangan, “Oyo tunggu apa lagi. Contohnya sudah jelas ada, dalilnya pasti sah, gaji lebih dari cukup, so, ha ha ha…apa lagi?”.

Masalahnya bukan mampu secara ekonomi tetapi kami takut tidak bisa berbuat adil. Mendengar statemen begini, teman lain langsung merespon. “Urusan adil sih manusiawi dan biasa saja. Masalah berbuat adil bukan sesuatu yang mustahil. Kalau tidak mungkin terjadi kenapa Tuhan membenarkan poligami? Nah, ini artinya berbuat adil itu mungkin dan bisa dilakukan oleh banyak orang, ok? Semua orang juga bisa karena Nabi juga seorang manusia, nah kita juga bisa, gimana, sepakat?”.

Kami kembali dibuat gamang. Tetapi kalau nambah lagi, anak-anak dan istri yang sekarang gimana? Apa mereka bisa terima, apakah anak-anak menjadi marah, keluarga yang lain gimana dan seterusnya?. Akhirnya kami tidak mendapati kata sepakat dan wacana mandeg tanpa kesimpulan dan tindak lanjut. Tanpa terasa waktu istirahat sudah habil, jam menunjukkan pukul 13:00 WIB, kami kembali bekerja dan larut dalam ritual rutin tanpa akhir. Kami bekerja kembali dan melupakan materi diskusi yang muncul tenggelam silih berganti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: