Mengapa Ekonomi Kapitalis Gagal Lagi?

Oleh : Jaiman Paiton

ashley271280x960

Sekali lagi, ekonomi kapitalis mengalami ujian super berat sehubungan dengan krisis keuangan yang dialami Amerika saat ini. Beberapa pakar membuat analisis cukup berani dengan mengatakan bahwa krisis kali ini akan lebih hebat dari great depression tahun 30-an. Pada saat itu banyak orang frustasi dan mencela aliran kapitalis main stream yang dianggap gagal. Bahwa ekonomi pasar yang akan menyesuaikan sendiri kendala ekonomi tidak terbukti. Harapan resources didistribusikan secara efisien (full employment) ternyata dimainkan spekulator yang makin kejam bagai tikus-tikus pengerat.

Mengapa ekonomi kapitalis gagal? Bagaimana solusi jangka panjangnya?

Beberapa pakar ekonomi menekankan bahwa yang perlu dipertanyakan adalah bukannya mengapa timbul krisis keuangan, tetapi yang lebih tepat adalah kapan krisis akan terjadi? Artinya krisis semacam ini akan selalu terjadi dan akan berulang lagi pada masa-masa yang akan datang. Akhirnya pemerintah harus campur tangan . Apa boleh buat, apabila hal ini tidak dilakukan, rakyat menderita berkepanjangan Mari kita kupas beberapa fenomena berikut, mengapa sistem kapitalis tidak bisa lepas dari krisis sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, yaitu 1923, 1930, 1940, 1970, 1980, 1990, dan 1998 – 2001.

1. Pertama, prinsip dasar ekonomi kapitalis adalah tidak ada campur tangan pemerintah (less regulation). Dasar ekonomi kapitalis paling mula-mula dicetuskan oleh Lazandra pada awal kebangkitan ekonomi Perancis abad pertengahan. Dia mengatakan “laissez faire”, (biarkan terjadi). Menurut penganut psiokrat di Perancis abad ke-18,, perekonomian harus dibiarkan berkembang sendiri sesuai dengan keinginan pasar. Antara produsen dan konsumen akan melakukan tugas sesuai dengan keinginanya (spesialisasi). Produsen boleh menjual apa saja asalkan diterima oleh konsumen, dan sebaliknya konsumen boleh memilih apa saja produk yang dinginkan. Dengan sistem ini diharapkan pasar akan menemukan harga keseimbangan (price equilibrum) jangka panjang yang bersifat stabil (full employment). Al hasil, kemakmuran bagi semua adalah cita-cita bersama ekonomi pasar ala kapitalis kejadian great depression tahun 30-an adalah pukulan terberat bagi sistem ekonomi kapitalis. Pelaku ekonomi meragukan kehandalan sistem ini terhadap bencana yang tiba-tiba menghantam keras, inflasi, pasar modal drop, kepercayaan terhadap institusi keuangan hilang, pengangguran yang akhirnya memicu kemiskinan. Mengapa sistem pasar bebas gagal menjalankan tugasnya? Hal ini semata-mata karena manusia memiliki kecenderungan rakus (greedy). Dengan usaha sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan tertentu menyebabkan manusia melakukan beberapa upaya curang untuk mengejar keuantungan maksimum. Di US orang-orang yang tidak memiliki kecukupan financial diberikan kredit perumaham (supreme mortgage), wal hasil sebagian dari mereka tidak mampu bayar sehingga berdampak pada kinerja lembaga kredit. Lehman Brothers tumbang, AIG sekarat, Merrill Lynch almarhum dan masih banyak lagi pasien lembaga keuangan US yang menunggu di ruang ICU.

2. Kedua adalah ketidak seimbangan antara sektor moneter dan sektor riil. Adalah tidak fair apabila orang mendapatkan imbalan yang besar manakala dia tidak produktif. Penghargaan pada pemilik modal yang didasarkan pada resiko adalah naif. Semakin besar resiko yang ditanggung pemilik modal semakin besar pula imbalan yang diberikan kepadanya dan sebaliknya. Di sinilah dasar-dasar ekonomi spekulasi disandarkan, sehingga para spekulen yang rakus kemudian melakukan perbuatan culas ala tikus penggerogot yang melakukan tindakan tidak terpuji dan mubazir. Di pasar uang dia menghembuskan isu-isu tidak sedap untuk membolak-balih nilai tukar. Al hasil negara-negara yang ekonominya fragile terhadap kurs valas seperti Indonesia menerima dampak buruknya. Di pasar saham, mereka mengembuskan berita miring ala tayangan show celebrity untuk “menggoreng” saham. Dalam waktu sekejap mereka mendapatkan keuntungan supernormal, padahal mereka tidak menciptakan lapangan kerja atau nilai tambah yang signifikan sama sekali, apakah ini adil?

3. Ketiga, adalah pemerintahan yang rakus dan sombong ala George Bush. Akibat perang Irak dan Afghanistan US mengeluarkan anggaran sangat besar. Bahkan defisit APBN US defisit anggaran negara mencapat US 4 triliun, yaitu nilai defisit terbesar sepanjang sejarah Amerika. Dengan anggaran defisit sebesar ini, pemerintah terpaksa mencari sumber dana tambahan dari pinjaman lembaga internasional atau surat utang dalam negeri. Uang sebesar ini hanya menjadi pembiayaan tidak efisien, bahkan bisa dikatan mubazir untuk sebuah ambisi sahwat seorang penggila perang seperti George Bush. Sekali lagi masyarakat dunia, khususnya rakyat US menjadi tumbal nafsu Bush.

Bagaimana dengan Indonesia?

Dalam tataran dunia, Indonesia termasuk ekonomi kecil dibandingkan dengan negara-negara maju dan macan Asia lain seperti Malaysia atau China. Kurs rupiah sangat rentan terhadap permainan spekulan yang ingin mendulang currency swap secara cepat. Kalau kita amati pergerakan rupiah terhadap USD. Fluktuasi kurs ini mengalami pergerakan tidak stabil. Dalam satu minggu rupiah bisa turun sampai 500 poin bahkan 1000 poin. Walaupun pemerintah melakukan intervensi sekuat tenaga, usaha ini tidak akan berhasil banyak apabila fondasi ekonomi kita memang rapuh.

Menyandarkan mata uang pada USD adalah makan buah simalakama, apabila diteruskan menyababkan kurs rupiah makin terpuruh, sementara itu meninggalkan USD menjadi pilihan dilematis karena ekspor kita sebagian besar masih ke US. Semua nilai ekspor masih menganut sistem mata uang dollar. Sebagian besar perusahaan Asing dan BUMN melakukan transaksi dengan LN dengan dollar, dan yang tidak boleh dilupakan adalah hutang kita ke lembaga donor adalah USD, lalu mau apa lagi?

Apakah ekomoni kita bakal tamat dengan jatuhnya Amerika sebagai kampium ekonomi paling perkasa di muka bumi? Bisa jadi ya, apabila Indonesia tidak melakukan peruahan revolusioner dalam sistem keuangan makro dan mikro. Tidak ada salahnya melakukan switching pada matang uang kuat kedua di dunia yaitu EURO yang nilainya terus meroket dengan mantap.

Bagaimana mengatasinya?

Cerita lama berulang kembali, sebagaimana yang pernah terjadi pada great malaise tahun 30-an. Pemerintah harus turun tangan untuk menyelesaikan masalah ini. Instrument fiscal pernah menjadi majarab untuk mengobati krisis ekonomi besar. Pemerintah bisa mengeluarkan anggaran lebih untuk menggairahkan sektor ekonomi dalam negeri yang berbasis internal resources.

Yang pasti, dampak krissi paling nyata adalah PHK yang dilakukan olek perusahaan yang mengandalkan eksport ke US dan negara eropa. Diperkirakan tidak kurang dari 700 ribu pegawai kehilangan pekerjaan akibat krisis global akhir-akhir ini. Sektor apa yang memiliki kandungan local (factor endowment) dominan? Sektor perikanan adalah salah satu sektor yang paling nyata factor endowment-nya. Tambang dan perkebunan juga memiliki kesamanan sumber daya, jadi tidak akan pandir kalau teori ekonomi yang dibangun mengandalkan keunggulan kandungan resources.

Fenomena menarik yang berkaitan dengan upaya membendung dampak krisir juga didekati dengan kebijakan perpajakan. Dikeluarkannya insentif pajak pada sektor pertanian, perikanan dan manufaktur menjadi nafas baru yang dapat memperpanjang gerak ekonomi dalam negeri. Kita tunggu hasilnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: