SOPAN DI JALAN

Oleh : Jaiman

115711lakes2

Pagi ttu aku naik sepeda motor mengantar anakku ke sekolah. Jalanan becek di sana-sini, genangan airnya juga mengenangi lobang-lobang jalan yang makin rapuh. Pasti tadi malam hujan sangat deras. Untuk menghindari cipratan air aku mengendarai sepeda motor dengan kecepatan sedang di bawah 40 km per jam. Tiba-tiba dari arah berlawanan sebuah sedan cukup mewah melaju dengan kecang “crooottt” air menganai celana dan baju. Baju anakku yang berwarna putih juga tidak luput dari cipratannya. “Kurang ajar, setan…” Dia menangis, karena baju seragam kesukaanya kotor.

Aku marah dengan orang itu. Begitu sombongnya dia mengendarai mobil sampai membuat orang lain mengalami kesusahan. Bahkan aku sempat berpikir, “Kalau saja aku dapat mengejarnya pasti akan aku lempar saja dengan batu mobilnya, biar kapok. Memengnya dia saja yang bisa melakukannnya? Ok, aku juga punya, aku akan balas dendam, aku juga bisa melakukannya, bukankan di rumah juga ada mobil? Entar kalau ada genagan air, akan aku gencet biar orang-orang bisa menderita seperti yang aku alami dengan anakku”. Akhirnya dengan bujukan, dia mau masuk sekolah.

Minggu pagi aku, istri dan anak-anak pergi ke mal untuk berlibur. Kebetulan semalam hujan cukup deras. Ini kesepatanku untuk membalaskan kejadian beberapa hari lalu. Di depan ada genangan air cukup banyak dan ada beberapa orang yang mengendarai sepeda motor. Tiba-tiba melintas dari adah berlawanan sepeda motor tahun 90-an dengan empat orang di atasnya melaju dengan kecepatan sedang. Sepertinya dia sengaja memacu kendaaannya dengan kecepatan rendah untuk menjaga baju dan keselamatan anak-anak dan istrinya dari cipratan air. “Pa pelan, lihat tuh ada anak lucu digendong papanya di depan, persis kayak anak kangguru yang masuk di kanong ibunya. Tuh kepalanya nonggol begitu, lucu sekali ya”. Seketika aku dan anak-anak melonggok ke arah pengendara sepeda motor di samping kanan. “ O ya Pa, tuh lihat wajahnya kayak boneka barbie”. Seketika niatkuu untuk balas dendam sirna. Aku melihat betapa bahagianya keluarga itu, sama dengan yang kami rasakan. Betapa susahnya mereka apabila keluarga yang bahagia ini terciprat genangan air karena ulahku”. Aku malu dengan keluargaku tercinta, aku takut apabila Tuhan marah, dan seterusnya. Dalam hati bergejolak, “Bagaimana apabila mereka marah kemudian berdo’a sesuatu keburukan untukku dan Tuhan mengabulkannnya”. Stop… aku tidak akan berniat dendam”

Akhirnya aku memutuskan dalam hati, “Aku tidak boleh mengendara mobil dengan arogan”. Kalau aku dendanm dengan kejadian beberapa hari lalu, kemudian melakukannya kepada orang lain, berarti aku sama buruknya dengan dia. “Tidak, aku tidak akan melakukannnya, aku ingin berbuat baik kepada orang lain. Kalau perbuatan baikku disukai orang lain kemudian orang lain melakukan hal yang sama, bukakan ini menjadi perilaku terpuji. Pay it forward ” sejak itu aku mengendarai mobil dengan cara yang baik. Bukan hanya pada saat hujan, melainkan kapanpun dan dimanapun. Di permepatan traffic light, palang pintu kereta api, rambu-rambu lalu litas dan kecepatan kusesuaikan dengan cara mengemudi yang baik dan safety. Inilah cara untuk aman dan sopan di jalan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: