Orang Miskin, oh..Miskin…!

Oleh : Jaiman Paiton

madonna

Kemiskinan (poverty) selalu menjadi topik manarik untuk dibahas, terutama di negara-negara berkembang (developing country) seperti Indonesia. Makin menarik karena fenomena orang miskin bisa dijadikan alat oleh penguasa bermanuver untuk mempertahankan kekuasaan. Pada jaman Oder Baru, kemiskinan menjadi jargon kunci. Pemerintah memasukkan program pengentasan kemiskinan sebagai agenda besar dan diekspose massal, tetapi tidak pernah ada hasil yang signifikan. Yang miskin tetap miskin yang kaya makin kaya.

Analisis yang logis dan layak menunjukkan bahwa masalah kemiskinan dan kebodohan sengaja diciptakan di negeri kita tercinta oleh Orde Baru untuk mengkondisikan rakyat “manut lan nrimo ing pandum”. Rakyat sengaja dibiarkan bodoh dan miskin supaya tidak kritis atau rakyat tidak akan melawan penguasa. Rentetan sebab akibat yang logis dan terbukti rezim ORBA mampu mempertahankan kekuasaan lebih dari tiga dasawarsa.

Benarkan orang miskin akan manut dan Pemerintah membiarkan penduduknya tetap miskin dengan harapan mereka tidak protes atau memberontak? Demikianlah yang , sementara itu dalam waktu yang bersamaan harga sembako dijaga terkendali, subsidi BBM dan listrik dipertahankan seolah-olah mereka menikmati hasil pembangunan.

Menjelang Pemilu 2009 Parpol tidak mau tinngal diam, mereka juga mengusung tema kemiskinan sebagai materi kampanye untuk menarik simpati pemilih. Jelas ini adalah lagu lama, dan senyatanya tidak ada bukti bahwa sesungguhnya mereka tulus memperjuangkan nasib wong cilik yang tidak pernah diuntungkan. Kalau anda melihat tayangan iklan Parpol, seperti Gerindra, Hanura, PDI-P, Partai Demokrat, Golkar, mereka mengangkat tema yang sama dari tahun ke tahun, dari Pemilu ke Pemilu. Program Parpol selalu sama yaitu, Pendidikan, kesehatan, Sembako murah, pengangguran, pertumbuhan dan yang tidak lupa adalah pengentasan kemiskinan. Hal ini yang menunjukkan bahwa, antara Parpol satu dengan lainnya tidak bisa dibedakan alias sama saja, lantas mau milih yang mana? Bahkan untuk menunjukkan bahwa pemerintah telah peduli pengentasan kemiskinan dibuatlan batasan-batasan yang menguntungkan penguasa, sehingga data yang dipublukasikan terlihat menggembirakan.

Dalam survei Ekonomi dan Sosial Nasional (SUSENAS) 2005, pemerintah menetapkan batas kemiskinan dengan menggunakan jumlah pengeluaran perkapita perbulan sebesar Rp 152.847. Dengan iindikator ini tercatat sebanyak 39,05 jutatau sebesar 17,75%. Kalau data kemiskinan ini dibeber selama satu dasawarsa terakhir, sesungguhnya tidak ada perubahan yang berarti. Jumlah dan prosentasenya relatif sama. Misalnya pada SUSENAS tahun 1995, jumlah orang miskin sebesar 34 juta atau 17, 47%, naik dan turun dalam interval kisaran 17 dan 18 persen. Ini menunjukkan bahwa program pembangunan yang dijalankan selama ini tidak menghasilkan pengentasan terhadap kemiskinan. Sekali lagi, yang miskin tetap miskin yang kaya makin kaya.

Fakta lain yang direlease radio BBC menyebutkan bahwa jumlah penduduk miskin tahun 2005 adalah 35 juta, dari 35 juta tersebut 70% memiliki hak pilih dalam Pemilu. Kalau saya sebagai pimpinan partai politik pasti tergiur untuk menggiring mereka masuk dalam gerakan partai saya, begitu kan? Nah ini sangat mungkin terjadi dengan gaya kepemimpinan saat ini. Bantuan BLT 100 ribu perbulan bisa dijadikan alat untuk menarik simpati wong mlarat untuk memilih partai tertentu. Ini sudah terbukti, lihatlah iklan parpol di tv dan media cetak, mereka saling klaim bahwa partainya telah berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi 6% per tahun swasembada beras, anggaran pendidikan dan seterusnya. Sebenarnya ini memalukan, sangat memalukan karena sebagian besar yang telah dia lakukan masih sedikit dari target yang seharusnya dilakukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: