Peduli Anak Yatim dan Fakir Miskin

Oleh : Jaiman Paiton

737633nature_4

Realitasnya bahwa di sekitar kita ada sebagian dari anak-anak kita tersebut hidup dalam kesulitan. Ada yang menjadi yatim piatu, ada yang diterlantarkan orang tuanya, dan ada yang menjadi korban kekerasan sosial yang tidak kondusif. Bahkan anak dari keluarga berekonomi mampu juga mengalami penderitaan yang sama. Ada orang tua yang saling berebut anak setelah cerai. Jalur hukum dan biaya besar dibelanjakan untuk mengejar ambisi pribadi dengan korban anak-anaknya . Egoisme individu telah mengambil hak-hak mereka dengan cara yang kejam dan bathil. Sekali lagi, anak sering kali menjadi obyek penderita yang diabaikan hak dan kasih sayangnya.

Anak yatim adalah fenomena sosial yang nyata di depan mata kita. Sebagian dari mereka ada yang beruntung karena mendapatkan tempat yang layak sehingga dapat menikmati kasih sayang dan kebutuhan materi secara cukup. Sebagian yang lain dari mereka hidup dalam keadaan sulit, dieksploitasi orang yang tidak bertanggung jawab, meminta-minta di jalanan untuk memenuhi kebutuhan hidup, terjerumus di lembah nista, dan menjadi gelandangan tanpa harapan masa depan. Adakah kita menyadarinya, bahwa fenomena ini adalah nyata? Adakah kita telah tergerak hati untuk meringankan beban mereka dengan kemampuan kita?

Kalau kita membuka perintah Allah SWT dalam kitab suci akan mengatahui bahwa umat Islam telah diwajibkan peduli dengan anak yatim dan fakir miskin. Bahwa pengakuan kita sebagau pemeluk Agama Allah ta’ala yang kaffah dipertanyakan lagi apabila tidak memiliki kepedulian terhadap anak yatim dan fakir miskin. Inilah ayat tersebut :

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (QS Al Maa’uun :107, 1-3).

Kalau ditelaah lebih mendalam, firman Allah di atas memberikan sinyalemen bahwa cap pendusta bagi orang yang mengaku ber-Islam sedangkan perilakunya tidak sesuai dengan perintah Allah. Pantasnya mereka disebut pendusta, pembohong besar apabila mengaku sebagai umat Islam padahal dia tidak peduli dengan anak yatim. Betapa banyak anak-anak yatim yang terlantar di sekitarnya, ternyata dia hanya sibuk dengan urusan sendiri, sibuk dengan kepentingan golongannya, sibuk mendapatkan jabatan dan kekuasaan. Rasanya kita tidak perlu tunjuk hidung orang lain. Yang diperlukan adalah tindakan nyata bahwa kita peduli dengan anak yatim, kita membantu orang miskin. Sudahkah itu kita lakukan dengan tangan kita sendiri. Sekarang waktunya dan jangan tunda lagi !!!.

Rasulullah Muhammad SAW, juga menempatkan kedudukan orang-orang yang peduli dengan anak yatim dengan perumpamaan sederhana, sebagaimana diriwayatkan dalam hadist Bukhari. “Aku dan pengasuh anak yatim (kelak) di surga seperti dua jari ini. (HR. Bukhari)”. Dalam riwayat Abu Daud dan Ahmad, “Rasulullah sambil menunjuk jari telunjuk dan jari tengah”. Apa yang dimaksud Rasul dengan menunjuk dua jari yang berhimpitan ini? Tentu saja, Rasul ingin mengajarkan kepada kita betapa tingginya dan dekatnya kedudukan antara Rasul dan orang yang peduli anak yatim. Kalau rasulullah pasti mendapat jaminan surga Allah t’ala, apakah mereka juga mendapatkan tempat itu?. Yang pasti Surga adalah tempat yang tinggi dan terbaik dan menjadi harapan kita semua, kalau kita yakin dengan kedatangan Rasul, pasti menbenarkan juga ucapan dan ajarannya. Bahwa Rasulullah menyebut pengasuh anak yatim kelak di surga sangat dekat, maka dapat pula disarikan bahwa pengasuh anak yatim mendapat jaminan surga dari Rasul. Bukankan kita semua juga indin mendapatkan surga Allah? Ternyata tidak sulit, mari kita peduli dengan anak yatim.

Iklan

3 Tanggapan

  1. mas tulisan bagus sekali..

  2. Hari ini saya merasa sgt berdosa mas…krn siang tadi,ketika sy sdg terburu2 ..dtglah peminta2 yg berusia sktr 12th,dia meminta dg agk memaksa.shingga sy khilaf & mengeluarkan suara dg nada2 yg agk tinggi,lalu dia pun pergi sambil marah.setelah itu sy mlanjutkan perjlanan k rmh & sy mrasa sangat berdosa krn hal itu.ap yg hrs sy lakukan utk menghlangkan rasa berdosa ini? Thx.wassalam

  3. Saya tergolong orang yg miskin.tp berusaha jg untuk mengurusi anak yatim dan duafa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: