Celakalah Para Pedagang Yang Curang

Oleh : Jaiman

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakan atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam (Al Muthaffifin, 83:1-6)

Turunnya surat ini berlatang belakang fenomena yang terjadi umum pada orang-orang yang berdagang. Mereka memanipulasi takaran dengan cara mengurangi takaran atau timbangan, membuat ukuran ganda, menukar dengan cara curang dan seterusnya. Dalam Kitab Terjemah Tafsir Al Maraghi, dijelaskan bahwa pada waktu itu hidup seorang pedagang di Madinah bernama Abu Juhainah. Dia memiliki dua jenis takaran. Pada saat membeli hasil pertanian atau buah-buahan hasil kebun dia menggunakan takaran besar tetapi pada saat menjualnya kembali dia menggunakan takaran kecil.

Bagaimana dengan fenomene di sekeliling kita? Sama saja, banyak sekali praktik dagang curang yang dilakukan oleh para pedagang. Pada musim rambutan harganya menjadi sangat murah, bahkan mencapai Rp 2500 per kg. Di pinggir jalan sekitar Kota probolinggo berjajar pedagang rambutan dengan menggunakan mobil pick up. Di atas tumpukan buah dia memasang papan bertuliskan Rp 2500. Tapi jangan salah, di bawah tulisan yang besar ini masih ada lagi tulisan kecil yang sulit dibaca pada jarak lebih dari 5 meter yang berbunyi “protolan” atau yang kecil. Sama saja dengan yang dilakukan oleh pedagang mangga pada musim panen. Dilakukan oleh pedagang di Jalan Darmo Permai Selatan. Dia pasang tulisan besar Rp. 4000, padahal di bawahnya dia tuliskan juga catatan “yang kecil-kecil”

Sesungguhnya maksud tersirat dari firman Allah ini bisa bermakna general, yaitu dimaksudkan kepada umat manusia dalam setiap hubungan muamalat antar sesama, apakah dia muslim atau non muslim. Penuhilah hak orang lain dengan sempurna, dan jangan melakukan kecurangan karena Allah akan mengazab mereka dengan siksaan yang sangat pedih.

Dalam hubungan industrial ketenagakerjaan hal ini juga berlaku. Yaitu pada saat kita menyatakan sepakat dengan majikan tentang hubungan kerja dengan segala syarat hak dan kewajiban. Sejak saat itu kita telah mengikatkan pula perjanjian kerja ini kepada Allah swt. bahwa apa yang kita kerjakan sejatinya juga pemenuhan hak dan kewajiban kepada Allah. Kalau kita menyatakan waktu kerja adalah Senin sd Jumat, jam 7:00 sd 16:00 dan istirahat 1 jam pada saat makan siang. Maka seperti itu pula kewajiban yang wajib kita jalankan. Hukum wajib ini tegas karena hal ini juga bermakna janji memegang amanah. Pilihan kita hanya satu, yaitu menegakkan amanah karena ini adalah hutang yang harus ditunaikan. Apabila kita tidak melakukannya, berarti khianat. Sungguh kecelakaan besar bagi orang-orang yang ingkar terhadap amanah, dialah kaum munafik yang diancam Allah ta’ala dengan siksa neraka jahannam.

Di dalam hadist Rasulullah Muhammad saw, menjelaskan bahwa salah satu ciri munafik adalah khianat, apabila berjanji dia mengingkari, apabila diberi amanah dia melakukan khianat. Sekali kali, Allah tidak akan berpaling kepada mereka pada hari pembalasan. Mereka akan terlantar sampai waktu menentukan apakah Allah welas asih dan memberikan pengampunan atau mereka harus menerima siksa yang pedih akibat perbuatan curang mereka.

Dalam hal kehidupaan berbangsa dan bernegara, makna Firman Allah berarti mejalankan tugas dengan sebaik-baiknya dan menjadi pemimpin sebagaimana yang telah diteladankan Rasul dan Para Sahabat. Apabila mereka melakukan perkerjaan sebaik-baiknya memberikan manfaat kepada masyarakat, maka kemuliaan bagi mereka. Mereka akan mendapat perlindungan sementara manusia lain kebingungan dan kepanikan. Sebaliknya apabila dia melakukan pekerjaan unatuk diri sendiri dan golongannya, tunggulah siksa Allah yang sangat pedih. Contoh, para anggota DPR kita. Apabila dia melakukan tugas utamanya menyusun paraturan perundangan yang memberikan kemanfaatan kepada negara dia ogah-ogahan bahkan masih minta imbalan suap sebagai uang lelah dan sebagainya. Apabila suap ini tidak diberikan, mereka hanya pasif atau pura-pura tidak tahu tugas. Untuk mengesahkan UU BI DPR mendapat imbalan 32 miliar rupiah yang diambil dari kocek Yayasan BI. Hal yang sama dilakukan oleh beberapa pajabat gubernur, bupati, camat sampai kelurahan. Mereka tidak bekerja untuk rakyat, melainkan nafsu untuk mengumpulkan materi dan menyombongkan diri dihadapan manusia di muka bumi. Allah tidak rugi dengan kelakuan mereka, Allah tetap Tuhan Semesta Alam yang tidak berkurang sedikitpun kekuasaannya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: