Takwa

Oleh : Jaiman

Siapakah yang bertakwa? Siapa saja menjadi orang yang bertakwa asalkan memenuhi kreterianya. Adalah mereka yang beriman kepada Allah, malaikat, nabi dan rasul, kitab suci, hari pembalasan, takdir dan beramal baik kepada sesama manusia. Kalau paparan di atas dirangkum dalam paparan yang sederhana, maka indikator takwa adala dua dimensi yaitu hubungan baik kepada Allah swt. atau habluminannas dan hubungan baik kepada manusia atau habluminannas. Jadi secara ringkar dapat ditarik kesimpulan bahwa orang yang bertakwa menjaga hubungan baik dengan Allah ta’ala dan memelihara amalan baik dengan manusia. Siapapun orangnya tanpa membedakan suku bangsa dan ras, agama, nasab, golongan dan seterusnya.

Sudahkan kita bertakwa? Bagaimanapun alasannya kita bisa mencapai taraf manusia yang bertakwa. Sederhana saja, kalau kita diundang saudara atau tetangga kemudian kita mendatanginya semata karena menjaga hubungan baik dan silaturahmi, maka anda merupakan bagian dari orang yang bertakwa. Kalau ada saudara kita yang mengalami kesusahan karena orang tuanya meninggal dunia kemudian kita bertakziah, maka anda juga menjadi bagian dari orang yang bertakwa. Kalau ada teman kerja yang hendak menyalagunakan wewenangnya untuk kepentingan pribadi kemudian kita mengingatkannnya dengan cara yang baik, maka anda juga bertakwa. Kalau anda sedang bepergian kemudian di tengah jalan ada batu atau sampah yang dapat mengganggu perjalanan orang dan anda menyingkirkannnya, maka anda adalah orang yang bertakwa.

Begitu mudahnya menjadi orang yang bertakwa? Ya, Allah tidak memberikan kesukaran kepada umat manusia untuk melakukan amalan saleh. Coba kita memahami beberapa perintah Allah yang sesungguhnya wujud sifat-sifat utama Allah yaitu Ar Rahman (Pengasih) dan Ar Rahim (Penyayang) Tuhan kepada umatnya. Kalau anda sedang melakukan perjalanan maka kerjakanlah shalat jama; qoshor atau qoshor, kalau anda sakit dan tidak dapat melakukakan shalat dengan berdiri, lakukanlah dengan duduk, kalau duduk masih belum kuat bisa dilakukan dengan cara tiduran, kalau bulan ramadhan, anda melakukan perjalanan, bolehlah kamu berbuka dan seterusnya. Sederhana saja, Allah ridak menyulitkan hambanya untuk menjalankan amalan baik.

Sudahkan cukup saya beruat baik kepada Allah dikatakan bertakwa? Hamba yang bertakwa memiliki kedudukan mulia, yaitu mulia di sisi Allah dan mulia di hadapan manusia. Bayangkan kalau ada orang yang suka menolong, pemurah, dan ramah kepada tetangganya pasti kita menyukainya. Kita akan mengatakan, dia orang yang baik, dan mereka mendapatkan manfaat dari kehadirannya. Berbuat baik kepada sesama manusia mendapatkan balasan, tentu juga perbiatan baik kepada Allah ta’ala. Dimensi takwa yang luas sebagaimana yang dimaksud Tuhan bahwa “jadilah orang yang bertakwa yang sebenar-benar takwa” adalah makna luar dan sangat mendalam. Allah tahu bahwa menjadi manusia yang bertakwa bukan hal yang mudah dan sederhana. Manusia akan menjalani tahapan dari titik nol di mana manusia belum memahami hakekat keimanan. Hatinya keras dan tidak mau menerima hakekat ketuhanan. Apa yang dilihatnya adalah sesuatu yang bernalar semata. Hatinya dinaungi oleh ego yang sangat kuat. Ego yang sangat kuat menjadikan diri seorang manusia, sombong, dan congkak, sehingga tahapan berikutnya akan meng-akukan dirinya sebagai superior sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Fir-aun. Fir’aun memposisikan diri sedemikian tinggi karena egonya telah menjadi berhala yang dituhankan. Pada puncaknya dia memplokamirkan diri sebagai Tuhan manusia yang berhak disembah oleh umat manusia.

Tahapan takwa yang diajarkan oleh Allah swt. harus dimulai dari keimanan kepada yang enam, sebagaimana telah saya paparkan di depan. Iman kepada yang enam ini menjadi pondasi awak, sebagaimana kalau kita membangun sebuah rumah. Tahap awal membangun rumah pasti harus ada pondasi yang kuat. Keimanan yang enam harus dijadikan titik-titik taing pancang pondasi yang utama. Inagt bahwa keenamnya tidak bisa tambah atau dikurangi dengan alasan kepentingan politis dan golongan. Nabi dan rasul Allah sudah jelas dan Muhammad adalah Nabi akhir jaman, mengapa ada yang mengaku sebagai nabi. Lebih memprihatinkan Kenapa ada yang mempercayainya. Kalau dasar keimanan yang enam ini sudah kuat dan tepat, tahapan berikutnya adalah membangun bagian-bagian selanjutnya yaitu tiang, tembok, atap dan interior lainnya.

Mungkinkan manusia bertakwa tanpa pondari keimanan kepada yang enam? Bisa saja, bukankan sebuah rumah bisa dibuat sistem mobil yang bisa dipindah-pindahkan setiap waktu. Sama juga dengan kadar ketakwaan manusia. Dewasa ini orang-orang mendesain rumah knock down yang bisa dibongkar pasar secara mudah dan sederhana. Rumah seperti ioni tidak diberi pondari sebagaimana rumah konvesional. Cukup membuat tiang-tiang yang mudah dipasang, tembok dibuat dari bahan yang ringan dan tipis, atap dibuat dari bahan yang ringan dan mudah dirakit. Sama juga dengan model ketakwaan manusia, kalau hanya berpikir berbuat baik kepada sesama manusia dianggap cukup, maka kekuatan rasa takwa mudah terombang ambing dan mudah roboh oleh guncangan sekitarnya.angin topan, gempa, hujan dan sebainya. Oleh sebab itu, Tuhan memahami sepenuhnya sifat-sifat mahkluk ciptaannya, kalau ingin bertakwa dengan sebenar-benar takwa harus dimulai dari keimanan yang kukuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: