WACANA POLIGAMI

Oleh : Jaiman

Suatu hari kami sedang berdiskusi dengan teman-teman di kantin kantor, membahas tentang poligami. Diskusi selalu menimbulkan kontroversi dan perbedaan pendapat tentang boleh atau tidak seorang suami menikah lagi sedangkan istrinya saat ini dalam kondisi fit, sehat wal afiat, normal tidak kurang suatu apapun? Menarik sekali wacana ini, karena diiantara kami memang tidak ada yang berpoligami, apa yang kami jadikan materi referensi adalah contoh yang telah ada, misalnya beberapa kyai yang memiliki istri dua, tiga bahkan empat. “Lihat saja Pak Siswo, pemilik bisnis Ayam Bakar Wong Solo, juga Zaenal Ma’arif, Tifanul Sabiring” Bukankah mereka selama ini baik-baik saja seperti yang terlihat kasat mata?

Tidak ada yang sempurna apapun yang ada di dunia kecuali Maha Pencipta. Apa yang kita lihat terbatas pada pengamatan visual bungkus tetapi tidak punya pengetahuan cukup tentang esensinya, sehingga justifikasi atas penglihatan ini menjadi naif. Antara wujud yang masuk di dalam benak dengan keasliannya bisa jadi berbalik 180 derajat. Sama juga pada saat kita melihat buah duren yang berkulit kasar, berduri, dan bisa melukai, tetapi sejatinya berisi rasa buah yang sangat enak. Jadi pada saat kita melihat seorang yang melakukan poligami dengan segala kompensasinya perlu pemahaman yang jernih dari akal sehat, jangan ada campuran nafsu semata.

Apakah poligami buruk atau dilarang? Hukum kelaziman yang sering kita pahami adalah segala sesuatu yang ada di dunia pada dasarnya boleh dilakukan oleh manusia kecuali yang dilarang. Maksudnya secara umum kita boleh melakukan segala sesuatu di dunia, tetapi yang dilarang secara khusus hukumnya menjadi haram, atau makruh. Sunnatullah, bahwa segala sesuatu yang ada di dunia adalah untuk penghuninya yaitu manusia, hewan dan tumbuhan. Misalnya segala makanan yang tumbuh dari bumi dan isinya boleh dimakan asalkan tidak ada larangan secara khusus dari Tuhan melalui perintah agama. Manusia juga bisa berihtiar melakukan pengkajian, apakah makanan ini sehat atau bahkan beracun. Dengan akalnya, manusia bisa melakukan justifikasi dan memilih mana yang baik dan buruk.

Demikian juga dengan poligami, bisa jadi poligami berhukum halal, haram atau bahkan wajib. Semuanya bergantung dari kondisi dan syarat-syaratnya. Poligami bisa menjadi wajib apabila kondisi masyarakat sedemikian rupa, jumlah laki-lagi sangat sedikit, mungkin karena bencana alam, perang atau sebab lainnya, sehingga apalagi tidak dilakukan poligami malah menimbulkan kemaksiatan merajalela. Demikian juga, poligami bisa menjadi haram apabila tujuannnya adalah pelampiasan nafsu seks belaka, atau terbersit niat buruk merusak tatanan sosial yang telah berjalan dengan baik di masyarakat.

Karena hukum poligami mengikuti relatifitas, kita perlu melakukan kajian mendalam dan kaffah supaya apa yang kita putuskan sejalan dengan kehendak Tuhan. Tidak cukup hanya kehendak Tuhan belaka, karena di dalam hidup seyogyanya bisa melakukan dharma selagi bisa. Contohlah sebuah pohon pisang, apa yang dilakukan mengikuti dharmanya, sekali berdharma setelah itu mati. Dia tidak bisa menentukan pilihannnya sendiri, Tuhan telah memberikan tempatnya, juga buah yang akan dinikmati oleh manusia. Dia tidak memilih siapa yang akan memanfaatkan hasilnya, tetapi dharma tertinggi telah dilakukan, silahkan makhluk lain yang meng apresiasi.

Kalau demikian, bagaimana hukum poligami di tempat kita? Mari kita amati sekitar dengan seksama. Apakah di sekitar kita jumlah laki-laki sangat sedikit karena perang, bencana atau wabah? Apakah kondisi masyarakat kita membutuhkan poligami untuk meningkatkan derajat sosial? Apakah poligami memberikan sumbangsih berarti dan membawa kemaslahatan umat? Saya sengaja menanyakan beberapa poin di atas karena esensi tujuan dari penghukuman poligami adalah perbaikan derajat umat dan bukan goal individu.

Kembali pada beberapa pertanyaan di atas. Saya akan pilah pertanyaan ini menjadi dua jawaban yaiti “YA” atau “TIDAK” supaya tegas dan tidak menunculkan wilayah abu-abu yang meragukan. Menurut saya jawaban atas ketiga pertanyaan di atas adalah “TIDAK”, sehingga hukum poligami bagi saya adalah haram atau lebih rendah lagi yaitu makruh. Artimya kalau kita melakukan nya akan berdosa dan sebaliknya menghindarinya adalah pahala.

Setuju tidak setuju biasanya menjadi menu wajib dalam diskusi, karena apa yang saya paparkan di sini mungkin berbeda persepsi denga Anda. Mungkin Anda menghukumi wajib atau sunnah karena dasar pemahaman kita berbeda.

Seberapa Urgen Wacana Poligami?

Bagi pohon pisang, dharma tertingginya adalah buah yang enak dan bergizi, tetapi dia juga memberikan dharma lain yaitu daunnya bisa dimanfaatkan, batang pohonya menjadi tali dan kerajinan perabot dan sebagainya. Artinya disamping amalan sholeh tertinggi bagi orang lain, ada juga amalan lain yang bermanfaat untuk kemaslahatan umat. Jangan dilihat besarannya sebagai dasar apresiasi karena sekecil apapun bentuknya juga bermanfaat.

Ingatlah cerita seekor gajah dan tikus kecil. Gajah melihat tikus sebagai makhluk lemah tidah berguna. Apa yang bisa dilakukan oleh hewan sekecil tikus bagi kerajaan hutan. Suatu hari gajah ini terjerat tali jaring pemburu gajah hutan, dia merintih minta tolong, tetapi tidak ada satupun hewan yang mendengarnya. Datanglah seekor tikus lalu dia gigit tali jaring berluang kali sampai putus. Gajah selamat dan segera menyadari kesalahannnya selama ini. Bisa jadi apa yang kita pikirkan seperti seekor gajah, yaitu tidak memperhatikan yang kecil atau remeh-remeh, tetapi sesungguhnya juga bermanfaat. Tidak perlu berpikir yang besar tentang poligami, karena juga ada hal lain yang bermanfaat walaupun kasat mata terlihat remeh.

Berpoligami, tidak berpoligami saya lupakan sejenak untuk tugas kita masih banyak. Tidak masalah apakah amalan saya berkontribusi besar atau tidak, tetapi saya berharap tidak terjebak dengan pola pikir gajah. Sekecil apapun hasil kerja seseorang harus dihargai termasuk saya yang tidak memikirkan poligami sebagai tema besar. Saya memikirkan hasil kerja lain yang bernilai entah besar atau kecil bagi umat. Biarlah poligami tetap menjadi gunung indah yang manarik semua orang unruk mendakinya. Saya mengerjakan yang lain karena punya satu gunung atau dua tidak menjadi masalah. Saya mensyukuri satu gunung ini dan aku rawat sebagai dharma terbaik. Semoga…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: