Agency Theory VS Pejabat (1)

Oleh : jaiman

Seorang manager pada umumnya adalah profesional yang di-hire oleh pemilik modal (owner) untuk menjalankan bisnis tertentu dengan imbalan atau kopensasi. Seorang manager bagaimanapun memiliki kepentingan pribadi (personal goals) yang saling berkompetisi dengan owner/shareholder untuk memaksiimumkan shareholders wealth. Dalam hal ini konflik yang terjadi disebut teori keagenan (agency theory)

Owner adalah pemilik modal dan disebut principal mempekerjakan orang lain yang disebut agent untuk bekerja maksimum untuk menunjukkan performance nya atau hasil kerja yang baik. Untuk menunjukkan kualitas performance-nya, agent diberikan kewenangan untuk mengambik keputusan. Di sinilah asal mula munculnya potensi konflik antara stockholders dan manager (Brigham & Daves, 2004).

Dalam konsep perusahaan, teori keagenan dapat diaplikasikan pada konsep negara demokrasi seperti Indonesia. Rakyat adalah principal atau shareholder yang menunjuk managernya untuk mengegola negara. Para namager dalam sebuah negara demokrasi bernama presiden, gubernur, bupati/walikota, DPR dan DPRD. Secara tidak langsung menteri dan pejabat eselon yang ditunjuk oleh presiden dan pembantunya juga manager. Seorang manager atau pejabat memiliki kepentingan pribadi yang saling berkompetisi dengan kepentingan rakyat. Seorang pejabat yang ditunjuk shareholder/rakyat tidak selamanya mencerminkan kepentingan rakyat. Sering kali seorang pejabat membawa kepentingan pribadi (personal interest) lebih utama dibandingkan dengan kepentingan rakyat. Seorang pajabat berkepentingan menambah jumlah kekayaannya, padahal seharusnya pejabat harus mengutamakan pembangunan dan kesejahteraan rakyat. Masalah apa yang akan muncul?

Masalah apa yang akan muncul?

Potensi masalah yang disebut egency problem. Pada saat seorang manager bukan pemilik bisnis yang dikelolahnya. Tetapi hal ini tidak akan terjadi apabila owner dan manager adalah satu orang, di mana manager akan bertindak sesuai dengan tujuan bisnisnya, yaitu untuk memaksimumkan kekayaan shareholder.

Pada perusahaan public (PLC), konfilk agent sangat krusial, karena maneger hanya memiliki sahan relatif kecil, oleh sebab itu upaya memaksimumkan kekayaan shareholder bisa mengalami kendala berarti, karena ada personal goal yang muncul secara sembunyi-sembunyi,

Sebuah studi yang dilakukan oleh JR Wildsmith, menunjukkan bahwa beberapa meneger mencoba memaksimumkan kekayaan pribadi, yaitu dengan cara memaksimumkan skala bisnis, mereka berharap bahwa dengan memimpin sebuah bisnis raksasa menager akan;

  1. Meningkatkan job security
  2. Meningkatkan personal power dan status
  3. Gaji dan bonus, karena berkorelasi dengan skala bisnis.

Referensi

Eugine F. Brigham & Philips R. Daves, Intermediate Financial management, eight edition, Thomson southwestern, 2004.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. pls

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: