Qiyadah Al Islami, Banarkah Aliran Sesat?

Oleh : Jaiman

Bulan Oktober 2007, sorotan media massa tertuju pada aliran Qiyadah Al Islami yang dideklarasikan oleh Ahmad Mussadik alias Abu Salam. Seorang pris berumur sekitar 55 tahun pensiunan pegawai negeri asal Bogor. Asal muasal munculnya aliran ini adalah wahyu yang diterima oleh Mussadik di tempat petilasannya di sebuah kaki bukit di daerah Bogor. Di sebuah gubuk kecil berdiri di atas semak-semak bukit tersebut Mussadik merasa mendapatkan wahyu kemudian mengatakan dirinya adalah rasulullah sama dengen Nabi Muhammad saw, Nabi Isa as, Nabi Musa as atau nabi lainnya. Konon Mussadik melakukan tapa brata sekitar 5 tahun yang kemudian dia merasa didatangi oleh Jibril dan menyampaikan wahyu dari Allah swt.

Sesungguhnya apa Qiyadah Al Islami? Beberapa tahun lalu organisasi pengajian ini berkembang di kalangan anak muda yang berpengetahuan dangkal tentang ajaran Agama Islam. Mereka melakukan pengajian dari rumah ke rumah anggota. Jumlah mereka juga relatif kecil. Tidak ada yang menonjol pada gerakan ini. Mungkin karena jumlahnya sangat sedikit, jangkauannya juga sangat terbatas dan tidak ada publikasi apapun dengan gerakan ini. Mungkin juga karena ajarannnya tidak dianggap menyimpang oleh masyarakat sekitar. Sama saja mereka juga mengaku Nabi Muhammad saw sebagai Nabi dan rasul, Al-quran adalah kitab suci satu-satunya yang hak, syahadatain yang umum diucapkan sama, ‘Bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”

Pemicu kemarahan massa adalah publikasi bahwa Qiyadah Al Islami menngajarkan sahadatain yang berbeda, Muhammad rasulullah diganti dengan Ahmad Mussadik rasulullah yaitu dengan lafal sebagai berikut “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Ahmad Mussadik adalah rasulullah”. Kontan saja masyarakat berang dengan pernyataan ini. Di media TV swasta dia sempat diwawancarai tentang ajarannnya, dan dengan terang terangan mengatakan bahwa dia telah menerima wahyu dan dari Malaikat Jibril dan diangkat sebagai rasul. Sejak itu dia menyatakan sebagai rasulullah dan mengajarkan sebagaimana yang telah dia yakini. Ada beberapa catatan yang bisa ditekankan di sini, pada saat wawancara dengan presenter TV cara bicara dan paparannya membuat orang berpikir, bahwa ada kemungkinan bahwa ajaran ini benar, bukankah tanda-tanda kerusakan jaman sudah terlihat di depan mata. Kerusakan moral, prostitusi, korupsi, perjudian, pembunuhan, perampasan hak dan kerusakan lainnya. Sementara itu juga ada kerusakan bumi dengan nyata terpampang di depan mata. Hutan gundul, laut tercemer, udara penuh karbon monoksida, matahari terik bersinar menyengat bumi, tanah dan air penuh bendah beracun. Manusia menjadi beringas, kejam, serakah dan mudah melakukan kerusakan. Ketegangan antar manusia menjadi berita sehari-hari di media massa. Apa yang salah dengan segala kerusakan ini? Apakah waktu yang dijanjikan Tuhan sudah dekat? Benarkan sekarang waktunya Tuhan memberikan rahmatnya kepada manusia setelah sekian lama terombang ambing tanpa akhir?

Mussadik menyatakan diri sebagai ratu adil dan mencoba menjadi pahlawan kebajikan dengan caranya. Benarkah ini? Sangat sulit untuk mengatakan dia salah atau benar, karena kebenaran yang di perdebatkan tidak berpijak pada landasan yang sama. Kalau misalnya Mussadik dan pengikutnya meyakini bahwa ajaran Mussadik benar atas keyakinan mereka sendiri, apakah kita bisa mengatakan keyakinannya salah? Sama juga pada saat seorang ilmuwan akademisi melakukan riset bertahun-tahun tentang perilaku konsumen mobil di Indonesia. Setelah melakukan riset cukup lama dengan menggunakan metode yang sahih, disimpulkan bahwa mayoritas konsumen mobil di indonesia menyukai mobil dengan kriteria sebagai berikut, kapasitas besar karena akan digunakan juga untuk keluarga, kapasitas penumpang adalah 6 sd 7 orang. Masalah harga sekitas 100 juta sampai dengan 200 juta. Untuk model, sebaiknya tidak terlalu jumbo, justru minimalis sangat disukai karena karakter jalan di Indonesia relatif sempit. Perawatan juga menjadi priorotas, dimana ketersediaan suku cadang dan biaya perawatan harus diperhatikan. Empat kriteria ini dipublikasikan oleh ilmuwan tersebut, tetapi kemudian mendapatkan kritikan dari ilmuwan lainnya bahkan cukup banyak masyarakat yang tidak percaya dengan riset ini, karena kesimpulan ini tidak benar menurut periset lainnya.

Terjadilah debat sengit antara yang sepakat dan kontra, mereka memiliki dasar sendiri mengapa menyakini pendapat ini dan tidak sependapat. Saya khawatir bahwa sejatinya debat panjang yang berlanjut dengan pengadilan terhadap aliran Qiyadah Al Islami sama dengan reset konsumen ini, yaitu keyakinan yang bersifat temporer dan geografis sekali. Bisa jadi hasil riset ini banar untuk saat ini dan salah pada masa yang akan datang. Artinya kebanaran yang diyakini oleh mereka hanya relatifitas.

Apakah mereka yang meyakini Qiyadah Al Islami benar-benar sesat? Saya agak berhati-hati melakukan justifikasi dengan fatwah sesat atau haram yang dikeluarkan oleh MUI beberapa hari lalu. Siapa sesungguhnya Al Qiyaddah, jangan-jangan ini sama dengan ajaran Mirza Gulan Achmad yang mengajarkan aliran Ahmadiyah dari India, atau ajaran kerajaan Eden ala Lia Aminuddin, atau juga ajaran shalat dua bahasa ala Gus Roy dari Malang. Mungkin di belahan dunia lain masih ada paham-paham yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya.

Sesungguhnya siapa yang sesat? Tersesat yaitu suatu kondisi di mana seseorang tidak tahu arah lagi kemana harus melanjutkan perjalanan atau tujuan akhirnya. Bagi mereka tidak ada jalan lain kecuali bertanya kepada orang lain yang tahu bagaimana cara untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Orang bisa tersesat karena melakukan sesuatu tanpa pengatahuan cukup, tetapi perjalanan tetap dilanjutkan sampai dengan kondisi buntu dan tidak punya ide untuk melanjutkan tujuannya. Sebagai contuh adalah, seseorang hendak pergi ke Jakarta dari Surabaya dengan menggunakan kendaraan pribadi. Tanpa persiapan apapun perjalalan laaaangsung dimulai. Dengan cara seperti ini ada kemungkinan besar perjalan ini tidak akan sampai pada tujuan. Bahkan dua resiko telah ada di depan mata, pertama pemilihan alat transportasi salah, karena jarak yang akan ditempuh sangat jauh, seyogyanya menggunakan kendaraan yang lebih layak, yaitu mobil roda empat yang baik dan layak karena jaraknya sangat jauh. Kalau perjalanan dilakukan dengan sepeda motor, bisa jadi akan mengalami capai luar biasa. Rawan kecelakaan di jalan, sakit karena cuaca dan teriknya matahari. Ini artinya kemungkinan seseorang menjadi tersesat karena dari awal sudah tidak tahu arah tujuan, sehingga step berikutnya juga makin sering mengalami ketersesatan.

Apakah hal di atas bisa dianalogikan dengan aliran Al Qiyadah? Tanpa bermaksud menghakimi aliran ini, tetapi ada kecenderungan kesesatan ini benar dan nyata karena Mussadik tidak memiliki pengetahuan cukup tentang Islam secara komprehensif. Dia tidak belajar Islam dari nara sumber yang paling terpercaya, yaitu pada ulama yang dipercaya dengan baik keilmuannnya. Islam yang diajarkannnya hanya sebatas pencarian Tuhan melalui media yang tidak wajar dan priimitif. Tapa, semedi, nyepi dan sebagainya dijadikan sebagai dalil bahwa dia telah menjadi orang yang tahu ajaran Islam dengan kaffah. Jelas ini ajaran yang tidak dilandasi dengan pondasi keilmuan yang cukup. Tidak layak sama sekali dia menyebut Islam di belakang kesesatannya. Islam ini agung, karena diberikan langsung oleh Allah. Mudah mudahan mereka segera menemukan jalan kebanaran.

Paiton, 7 November 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: