Shodaqah(sedekah)

Hartamu adalah apa yang kamu sedekahkan

  

 

Apa yang kita shodaqohkan? Masing masing kita bisa bersodaqoh dengan apapun bentuknya. Shadaqoh juga tidak harus berupa uang dan harta benda. Batasan ini yang mula-mula saya tekankan di sini supaya, pemahaman kita tentang shadaqah tidak sempit dan membelenggu.

 

Kalau anda seorang petani padi setiap hari pergi ke sawah untuk merawat tanaman berarti dia telah bersodaqah seiring dengan tarikan nafas yang payah. Tangan dan kaki, hati dan pikiran bersodaqah. Panas dan teriknya matahari sebagai peranda sambutan alam bahwa jerih payah dan do’a adalah kalam Illahi yang diucapkan melalui mutualisme simbiosis antara makhluk yang berkasih sayang. Jangan dianggat panas terik sebagai kebencian diantara makhluk, melainkan kasih sayang yang dipancarkan rata  ke semua yang membutuhkan.

 

Alkisah yang patus dicatat. Suatu hari sang Guru dan Santri mendatangi walimah di sebuah undangan. Sesuai dengan kesepakatan waktu dan tempat dia satang bersama seorang santrinya. Setelah mempersilahkan duduk di tempat yang disediakan, sang Guru dan Santri mendapatkan masing masing satu gelas minum air putih. Bersegerah sang Guru meminumnya setelah dipersilahkan oleh Sohibul bait hingga tersisa seperempat isi gelas, sementara itu Santri tidak minum karena merasa belum haus. Melihat isi gelas sang Guru tinggal seperempat, sohibul bait segera menuangkan kembali air ke dalam gelas hingga penuh. Beberapa kali sang Guru minum kembali hingga tersisa seperempat lalu diisi ulang oleh sohibul bait.

 

Sampai di rumah sang Guru bertanya kepada Santri, mengapa engkau tidak  minum seperti yang aku lakukan. Sang Murit menjawab,”Aku tidak haus, jadi aku hanya minum karena haus”. Lalu sang Guru menjelaskan, apakah engkau melihat gelasku selelu penuh walaupun telah aku habiskan berulangkali? “ Benar Guru, karena shohibul bait selalu mengisi ulang setelah Guru meminumnya” Ini yang akan aku jelaskan kepada kamu. Itulah yang dimaksud dengan shodaqah. Pada saat engkau memiliki harta sedikit, lalu engkau shodaqohkan, maka Allah akan menggantinya sebanyak itu pula, bahkan Allah akan melebihkan. Kemudian engkau shodaqohkan kembali, minimun sebanyak itu pula akan diisi kembali oleh Allah, karena Dia Maka Kaya. Jadi yang perlu kita yakini, bahwa Allah Pasti membalas seberapapun amal dan shodaqah, bahkan lebih banyak lagi. Yang kedua, adalah milik kita sejatinya adalah apa yang kita shodaqahkan, dan bukan yang kita simpan dalam bentuk deposito, tabungan, rumah, tanah, mobil, gedung, saham, dan harta kekayaan lain yang telah kita atas namakan.

 

Mengapa demikian? Yang disebut milik adalah hak, yang mana hak itu tidak akan berganti kepemilikan selalamanya, jadi ukurannya bukan sesaat yaitu pada saat mati menjadi hak waris. Semua harta yang kita sebutkan di atas tadi akan menjadi hak waris pada saat kita meninggal, kecuali apa yang telah kita shodaqahkan. Siapa yang akan meminta hak waris atas shodaqah anda? Pasti hanya milik anda sendiri.

Satu Tanggapan

  1. banyak belajar dari sufi, misalnya Rumi, Gajali, Gibran dst

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: