DOA

Bagi kita, istilah doa bukan asing lagi. Kita juga sering berdoa untuk diri sendiri, untuk keluarga, orang tua, tetangga, teman dan siapa saja. Bakdal shalat kita berdoa, mau berangkat kerja berdoa mau makan juga berdoa, bahkan shalat fardhu yang lima waktu itu juga berdoa, apa yang diminta?

 

Lantas apa yang kamu rasakan dari doa mu? Apakah terkabul atau malah sebaliknya tanpa hasil sementara anda sudah bosan. Nah mari kita berbincang doa sebagai sarana komunikasi dengan Allah ta’ala.

 

Doa tidak harus di-jahr-kan sebagaimana permohonan antara sesama manusia. Kalau anda minta tolong kepada seseorang untuk membantu memindahkan meja ke tempat lain. Orang lain hanya tahu kalau anda katakan secara lisan, tetapi ini tidak demikian dengan permohonon kepada Tuhan. Walaupun permohonan ini tidak kita utarakan dengan kata-kata (jahr), Tuhan sudah tahu apa yang tersirat di dalam hatimu. Pernahkan hal ini kamu rasakan?

 

”Saya telah berdoa selama 30 tahun, tahajjud dan puasa tetapi belum mendapatkan apa yang aku minta” Kata seseorang mengadu pada Sang Guru al Gajali. Kemudian Al Gajali mengatakan, ”Wahai tuan, pun seandainya engkau tambah selama 30 tahun  lagi, Tuhan tidak akan mengabulkan doamu, karena di dalam dadamu ada rasa sombong”.

 

Mengapa demikian? Rasa sombong yang dimaksud di sini bukan sombong kepada manusia sebagaimana bentuk sombong yang sering kita lihat. Sombong yang bercokol di dalam dada manusia adalah ego yang sangat kuat, sehingga menempatkan dirinya lebih baik, dan mulia daripada orang lain. Pengakuan kalbu yang tulus bahwa manusia adalah, hamba dengan segala kekurangan harus bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu, apakah berupa materi dan ilmu. Tanpa usaha keras, berarti terjadi pengingkaran terhadap takdir dan kodrat Allah, bahwa hanya usaha dan perjuangan keras yang akan mendapati hasil maksimal.

 

Banyak diantara manusia berdoa berlama-lama di masjid dan surau sampai melupakan tugasnya untuk bekerja. Mereka mengharapkan doanya terkabul tanpa harus bekerja keras. Sikap seperti ini adalah pengingkaran terhadap sunatullah, bahkan dapat dikatakan munafik, yaitu hanya mengucapkan tetapi tidak mau mengerjakan. Kita berbeda dengan kisah Mariyam yang mendapati semua karunia Tuhan dan makanan yang lezat cukup dengan doa dan ikhlas (lihat QS Ali Imron:37).

  

Paiton, 14 Juli 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: