Koruptor = PSK

Sebuah kolom di Koran Seputar Indonesia, 4 Juli 2008 menggugah pikiranku. Kolom opini-nya sangat menarik, bertajuk “Koruptor, PSK dan Rasa malu” yang ditulis oleh penasehat KPK, Abdullah Hehamahau.

Dalam ulasannya Abdullah sangat lugas membandingkan antara koruptor dengan PSK (pekerja seks komersial) yang diindikatori oleh rasa malu. Mengapa malu? Karena yang bisa membedakan antara manusia dan hewan adalah malu. Kalau seorang manusia sudah tidak memiliki rasa malu, maka sejatinya identitasnya sebagai manusia tidak lengkap, atau lebih tepat dikatan hewan, misalnya seekor kambing tidak merasa malu mengambil makanan temannya. seekor kambing juga tidak malu melakukan hubungan seksual di depan umum, memprihatinkan.

Ada satu poin besar yang ingin disampaikan penulis, bahwa koruptor dan PSK sama, sama-sama melakukan perbuatan asusila dan merusak tatanan sosial. Walaupun demikian biasanya seorang PSK masih punya rasa malu, karena apabila manusia tidak punya rasa malu maka persyaratannya sebagai manusia menjadi tidak lengkap, sehingga derajat mahkluk sebagai manusia turun sama dengan seekor binatang. Seperti kambing, sapi, anjing, babi dan sebagainya.

Seorang PSK masih memiliki rasa malu. Lihat saja tayangan berita di TV, pada saat dilakukan penggerebekan PSK pinggir jalan atau motel kelas teri. Dia selalu menutupi wajahnya dengan tangan karena merasa malu. Seorang PSK ternyata masih punya rasa malu, yang berarti masih bisa disebut seorang manusia. Tetapi sayang hal ini tidak terjadi dengan para koruptor di negeri ini. Seorang koruptor yang jelas-jelas tertangkap tangan menerima suap malah melakukan jumpa pers dan dengan muka terangkat di depan kamera TV mengatakan tidak bersalah, atau menuduh ada konspirasi untuk memfitnah dan seterusnya. Lihatlah apa yang dilakukan Jaksa Urip Tri Gunawan dan Bulyan Royan pada saat tertangkap tangan menerima suap milyaran rupiah dari seorang rekanan bisnis.

 

Kalau seorang PSK ada yang kelas teri dengan tarif murah puluhan ribu rupiah, sama juga dengan seorang koruptor, ada koruptor kelas teri dengan nilai puluhan ribu. Tidak ada bedanya di antara keduanya, sama-sama melakukan perbuatan asusila yang menghancurkan masa depan kemanusiaan dan hanya rasa malu yang membedakan antara keduanya apakah masih disebut manusia atau hewan.

Koruptor bisa berstatus pegawai dengan nama dan jabatan mentereng, mulai dari level paling bawah, tukang parkir, polisi lalu lintas, lurah, camat, bupati, wali kota, gubernur, dirjen, DPR, menteri, bahkan seorang presiden sekalipun. Semua jabatan ini memiliki potensi korupsi. Mereka memiliki kesempatan sama melakukan korupsi, yang berarti pula ada kesempatan melakukan perbuatan lacur sebagaimana seorang PSK.

Surabaya, 5 Juli 2008.

Iklan

2 Tanggapan

  1. please go ahead

  2. Mungkin kata “koruptor” terlalu halus. Terlalu keren. Tidak membuat orang menjadi malu. Mending disebut aja sebagai MALING atau PENIPU. Mereka kan mencuri uang rakyat dan menipu rakyat.
    Begitu juga istilah PSK. Sebenarnya terlalu halus. Mending kayak di Liputan 6 SCTV yang selalu menyebut PSK sebagai PELACUR.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: