Nilai Kejujuran

Pada suatu hari saya sedang berada di kelas bersama dengan 9 orang mahasiswa MM Unair, seorang dosen kami bertanya, apa yang kamu lekukan seandainya menemukan uang sebanyak 1 juta rupuah tanpa seorangpun yang melihatnya? Spontan diantara kami menjawab bervariasi, “saya ambil kemudian saya berikan kepada fakir miskin” ada juga yang menjawab ”saya ambil saja, ini kan rejeki”.

 

Apa yang dapat ditarik dari pelajaran ini? Masing-masing individu memiliki kadar kejujuran yang berbeda. Kalau kuantifikasikan, maka kejujuran seseorang dapat dinilai. Mungkin nilai kejujuran saya sampai 5 juta rupiah, yang artinya kalau saya menemukan uang bebas sebesar 5 juta rupiah uang tersebut akan saya kembalikan kepada pemiliknya, tetapi kalau nilainya melebihi 5 juta, akan saya abil sendiri. Lain lagi dengan Pak Waras, beliau nilai kejujurannnya lebih dari 500 juta.

 

Pak Waras adalah contoh baik di negeri ini. Pada saat orang lain menjadi hedonis yang membuat akal-akalan untuk mendapatkan uang berlimpah, beliau justru berbuat mulia, beliau benar-benar manusia yang waras. Uang sebesar 500 juta baginya tidak menyilaukan imannya, sehingga kekhilafan Lapindo atas pembayaran ganti rugi tanah korban lumpur Porong dapat dikembalikan. Nilai kejujuran Pak Waras bukan lagi 500 juta, tetapi lebih dari itu. Sampai seberapakah nilai kejujurannnya? Mungkin 1 miliar, 2 milliar atau bahkan tidak terbatas. Kalau memang demikian alangkah jujurnya figur Pak Waras, sama dengan arti namanya yaitu sehat, walafiat lahir batin.

 

Selama ini bangsa kita mengalami sakit, yaitu sakit mental, curang, pembohong, malas, kemaruh harta, pemarah dan tdak sopan, idak jujur. Kita tahu persis bahwa bohong adalah dosa, korupsi adalah larangan Tuhan, tetapi tetap saja melanggarnya. Sungguh mental mereka sakit dan perlu segera mendapatkan perawatan intensif.

 

Di mana rumah sakit mental? Kita terlalu berfokus pada penyakit fisik, kulit, jantung, liver, kolesterol, usus, paru dan seterusnya, padahal mental kita mengalami sakit yang parah mendekati fase kronis. Sakit mental harus diobati dan bermula dari kesadaran akal, bahwa kita sedang sakit. Lambat laun penyakit mentalmu mendapatkan penyembuhan melalui ilmu pengetahuan, berinteraksi dengan orang baik dan obat penyembuhan manjur berupa ajaran agama yang benar.

 

Paiton, 6 Juni 2008.

Jaiman

 

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Halo Om, aq bukan mo ngasih komen tp cuma mo nanya aja.
    Dlm ISlam itu kan kita disuruh saling ngingetin dlm kebaikan n dlm kesabaran ya om.
    Nah kalo ada orang yg ngingetin tapi pake sms gelap itu hukumnya gimana ya om?
    Apalagi tuh isi smsnya ga bener n nyakitin banget gitu om. Makasih ya om.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: