Oleh : Jaiman Paiton
Bisakah anda merasakan apakah munajat anda diterima Tuhan atau tidak? apakah saya bisa merasakan doa saya diterima Tuhan atau tidak? Bisa. Anda bisa merasakan apakah sholat yang anda lakukan diterima Alah atau tidak. Bagaimana caranya? Mudah sekali. Dalam Kitab suciNya“…Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).”.
Dalam sabdanya, Rasulullah Muhammad Saw berpesan, “Sesunggunya Allah sangat dekat seperti urat leher”. Coba anda pikirkan. Kalau saja Allah sedemikian dekat, tentu kita tidak perlu mengeraskan suara, bahkan berbisikpun Allah mendengar. Allah mengatahui apa-apa yang kasat mata dan tersembunyi.
Pengalaman yang mungkin bisa anda rasakan. Awali doa anda dengan rileks, jangan tegang. Bahkan kalau perlu gerakkan anggota badan anda seperti mau senan. Boleh juga anda memijit-mijit bahu dan tangan dan jemari. Rasakan, gerakkan tangan dan kaki. Rileks.
Sholatlah dengan khusuk. Arahkan pandangan anda ke taempat sujud, rendahkan pandangan,sebutlah nama Allah dengan lembut “Allah…….”. setelah itu angkatlah kedua tangan bertakbiratul ikram “Allahu akbar”
Bacalah dengan suara lembut setiap kalimat dalam sholat ini. Anggaplah anda sedang berbicara, berkomunikasi dengan Allah, dan telingahNya ada di depan mulut anda. Bersuaralah dengan lembut. Hanya telinga anda dan Allah yang mendengar.
Jangan tegang, santai saja sambil arahkan terus pandangan anda ke tempat sujud.
Kalau semua ini anda lakukan dengan rileks, maka badan and akan terasa ringan sekali, gerakan anda rileks. Sesekali konsentrasi anda buyar, ingat ini dan itu. Normal saja. Segerahlan berpikir bahwa anda sedang berbisik di telingah Nya. Ingat jangan tegang, bahkan mulut anda seolah berbisik sambil tersenyum.
Rasakan sampai salam, anda akan fresh……..
Anda telah berkomunikasi dengan Allah Robbul aa’lamin
Oleh : Jaiman Paiton

Realitasnya bahwa di sekitar kita ada sebagian dari anak-anak kita tersebut hidup dalam kesulitan. Ada yang menjadi yatim piatu, ada yang diterlantarkan orang tuanya, dan ada yang menjadi korban kekerasan sosial yang tidak kondusif. Bahkan anak dari keluarga berekonomi mampu juga mengalami penderitaan yang sama. Ada orang tua yang saling berebut anak setelah cerai. Jalur hukum dan biaya besar dibelanjakan untuk mengejar ambisi pribadi dengan korban anak-anaknya . Egoisme individu telah mengambil hak-hak mereka dengan cara yang kejam dan bathil. Sekali lagi, anak sering kali menjadi obyek penderita yang diabaikan hak dan kasih sayangnya.
Anak yatim adalah fenomena sosial yang nyata di depan mata kita. Sebagian dari mereka ada yang beruntung karena mendapatkan tempat yang layak sehingga dapat menikmati kasih sayang dan kebutuhan materi secara cukup. Sebagian yang lain dari mereka hidup dalam keadaan sulit, dieksploitasi orang yang tidak bertanggung jawab, meminta-minta di jalanan untuk memenuhi kebutuhan hidup, terjerumus di lembah nista, dan menjadi gelandangan tanpa harapan masa depan. Adakah kita menyadarinya, bahwa fenomena ini adalah nyata? Adakah kita telah tergerak hati untuk meringankan beban mereka dengan kemampuan kita?
Kalau kita membuka perintah Allah SWT dalam kitab suci akan mengatahui bahwa umat Islam telah diwajibkan peduli dengan anak yatim dan fakir miskin. Bahwa pengakuan kita sebagau pemeluk Agama Allah ta’ala yang kaffah dipertanyakan lagi apabila tidak memiliki kepedulian terhadap anak yatim dan fakir miskin. Inilah ayat tersebut :
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (QS Al Maa’uun :107, 1-3).
Kalau ditelaah lebih mendalam, firman Allah di atas memberikan sinyalemen bahwa cap pendusta bagi orang yang mengaku ber-Islam sedangkan perilakunya tidak sesuai dengan perintah Allah. Pantasnya mereka disebut pendusta, pembohong besar apabila mengaku sebagai umat Islam padahal dia tidak peduli dengan anak yatim. Betapa banyak anak-anak yatim yang terlantar di sekitarnya, ternyata dia hanya sibuk dengan urusan sendiri, sibuk dengan kepentingan golongannya, sibuk mendapatkan jabatan dan kekuasaan. Rasanya kita tidak perlu tunjuk hidung orang lain. Yang diperlukan adalah tindakan nyata bahwa kita peduli dengan anak yatim, kita membantu orang miskin. Sudahkah itu kita lakukan dengan tangan kita sendiri. Sekarang waktunya dan jangan tunda lagi !!!.
Rasulullah Muhammad SAW, juga menempatkan kedudukan orang-orang yang peduli dengan anak yatim dengan perumpamaan sederhana, sebagaimana diriwayatkan dalam hadist Bukhari. “Aku dan pengasuh anak yatim (kelak) di surga seperti dua jari ini. (HR. Bukhari)”. Dalam riwayat Abu Daud dan Ahmad, “Rasulullah sambil menunjuk jari telunjuk dan jari tengah”. Apa yang dimaksud Rasul dengan menunjuk dua jari yang berhimpitan ini? Tentu saja, Rasul ingin mengajarkan kepada kita betapa tingginya dan dekatnya kedudukan antara Rasul dan orang yang peduli anak yatim. Kalau rasulullah pasti mendapat jaminan surga Allah t’ala, apakah mereka juga mendapatkan tempat itu?. Yang pasti Surga adalah tempat yang tinggi dan terbaik dan menjadi harapan kita semua, kalau kita yakin dengan kedatangan Rasul, pasti menbenarkan juga ucapan dan ajarannya. Bahwa Rasulullah menyebut pengasuh anak yatim kelak di surga sangat dekat, maka dapat pula disarikan bahwa pengasuh anak yatim mendapat jaminan surga dari Rasul. Bukankan kita semua juga indin mendapatkan surga Allah? Ternyata tidak sulit, mari kita peduli dengan anak yatim.