oleh : Jaiman Paiton
Menebak akhir drama pansus hak angket DPR? Apa yang akan terjadi? Walaupun ada tanda tanya besar tersembunyi, tetap ada peluang bahwa pansus ini tidak menemukan hasil sebagaimana yang diharapkan sebagian orang. Misalnya untuk mengungkap terjadi kesenggajaan oleh otoritas perbankkan, kemudian ada impeachment terhadap presiden. “Terlalu jauh, mimpi kali ye….” Mengapa saya menyimpulkan seperti ini?
Ini hanya prediksi. Jujur, SBYdi mata rakyat Indonesiia adalah sosok yang bisa dipercaya. Kalau boleh agak ngecap dikit. Rakyat suka mana, percaya mana, SBYatau DPR? Pasti jawabannya lebih suka SBY. Sudah bukan rahasia lagi Bung, kalau DPR itu gudangnya sampah, makelar proyek dan sarang koruptor. Bahkan kokon sudah dosa turun-temurun. Mana mungkin lembaga korup mau menjatuhkan lembaga kepresidenan yang dipilih mayoritas rakyat. Beberapa hari lalu mau ada gerakan sejuta mosi tidak percaya terhadap pemerintahan SBY di FB. Ternyata isinya apa, mala komennya mendukung SBY.
Saat ini SBY masih terbaik dari yang ada. Hei, kok bela-belain SBY sih? Ketahuan nih, kalau Pemilu kemarin dukung SBY ya? Memangnya kenapa? Karena SBY nurut saya nih masih lebih baikan daripada lainnya. Silahkan kalau gak setuju, ok?
Oleh : Jaiman Paiton
Bolehkan saya bersumpah untuk meyakinkan orang lain? Boleh. Silahkan bersumpah, tetapi ingat bahwa dalam sumpah anda akan membawa nama Tuhan. Sekali lagi perlu anda sadari benar bahwa anda akan menyebut nama Tuhan sebagai saksi. Tuhan yang memiliki semesta alam adalah setinggi-tinggi nama,. Dengan menyebut demi Tuhan, maka Tuhan telah anda seret ke dalam ranah sengketa.
Mengapa harus bersumpah? Sesungguhnya tujuan manusia adalah untuk meyakinkan orang lain bahwa Tuhan menjadi sakSi dalam urusan anda. Mereka ingin meyakinkan orang lain, benar-benar tidak melakukan perbuatan nista. Seperti apa yang dilakukan oleh beberapa petinggi di negeri kita. Petinggi Kepolisian menyebut “Demi Allah” untuk meyakinkan Bangsa Indonesia bahwa dia tidak menerima suap 10 miliar rupiah. Tidak mau kalah, petinggi KPK yang dituduh Kepolisian menerima suap satu miliar juga melakukan hal yang sama. Sekali lagi mereka menyebut asma “Demi Allah” sambil membawa kitab Suci.
Walaupun sumpah menjedi fenomena lumrah di negeri kita, tetapi sumpah yang terjadi pada pejabat negara ini sangat unik, kenapa? Coba kita cermati satu persatu:
Pertama, yang pasti pada saat pertama diangkat sebagai pejabat negara mereka mengangkat sumpah di bawah kitab suci. Artinya pada waktu itu mereka telah bersumpah tidak akan menyuap atau menerima suap dari pihak manapun selain pembayaran resmi. Pada waktu itu, dia dengan lantang menyatakan tidak akan menyuap dan menerima suap langsung atau tidak langsung.
Kedua, Orang korupsi dan tidak korupsi sesungguhnya fenomena nyata. Coba anda lihat. Seperti apa polah mereka setelah menjadi pejabat. Ada rumah, kendaraan dan harta benda lainnya. Konon gaji seorang jenderal bintang satu tidak lebih dari sepuluh juta rupiah. Dengan gaji sebesar itu, sesungguhnya mereka tidak mungkin memiliki mobil seharga satu miliar rupiah. Dengan gaji sepuluh juta, paling banter seseorang hanya akan memiliki satu rumah sederhana tipe 70 dan mobil seharga seratus jutaan.
Lihatlah kenyataan yang ada. Mereka memiliki mobil mewah lebih dari satu, rumahnya mewah bak istana sinderela. Bagaimana mungkin orang bisa percaya bahwa hidupnya bersih dari korupsi?.
Oleh : Jaiman Paiton
Bolehkan kita mencuri, curang atau melukai orang lain karena terpaksa? Tidak. Tidak ada dalil apapun yang memberikan pembenaran pada perbuatan jahat sekalipun dalihnya adalah menolong orang lain.. Misalnya ada seseorang mencuri sepeda motor lalu tertangkap tangan. Setelah ditanya oleh polisi dalam investigasi mengatakan bahwa dia mencuri karena tidak punya uang dan belum makan dua hari, atau untuk kebutuhan istrinya yang mau melahirkan.
Coba kita simak lebih jernih. Mencuri jelas-jelas perbuatan jahat. Tidak bisa kita memberikan toleransi kepada siapapun yang melakukan perbuatan buruk dan jahat. Tidak ada justifikasi bahwa perbuatan jahat bisa ditoleransi. Perbuatan jahat adalah jahat. Kejahatan sekecil apapun tidak bisa dijadikan hujjah untuk menutupi noda hitamnya. Kejahatan adalah hitam, dan kebaikan kesucian hati.
Ada seseorang membuat hujjah. “Sebenarnya kami telah berbuat baik puluhan tahun, lalu lenyap ditelan angin karena khilaf, apakah ini adil?”. Pertanyaan yang seolah-olah benar, tetapi sejatinya dua hal yang terpisah. Kejahatan adalah kejahatan dan berbuat baik adalah kewajiban. Jadi sekecil apapun kejahatan yang anda lakukan tetap namanya kejahatan dan harus diberikan pinalti.
Sama juga dengan anda yang bekerja sebagai pegawai di perusahaan. Tidak ada toleransi bagi perbuatan jahat, seperti korup dan menerima suap. Setiap perbuatan curang adalah pelanggaran terhadap integritas. Pelanggaran terhadap integritas adalah pelanggaran besar dan serius, oleh sebab itu siapapun yang melakukan pelanggaran wajib dihukum. Tidak boleh mencampuradukkan antara prestasi dengan pelanggaran aturan. Sekalipun seorang pegawai berbakat, kalau melakukan pelanggaran terhadap kode etik bisnis, harus diberikan sanksi. Tidak ada toleransi, tidak ada kompromi.
Mengapa hal ini perlu saya luruskan? Karena beberapa legenda yang dianggap sebagai cerita teladan memberikan ilustrasi menyesatkan. Saya katakan menyesatkan karena mencampur adukkan antara perbuatan jahat dengan kebaikan. Misalnya legenda Robinhood, yang merampok kemudian hasilnya dibagikan kepada penduduk yang miskin. Di Jawa Barat ada legenda Si Pitung, yang suka merampok orang kaya pelit untuk dibagikan kepada penduduk miskin dan kelaparan. Sekali lagi, intisari dari legenda ini tidak bisa dipertanggungjawabkan karena perbuatan jahat dan baik tidak bisa disandingkan. Dosa dari perbuatan jahat tidak bisa terhapus oleh perbuatan baik dari hasil kejahatan. Seorang pencuri adalah jahat, kalaupun dia bagikan hasil curiannya kepada fakir miskin, tetap saja dia adalah orang jahat.
Oleh : Jaiman Paiton
Mendengar rekaman percakapan Anggodo Widjojo dengan beberapa petinggi pengadilan di depan sidang MK Selasa dan Rabu 3-4 November 2009 membuat dada sesak. Ada kekuatan yang kuat sehingga menyebabkan nafas tertahan. Dada bergolak menyuarakan penolakan atas ketidak adilan yang nyata-nyata di depan mata. “Luar biasa. Kalau memang benar yang ada dalam rekaman ini adalah mereka yang menjadi mengabdi sebagai alat penegak hukum. Pasti negeri ini sudah hancur lebur. Bukti yang sangat terang bahwa, wajah hukum di negeri tercinta sudah busuk sebusuk-busuknya”.
Bagaimana mungkin seorang Anggodo yang bukan termasuk pengusaha top di tanah air mampu mengatur jendral di jajaran Kepolisian RI. Dengan enaknya Anggodo menelpon Wakil Jaksa Agung seperti teman junior yang bisa disuruh-suruh. Lebih luar biasa lagi, ternyata Kepolisisian dipecundangi oleh Anggodo lalu dia lenggang kangkung keluar dari ruang penyidikan. Kapolri mengatakan “Tidak cukup bukti untuk menahan Anggodo”. Skore 3-0 untuk Anggodo. Anggodo menang telak, Polisi letoi dan maaf …agak pandir. Hal ini sangat bertolak belakang dengan Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) yang cerdas dan innovartif…. He he he.
Oleh : Jaiman Paiton

Sekelompok kecil orang menolak hasil Pemilu Presiden 8 juli 2009. mereka menolak hasil Pemilu yang dimenangi oleh SBY-Boediono dengan dalih terjadi kecurangan, dan DPT bermasalah.
Sebagai rakyat biasa, saya terganggu dengan statement ini. Mereka benar-benar keterlaluan dan kebablasan. Mereka anggap apa rakyat Indonesia? Apakah mereka pantas mengucapkan seperti ini sedangkan dibalik ucapannya ada niat jahat tertentu atas nama keadilan. Rakyat yang telah meluangkan waktu, mengorbankan kepentingan pribadi, justru tidak mendapatkan apresiasi. Inilah yang dikatakan politisi pandir, politisi yang kalah bertanding kemudian mengatakan orang lain pasti salah. Kasihan mereka, mudah mudahan beban setresnya tidak bertambah sehingga harus dirawat di RS jiwa.
Oleh : Jaiman Paiton

Sangat disayangkan bahwa Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009 tidak berakhir dengan happy ending. Kalau kita simak tayangan TV dan media massa, Capres dan Cawapres yang dinyatakan kalah masih tidak legawa. Apa buktinya? Tidak ada satupun dari kandidat yang dinyatakan kalah lembaga survei independent versi hitung cepat (quick count) memberikan “ucapan selamat” secara terbuka kepada pasangan yang memang. Pasangan SBY-Boediono yang dinyatakan memang telak oleh semua lembaga survei dengan perolehan suara sekitar 60% tidak mendapat ucapan selamat secara terbuka dari pasangan Mega-Prabowo dan JK-Wiranto. Mengapa mereka tidak melakukan itu? Apa yang menjadi kendala mereka untuk mengucapkan selamat?
Tidak Siap Kalah, Hanya Siap Menang
Kita teringat pertanyaan moderator dalam debat pamungkas yang diselanggarakan oleh KPU tanggal 2 Juli 2009 lalu. Pada sesi penutup, moderator melemparkan pertanyaan yang sangat menggelitik, “Kalau bapak dan ibu tidak terpilih sebagai presiden dalam Pemilu kali ini, apa yang akan anda lakukan?”. Capres pertama, Megawati menjawab “Saya akan tetap mengabdi untuk kepentingan bangsa dan negara”. Capres kedua, SBY mengatakan “Pertama-tama saya akan mengucapkan selamat kepada Capres terpilih dan menghimbau kepada konstituen saya untuk mendukung Capres terpilih”. Capres ketiga, JK mengatakan “Saya akan pulang kampung, dan tetap berperan untuk kemaslahatan bangsa dan negara. Saya yakin yang terbaik akan terpilih, dan saya adalah yang terbaik ha ha ha” Begitulah kira-kira inti jawaban beliau-beliau pada waktu itu. Apa makna dan konsekuensinya terhadap hasil Pemilu? Sejak awal tidak ada niatan yang kuat dari Capres Mega dan JK untuk mengucapkan selamat kepada Capres terpilih. Artinya apa? Beliau-beliau ini konsisten dengan sikapnya. Apakah ini artinya beliau tidak siap kalah? Di sinilah rakyat yang akan menilai sampai tangal diumumkannnya hasil resmi oleh KPU.
Tentu saja kondisi ini sangat disayangkan, mengapa? Inilah yang pernah dijadikan kesimpulan oleh Jawa Pos pada acara Anugerah Otonomi Award 2009 oleh Jawa Pos. CEO Jawa Pos Group, Bapak Dahlan Iskan pada pidato penganugerahan Otonomi Award 27 Mei 2009 tersebut menyimpulkan, bahwa rakyat Indonesia telah dewasa dalam berdemokrasi. Rakyat telah cerdas dan tidak bisa diseret dalam ranah hitam yang menyebabkan mereka masuk dalam jerat konflik horisontal. Rakyat telah matang berdemokrasi. Menurut penilaian Pak Dahlan, rakyat Indonesia layak mendapat nilai tujuh. Hasil diskusi penel lainnya adalah tentang partai politik. Dalam kesimpulannnya, Dahlan Iskan mengatakan bahwa partai poltik adalah salah satu institusi yang belum dewasa dalam berdemokrasi. Partai politik masih perlu banyak belajar dari rakyat supaya dapat berdemokrasi dengan elegan.
Partai politik dan fungsionarisnya tidak siap kalah. Mungkin kekalahan bagi mereka adalah aib yang sangat berat. Kekalahan adalah akhir segala-galanya yang tidak bisa ditebus walaupun masih ada waktu ke depan. Berangkat dari realitas inilah yang menyebabkan Capres kita tidak bersikap legawa. Tentu saja kita ingin menyaksikan para kandidat bersikap legawa dan lengsung mengucapkan selamat kepada kandidat yang pemenang.
Pidato pernyataan kekalahan adalah cara yang cerdas. Ini adalah pembuktian bahwa mereka siap kalah. Tidak ada salahnya juga kandidat yang kalah langsung menyampaikan pidato pernyataan kalah sebagaimana yang kita saksikan di negara yang telah matang dalam berdemokrasi, seperti Jepang, AS dan Inggris. Nah ini saatnya bagi Indonesia untuk menunjukkan kepada dunia bahwa elit politik kita telah dewasa berdemokrasi
Walaupun demikian ada harapan yang mungkin masih terang. Misalnya Pada saat JK ditanya wartawan beberapa saat setelah lembaga survei mengumumkan kemenangan SBY, Jusuf Kalla berkilah, “Kita tunnggu saja pengumuman resmi dari KPU, karena yang dijadikan acuan adalah hitung manual versi KPU”. Kalau demikian, rakyat akan menunggu waktu saja. Dalam keterangannya Ketua KPU menyatakan bahwa hasil final resmi akan diumumkan maksimal sebulan terhitung dari tanggal pelaksanaan pencontrengan 8 Juli. Jadi paling lambat tanggal 8 Agustus 2009 hasil akhirnya bisa kita saksikan. Mari kita tunggu, apa yang akan terjadi dengan Capres-Capres tersebut.
Banyak Kecurangan
Tidak mudah untuk mengatakan ini curang dan manipulasi, harus ada bukti pendukung yang meyakinkan bahwa kecurangan nyata-nyata terjadi dalam Pemilu kali ini. Apakah kalau di dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) terdapat nama ganda sudah mengindikasikan terjadinya kecurangan. Apakah nama yang sama dalam satu propinsi dan wilayah tertentu mengindikasikan adanya kecurangan? Apakah benar terjadi money politic yang menyebabkan pemilih digiring pada pilihan tertentu? Apakah ada pemaksaan konstituen untuk masuk memilik calon tertentu?
Menang sejak awal DPT meninbulkan masalah. Di lapangan terjadi data orang meninggal yang masih terdaftar, usia dibawah umur dan double entry menjadi problem utama. Mungkin ini karena KPUD tidak serius mendapatkan data yang akurat. Apakah pengkinian data pemilih melibatkan RT telah menjamin bahwa data DPT pasti akurat? Kenyatannya, bahwa setelah perbaikan beberapa kali, DPT juga masih masalah. Memang idealnya ada petugas yang ditunjuk olrh KPU khusus mendapatkan data kependudukan yang akurat. Mungkin versi Orde Baru dengan cara membentuk Panitia Pendaftaran Pemilih (PANTARLIH) memberikan solusi. Tetapi masalahnya adalah biaya yang cukup besar, bukankah di setiap kecamatan dan Kabupaten? kota sudah ada data kependudukan yang dianggap akurat? Disinilah dilemanya, antara penghematan biaya dan akurasi data.
Apakah dengan DPT yang tidak akurat ini kemudian seseorang bisa mengklaim bahwa Pemilu kali ini cacat hukum dan tidak sah? Saya tidak hendak mendiskusikan dalam tulisan ini. Tetapi yang patut dicatat, bahwa Pemiu Presiden kali ini mengalami cacat bawaan.
Hitung Cepat Hanya Wacana
Apakah sudah saatnya sekarang Mega dan JK mengucapkan selamat kepada SBY? Tentu saja tidak masalah. Ada sisi positif yang patut dijadikan pelajaran, bahwa secara mental baliau-baliau sudah menyiapkan diri menjadi kandidat yang kalah dan mengakui kekalahan. Lagi-lagi asas formalnya yang dipertayakan, selama belum ada pengumuman resmi KPU, maka presiden definitif belum terpilih, dan segala kemungkinan bisa terjadi Artinya pihak pemenang dalam Pemilu 8 Juli lalu belum final karena hanya KPU yang berwenang memutuskan presiden terpilih. Silahkan saja kalau lembaga survei melakukan hitung cepat. Silahkan lembaga survei membuat kesimpulan bahwa SBY adalah presiden terpilih dengan perolehan suara sekitar 60%. Semua ini hanya sekedar wacana akademis dimana survei hanya untuk memperkaya khasanah keilmuhan yang didasarkan pada ilmu pengetahuan.
Yang menarik untuk digaris bawahi bahwa survei ini didasarkan pada ilmu pengatahuan statistik yang valid dan scientist. Setiap orang bisa melakukan dan hasilnya akan sama apabila dilakukan dengan metode yang sama. Buktinya semua lembaga survei menghasilkan kesimpulan yang sama, pemenangnya adalah SBY, dengan akumulasi suara mencapai 60%. Lebih meyakinkan lagi, ternyata SBY mendapatkan sebaran suara lebih dari 23 propinsi melebihi 20%. Ini artinya survei bukanlah laporan abal-abal yang bisa dibuat tanpa metode sahih. Nah, sekarang apakah Capres dan tim suksesnya mempercayai produk ilmu pengetahuan atau tidak?
Saya yakin dan kita semua juga percaya dengan produk ilmu pengetahuan, sehingga tidak akan menjadi pandir apabila hasil perhitungan quick count kita percayai. Tapi tetap saja patokan hasil Pemilu adalah perhitungan manual KPU, dan untuk itu diperlukan waktu sebulan. Semoga KPU dapat menuntaskan rekapitusasi ini dengan baik. Bagaimana dengan tolerasi error bisa mencapai 1 sampai dengan 5 persen? Perlu waktu panjang untuk menjelaskan error term yang selalu muncul dari metode statistik, tetapi begitulah yang lazim dihasilkan dari metode ini.
Apakah Ibu Mega dan Bapak Jusuf Kalla akan memberikan ucapan selamat kepada SBY? Walaupun ke depan kita semua tidak tahun persis yang akan terjadi, saya masih yakin bahwa beliai-beliau akan berlapang dada dan memberikan selamat kepada SBY. Jadi masalahnya adalah waktu. Mungkin bukan sekarang karena proses perhitungan manual masih berlangsung. Artinya proses Pemilu Presiden belum berakhir, tetapi pada saat hasil Pemilu diumumkan saya yakin Capres yang kalah akan menerima dengan lapang dada.
Tim Sukses Harus Legawa
Sebagai tim sukses tentu saja ingin menunjukkan hasil yang gemilang di hadapan Capres-Cawapres yang diusung. Tetapi pemanang adalah satu, yang menjadi presiden hanya satu orang, oleh sebab itu kalah dan menang pasti akan terjadi. Apakah dengan kekalahan ini segalanya telah berakhir? Kalau kita percaya dengan keberhasilan memang berkaitan dengan waktu, maka ada kemungkinan ke depan calon yang kalah akan memang di masa yang akan datang.
Ada fenomena yang agak menggelitik pada hari H pencontrengan. Di TVOne LSI melakukan tabulasi secara on line. Walaupun data yang masuk mencapai 70 persen dengan sebaran data relatif merata, pimpinan LSI berani menyimpulkan bahwa SBY-Boediono sebagai pememang satu putaran. Memang LSI memiliki pengalaman cukup dalam hal ini, tetapi kesimpulan yang dilakukan terlalu berani. Menjelang sore hari, semua data sampel masuk dan dinyatakan 100 persen komplit, and the winner is SBY.
Sementara itu Lembaga survei tidak mau ketinggalan, mereka mengumumkan hasil quick count on line di MetroTV, Trans 7 dan RCTI. Hasilnya sama, SBY bertengger di papan teratas Pada umumnya semua lembaga survei hasilnya seragam, sehingga mereka berani membuat kesimpulan bahwa Pemilu berlangsung satu putaran dan penemangnya adalah SBY-Boediono.
Statement ini langsung mendapatkan perlawanan keras dari tim sukses lainnya. Bahkan karena terlalu emosional, mereka cenderung menyalahkan rakyat. Rakyat tidak rasional, rakyat salah pilih, rakyat tidak bisa memilih dan seterusnya. Jelas pernyataan ini melawan arus, karena rakyat Indonesia telah dewasa berdemokrasi.
Selamat Kepada Rakyat Indonesia
Selamat kepada SBY-Boediono, “Congratulation, now you are my president”. Sambil menunggu pengukuhan hasil KPU, rakyat Indonesia patut mendapatkan selamat dari para Capres-Cawapres. Apakah mereka memilih anda atau tidak, rakyat Indonesia telah berpartisipasi dengan santun dan elegant. Hasilnya adalah Pemilu damai jujur dan adil. Sekali lagi Selamat kepada SBY-Boediono, Selamat kepada seluruh rakyat Indonesia.
oleh : Jaiman Paiton
Satu lagi tahapan proses Pemilu Presiden yang perlu dilalui supaya proses ini menjadi sempurna, apa itu? Ucapan selamat dari para kandidat yang kalah kepada yang memang. Mengapa ini perlu? Karena inilah sebagai konsekuensi dari bangunan demokrasi yang sempurna. Manakalah seorang kandidat yang kalah mengucapkan selamat “Congratulation, you my president now”, maka dia telah menunjukkan jiwa besarnya. Artinya kekalahan bukanlah akhir dari segalanya. Rakyat akan mengapresiasi kandidat tersebut, karena pada dasarnya Pemilu Presiden adalah soal pilihan dan penghormatan terhadap rakyat.
Tuan Kalla dan Ibu Mega, ucapkan selamat kepada SBY, dan ibu akan dihargai rakyat. Rakyat menanggap anda sebagai politisi berjiwa besar, sebagai negarawan berlapang dada. Kalau anda melakukan itu, anda akan dikenang sejarah sebagai negarawan yang mengantarkan proses demokrasi di negeri tercinta ini dengan baik.
Bagaimana kalau tidak? Sangat disayangkan. Karena pada dasarnya ini adalah kehendak rakyat. Tidak mengakui hasil pemilu sama saja dengan merendahkan kehendak rakyat. Melawan keinginan rakyat. Dan bagi politisi semacam ini akan tenggelam digilas jaman.
Oleh : Jaiman Paiton
Kasihan para tim sukses Pemilu Presiden. Lihat saja apa yang dikatakan dalam diskusi di live event TV.
Mereka mengatakan sesuatu yang tidak bermutu. Mereka menjadi orang pandir yang membohongi realitas. Mereka melecehkan rakyat yang melakukan pencontrengan. Rakyat yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dilecehkan oleh para tim sukses kalah.
Mr. Piliangan, Mr F Zon. Di Metro TV mengingkari keniscayaan ilmu pengetahuan yang sebelumnya diyakini
Ha ha ha, rakyat makin mencemooh mereka yang mengngkari pendapat rakyat. Tuan tim sukses, akuilah bahwa ini adalah pendapat rakyat. Ini keinginan rakyat. Apapun upaya anda untuk melawan rakyat hanya menjadi omong kosong dan rakyat membencinya.
Oleh : Jaiman Paiton
Siapa yang memang? Ini pertanyaan menarik. Kontes Pemilu capres ini ibarat persaingan dalam bisnis. Menarik juga untuk mengambil sebagian dari five forces of Porter. Sebagai mahaguru management Poeter membuat analisis jitu dalam memenangkan persaingan.
SBY adalah incumbent. Artinya dia adalah exist company yang akan ditantang oleh new comer. Ada dua new comer yang menjual produk ke pasar, yaitu Mega-Prabowo dan JK-Wiranto. Apakah produk mereka akan diterima customer atau ditolak? Tentu saja bergantung pada strategi new comer.
Strategi JK-Wiranto adalah slogan lebih cepat lebih baik. Apa maknanya? JK adalah sosok pemimpin yang cepat mengambil keputusan dan model semacam ini diperlukan dalam era pasar global. Apakah rakyat Indonesia memerlukan kecepatan?
Strategi Mega-Prabowo, adalah ekonomi kerakyatan, membela wong cilik. Strategi yang umum dan menjadi agenda semua calon. Menurut mereka selama ini masyarakat kecil selalu dikalahkan dengan pelaku ekonomi besar. Pasar tradisional makin marginal dan pedagangnya kembang kempis. Sembako murah konon menjadi pilihan wong cilik, bagaimana dengan nasib petani?
SBY sebagai incumbent slogannya sederhana, lanjutkan!!! apa maknanya? Sederhana sekli, selama ini konon pemerintahan SBY cukup bagus an berhasil jadi kalau ingin keberhasilan ini makin josss pilihlah incumbunt
siap menang………..siapa minggir…
Oleh : Jaiman Paiton

Apakah SBY lagi, Mega atau JK? Hasil survey masih menempatkan SBY pada posisi teratas, disusul oleh Mega dan JK paling buncit. Tapi jangan salah, JK populeritasnya naik terus dan bisa jadi mengungguli Mega.
JK termasuk Capres paling lincah. Siapapun didekati. Tidak ada kata sungkan, malu atau tidak nyaman. Ini adalah filosofi pedagang. Siapa saja akan didekati tanpa mempertimbangkan apakah dia suka atau tidak yang penting pesan saya telah didengarkan oleh mereka. Apakah you akan pilih saya atau tidak nggak masalah. Kalau kesempatan kampanye ini diperpanjang, populeritas JK bisa mengungguli Mega.
Mega telah mencanangkan diri sebagai Capres jauh hari sebelum Pemilu Legislatif digelar. Populeritasnya stagnan tidak turun dan tidak naik pada kisaran 20%. Bergabungnya Prabowo memang mendongkrak sedikit nama Mega tetapi karena Capres adalah sebagai kuncinya, maka pasangan Mega Prabowo harus bekerja lebih keras lagi.
SBY-Boediono termasuk paling populer. Tentu saja nama SBY yang paling disanjung oleh rakyat. Memang gaya bicara dan penampilan SBY sangat cocok menduduki posisi presiden. Orangnya gagah, tinggi besar dan gaya bicaranya berwibawa. Apalagi kalau bersanding dengan kepala negara di luar negeri, SBY tampak berwibawa, gagah bersama kepala negara lain. Konon SBY orangnya peragu dan tidak tegas. Makanya JK selalu menyindir dengan kata lebih cepat lebih baik. Beberapa hari lalu LSI pasang iklan di koran separoh halaman. Isinya propaganda “Pemilu Capres sekali putaran saja”. Kontan iklan ini menuai protes, bahkan Media indonesia mngangkat sebagai tajuknya.
Nah, sekarang anda yang memilih. Siapa capres pilihan anda? Jangan ragu pilih sesuai dengan hati nurani. Semua kecap nomor satu…..