Oleh : Jaiman Paiton
Seorang nenek berusia 50 an dikenakan tahanan rumah dan wajib lapor selama 3 bulan di Kabupaten Kendal. Apa pasal? Dia tertangkap tangan mengambil 3 buah kakao di kebun dekat sawah yang disewanya. Adilkah? Tentu saja adil. Maksud saya adil di sini, bahwa setiap bentuk perbuatan jahat disengaja atau terpaksa,namanya kejahatan. Setiap kejahatan harus diberikan hukuman. Tidak ada toleransi bagi perbuatan salah. Kalau kemudian bobot hukuman itu berikan keringanan karena ada unsur pendidikan tentulah ini perbuatan terpuji. Dari pengakuannya, si nenek mengatakan bahwa kakao itu akan dijadikan bibit.
Apakah pengaduan ke polisi yang dilakukan pak mandor tersebut salah? Tidak. Apa yang dilakukan oleh Pak Mandor benar, karena itulah prosedur yang benar dan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku? Bagaimana kalau dibandingkan dengan korupsi yang dilakukan oleh pejabat dan pengusaha yang nilainya mencapai puluhan miliar, ratusan miliar bahkan mencapai triliun? Ternyata mereka hanya dikenakan hukuman sepuluh tahun penjara. Bahkan dalam prakteknya para koruptor hanya menjalani separuh saja.
Kawan, sesungguhnya kebenaran adalah sesuatu yang nyata. Yang benar dan yang salah adalah fenomena yang mudah dipahami, tetapi sayang tidak semua orang mau memahaminya. Apakah mereka tidak tahu bahwa mengambil uang yang bukan didasarkan pada hak adalah kejahatan? Tahu, mereka tahu persis ini perbuatan jahat. Jangankan uang yang jumlahnya mencapai miliaran rupiah, satu rupiahpun kalau itu bukan hak, namanya mencuri, korupsi, merampok atau entahlah istilah apa yang paling klop.
Keadilan adalah keadilan, siapapun yang berbuat jahat tetap kejahatan dan harus diberikan sanksi. Kalau memang si nenek dikenai sanksi tahanan rumah dan wajib lapor 3 bulan, biarlah itu dijalani sebagai bagian dari ketaatannya pada hukum. Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Tuhan mengampuni kesalahan dan dosa siapa-siapa yang dikehendaki.
Apakah Tuhan akan mengapuni dosa si nenek? Ampunan Tuhan Maha luas, Maha Suci Allah, kalau saja Tuhan mengapuni seorang pembunuh yang bertobat, apakah sulit bagi Allah untuk mengampuni dosa si nenek lugu ini? Bagaimana dengan dosa para koruptor, apakah Tuhan akan mengampuni?
Oleh : Jaiman Paiton
Sebuah cerita dari seorang wartawan BBC London beberapa bulan lalu.
Hari itu aku tidak ada tugas yang mendesak pagi hari sehingga aku bisa mengantarkan anak-anak berangkat sekolah bersama istri. Setelah memarkir kendaraan di tepi jalan, aku berjalan sekitar 500 meter menuju sekolah. Setelah selesai aku dan istri berjalan santai menuju kendaraan. Tiba-tiba dari arah berlawanan seorang laki-laki paruh baya menyapa dengan rama sambil menyodorkan tangannya. Sayapun menyambut uluran tangannya dengan senyum ramah. Dia memperkenalkan diri bernama Andrew. Dia mengajak saya beralan menuju sebuah kedai minum dan dia bercerita. Dia bertanya kepada saya “ Apakah Anda membaca kertas yang saya taruk di kaca mobil anda minggu lalu?” Istri saya langsung meenjawab “O ya, saya lihat tetapi kertas itu terbang pada saay saya melaju. Saya kira itu kertas tisu yang dirauh anak-anak”. Setelah itu Bapak yang ramah ini bercerita.
“Begini, saya minggu lalu secara tida sengaja menyerempet mobil anda di tepi jalan. Karena saya tergesa-gesa, saya tinggalkan secarik kertas di kaca mobil anda. Saya meninggalkan No telpon saya dan perusahaan asuransi yang menanggung kecelekaan”
Saya terkagum dengan sikap bapak yang ramah ini. Sungguh di jaman yang serba cuek, masih ada orang yang peduli dan bertanggung jawab seperti Tuan Andrew. Kami berpisah setelah saling bertukar kartu nama dan lain waktu mungkin bertemu lagi.
Sungguh peristiwa ini menyisahkan pelajaran berharga. Kalau anda bertemu dengan Tuan Andrew pasti akan sangat senang dengan sikapnya yang ramah dan bertanggung jawab.
Oleh : Jaiman P aiton
Hukum tarik menarik menjadi fenomena alam semesta yang paling hakiki. Semesta alam diciptakan Tuhan dengan segala fasilitas yang disesuaikan dengan kebutuhan makhluk hidup, sehingga manusia bisa mengexplorasi sesuai dengan keinginan. Demikian juga dengan hukum tarik-menarik yang muda kita pahami di sekitar kita.
Sebuah benda akan menarik benda lain di sekitarnya apabila memiliki medan magnet. Semakin besar medan masik yang dimiliki oleh sebuah benda semakin besar pula daya tariknya. Misalnya sebentuk besi ukuran tertentu akan ditarik oleh sebuah magnet apabila diletakkan pada area medan magnit. Menurut penulis buku laris “The Secret” Rhando Byrne, hukum tarik menarik juga berlaku pada kehidupan manusia.
Pikiran manusia adalah daya tarik yang sangat hebat. Apa yang kita pikirkan adalah mimpi besar yang hendak kita wujudkan. Semakin besar keinginan anda, semakin hebat pula daya tarik yang ditimbulkan. Apabila daya tarik tersebut menjadi permanen yang terus di kembangkan setiap saat, maka daya pikir ini menjadi daya tarik super hebat. Kita mengetahui banyak orang yang pernah manjadi kaya raya kemudian usahanya surut. Bahkan meniggalkan kewajiban sangat besar. Dengan daya tarik kekayaan yang sangat besar, kemudian bangkit lagi dan menjadi pengusaha super sukses berkelanjutan. Mengapa hal ini terjadi? Ini karena dia memiliki daya tarik hebat, oleh sebab itu walaupun uang yang pernah digenggaman lepas, tidak lama setelah itu kembali lagi dengan jumlah lebih yang besar.
Bagaimana dengan anda? Apakah mimpi anda sudah anda tanamkan kuat-kuat dio dalam benak? Kalau belum waktunya sekarang anda menanamkan mimpi tersebut dalam dalam ke dalam lubuk terdalam dan kuatkan setiap saat.
Hal senada juga dipaparkan oleh Adi W. Gunawan dalam bukunya “Maney Magnet”. Keduanya sepakat bahwa anda harus menjadi medan magnet yang dapat menarik uang. Semakin kuat daya magnet anda semakin besar daya yang dihasilkan dan makin hebat pula efeknya. Bagaimana dengan anda?
Oleh : Jaiman Paiton
Bolehkan saya bersumpah untuk meyakinkan orang lain? Boleh. Silahkan bersumpah, tetapi ingat bahwa dalam sumpah anda akan membawa nama Tuhan. Sekali lagi perlu anda sadari benar bahwa anda akan menyebut nama Tuhan sebagai saksi. Tuhan yang memiliki semesta alam adalah setinggi-tinggi nama,. Dengan menyebut demi Tuhan, maka Tuhan telah anda seret ke dalam ranah sengketa.
Mengapa harus bersumpah? Sesungguhnya tujuan manusia adalah untuk meyakinkan orang lain bahwa Tuhan menjadi sakSi dalam urusan anda. Mereka ingin meyakinkan orang lain, benar-benar tidak melakukan perbuatan nista. Seperti apa yang dilakukan oleh beberapa petinggi di negeri kita. Petinggi Kepolisian menyebut “Demi Allah” untuk meyakinkan Bangsa Indonesia bahwa dia tidak menerima suap 10 miliar rupiah. Tidak mau kalah, petinggi KPK yang dituduh Kepolisian menerima suap satu miliar juga melakukan hal yang sama. Sekali lagi mereka menyebut asma “Demi Allah” sambil membawa kitab Suci.
Walaupun sumpah menjedi fenomena lumrah di negeri kita, tetapi sumpah yang terjadi pada pejabat negara ini sangat unik, kenapa? Coba kita cermati satu persatu:
Pertama, yang pasti pada saat pertama diangkat sebagai pejabat negara mereka mengangkat sumpah di bawah kitab suci. Artinya pada waktu itu mereka telah bersumpah tidak akan menyuap atau menerima suap dari pihak manapun selain pembayaran resmi. Pada waktu itu, dia dengan lantang menyatakan tidak akan menyuap dan menerima suap langsung atau tidak langsung.
Kedua, Orang korupsi dan tidak korupsi sesungguhnya fenomena nyata. Coba anda lihat. Seperti apa polah mereka setelah menjadi pejabat. Ada rumah, kendaraan dan harta benda lainnya. Konon gaji seorang jenderal bintang satu tidak lebih dari sepuluh juta rupiah. Dengan gaji sebesar itu, sesungguhnya mereka tidak mungkin memiliki mobil seharga satu miliar rupiah. Dengan gaji sepuluh juta, paling banter seseorang hanya akan memiliki satu rumah sederhana tipe 70 dan mobil seharga seratus jutaan.
Lihatlah kenyataan yang ada. Mereka memiliki mobil mewah lebih dari satu, rumahnya mewah bak istana sinderela. Bagaimana mungkin orang bisa percaya bahwa hidupnya bersih dari korupsi?.
Oleh : Jaiman Paiton
Anda punya rahasia? Tentu. Masing-masing diantara kita memiliki rahasia. Rhonda Byrne dalam bukunya “The Secret” menggambarkan rahasia sebagai kekuatan yang dasyaT. Orang-orang terdahulu sudaH memiliki rahasia yang disimpannya sekian lama. Berkat rahasia inilah mereka menjadi figur yang sukses yang dikenang jaman sebagai tokoh yang fenomental.
Bagaimana dengan rahasia anda? Tentu saja rahasia anda bervariasi. Anda mungkin menympan rahasia pengalaman masa lalu. Bisa jadi rahasia tersebut akan menginspirasi orang lain kalau mereka mengetahui. Orang lain terinspirasi dengan rahasia anda, dan sukses. Misalnya dalam sebuah bukunya, Bob Sadino memaparkan rahasia suksesnya dalam bisnis. Demikian juga dengan brand terkenal seperti Toyota, Google, Nokia dan seterusnya. Walaupun mereka ungkapkan dalam sebuah cerita sangat panjang, tidak semua substansi terungkap dengan gamblang. Masih ada sisi lain yang sengaja dirahasiakan dan hanya dibagikan kepada orang-orang tertentu. Sang tokoh hanya memberikan resep kepada satu atau dua orang yang ditunjuk. Apakah anda adalah orang yang ditunjuk? Ya. Kalau anda tidak yakin bahwa anda adalah orang yang terpilih sebagai pemegang rahasia, berarti kunci sudah ada di tangan selanjutnya giliran anda untuk membuka pintu sukses.
Masih samar, apa maksud rahasia ini? Sekali lagi, rahasia adalah sesuatu yang tidak terungkap kepada publik. “Kalau orang lain sudah tahu, namanya bukan rahasia Mas”.
So, kita harus mencari rahasia mereka dengan cara kita. Buku harian, teman dekat, kelaurga dan benda-benda koleksi mereka.
“Sukses itu kerja keras Mas”. Kalau itu mah sudah tahu dari dulu. Tidak ada sukses jatuh dari langit. Kata Ali Murtadlo, “Pay the price”. Ada harga yang harus dibayar. Ada pengorbanan yang harus ditebus.
Oleh : Jaiman Paiton

Dalam kekalutan hati Ira berpikir akan mengugat cerai suaminya. Dia sebel banget dengan suaminya, Maec yang sering meminta pertimbangan bibinya. Terakhir dia minya pertimbangan bibinya waktu akan mengganti susu anaknya yang menginjak usia satu tahun. Ira kesel banget, “Sedikit-dikit minta pendapat bolek, kenapa sih mas nggak langsung berangkat aja?”
Sampai sedemikian parahkan perbedaan ini sehingga mempertimbangkan cerai? Jujur saya juga pernah berpikir ini, tetapi akal saya selalu berpikir sehat. Kenapa saya melakukan ini dan itu. Apakah keputusan ini tepai? Apakah ini hanya karena ego saya yang terlalu berlebihan? Apakah saya memang perlu berubah?. Akhirnya saya mendapatkan nasehat bijak dari perenungan mendalam. Saya mendapatkan banyak nasehat dari buku motivasi dan spiritual agama.
Apa tujuan keluarga anda? Ini yang selalu saya tekankan. Kemudian pikiran saya membayangkan visi ke depan yang ingin saya capai bersama dengan istri dan anak-anak. Visi yang menjulang tinggi dan akan kami wujukkan dalam jangka panjang. Apa visi keluarga? Saya kristalkan benar dalam benak saya, bahwa visi keluarga saya adalah menggapai kebahagiaan bersama di dunia dan akhirat. Kami ingin bersama di sunia dan akhirat nanti.
Dengan visi yang mengkristal ini, kami disatukan dalam goal yang sama. Kami mencari rejeki dengan cara yang halal dan tidak saling menonjolkan siapa yang paling hebat. Tidak ada yang paling hebat di dalam keluarga kami. Kami semua berjasa dan sama besarnya. Oleh sebab itu, kisi-kisi kecil yang menjadi sandungan mudah lenyap dihapis oleh tujuan kami yang maha besar. Dengan demikian, suasana-suasana panas segera mendingin dan kami tidak berpikir apapun selain tujuan keluarga kami yang kami junjung tinggi.
Oleh : Jaiman Paiton

Seperti apa keluarga yang anda bayangkan? Ekonomi mapan, dua anak semua baik dan cerdas, rumah bagus dan asri, mobil kinclong dan sehat lahir batin. Lantas bagaimana kondisi riil yang anda hadapi saat ini? Jauh dari ideal, mendekat ideal, sama dengan yang anda harapkan atau lebih dari yang anda anggankan?
Mari kita menyelami rahasia keluarga kita dengan cara yang bervariasi sesuai dengan yang ada di angan-angan anda.
Ada keluarga yang berantakan karena diterpa badai ekonomi yang sangat hebat. Saking hebatnya prahara ekonomi, suami dan istri memutuskan deforce. Ini artinya keluarga ini berorientasi ekonomi. Kemapanan ekonomi menjadi prioritas utama, sehingga pada saat kebutuhan utama tidak terpenuhi, pilihannnya adalah meninggalkan keluarga. Masing-masing mencari jalan berbeda sesuai dengan orientasi diri.
Ada keluarga yang berorientasi anak. Pokoknya harus punya anak. Perkawinan harus menghasilkan anak, kalau tidak kelangsungan keluarga tidak bisa dilanjutkan. Kalau anak menjadi orientasi utama, maka kehadirannnya menjadi fardhu ain. Mungkin bagi keluarga yang menyadari bisa menerima kehadiran anak adopsi, tetapi sebagian orang tidak menginginkan anak adopsi. Bagi dia anak biologis adalah segalanya dan tidak bisa digantikan dengan yang lain. Beberapa orang akhirnya memutuskan ikrar suci perkawinan karena tidak membuahkan anak biologis. Fenomena ini ada di sekitar kita.
Ada keluarga yang berorientasi kebahagiaan sejati. Mereka membangun keluarga dilandasi oleh keinginan lihur menunaikan kewajiban kerkasih sayang antara sesama. Keluarga yang berorientasi kebahagiaan akan menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan, kejujuran, kesederhanaan, kerja keras, saling tolong menolong. Sebuah keluarga yang berorientasi kebahagiaan yakin dengan kebahagiaan yang muncul dari dalam hati dan keyakinan yang kukuh bahwa kebahagiaan adanya di dalam hati. Materi tidak bisa menggantikan ketenteraman hati karena melakukan perbuatan mulia, membantu orang lain dan tulus hati.
Apakah kita telah memiliki keluarga berorientasi kebahagiaan?
Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang perlu anda jawab. Memang tidak semua materi berkorelasi langsung, tetapi dengan cara ini kita mencoba menyelami diri dan menjauhkan ego yang berlebihan pada diri kita. Ingat, ego yang berlebihan adalah berhala.
Coba anda jawab pertanyaan saya berikut ini:
Jawablah dengan sejujurnya. Biarkan hati kecil anda membisikkan kata-kata indah di dalam akal sehat. Lalu mengatakan berulang-ulang. Saya akan menjadi orang yang rendah hati dan peka terhadap orang lain.
Oleh : Jaiman Paiton
Sebuah pengalaman pribadi yang selalu melakat di benakku hingga sekarang. Waktu itu aku sedang menempuh pendidikan S1 di sebuah PTN di Surabaya. Sebagai anak kos, aku harus mengatur waktu dan keuangan seefisien mungkin. Belanja makanan dan keperluan kuliah harus aku lakukan secara cermat supaya tidak kekurangan. Dengan uang saku mingguan Rp 10000 aku mengalokasikan makan pagi, siang dan sore sangat hati hati. Pagi sarapan pecel, siang nasi sayur lodeh dan malam makan seadanya. Menu mie instan paling sering aku nikmati di malam hari karena harganya murah.
Pulang kuliah jam satu siang. Setelah makan siang dan sholat, aku istirahat siang sekitar sejam. Jam 3 sore bangun untuk menunaikan sholat ashar di masjid sebelah kos-kosan. “Ah, nikmatnya bertasbih kepada Allah pada saat-saat orang sedang menyibukkan diri dengan urusan fidunya.
Turun masjid, aku segera bergegas membersihkan diri, ganti baju lalu berangkat ke Perpustakaan Universitas. Memang tidak ramai, tetapi Perpustakaan ini sangat nyaman dan luas. Aku sangat senang berlama-lama dengan buku dalam kesunyian bersama hasil karya orang-orang yang bekerja penuh dedikasi. Aku biasanya pulang paling akhir, yaitu jam 7.30 karena Perpustakaan ini tutup jam delapan kurang seperempat. Aktivitas ini yang menghanyutkan aku menikmati waktu sehingga detik-demi detik berlalu sangat cepat.
Suatu sore setelah sholat isyak, aku mencari-cari buku yang kuinginkan di lantai tiga. Tiba-tiba dilantai aku dapati seonggok uang tercecer di atas lantai. Ada pecahan limapuluh ribuan, sepuluh ribu dan lembar lainnya. Aku tidak tahu persis uang siapa ini. Badanku langsung gemetar “Uang siapa ya? Apa ada yang kehilangan dan orangnya di sini tapi kok sepi…” waktu itu lantai tiga memang sangat sepi. “ini bukan milikku, bukan milikku” Berulang-ulang suara batinku. Kuambil dengan hati-hati, lalu aku bergegas ke lantai dasar lalu menyerahkan kepada petugas yang stand by di sana. “Pak ini aku menemukan uang di lantai tiga. Kalau ada yang cari silahkan diberikan. Terima kasih”. Setelah petugas menerima uang ini, aku kembali ke lantai tiga dan melanjutkan perjalananku dengan keagungan karya orang-orang berakal.
Aku tidak pernah menanyakan kepada petugas setelah itu. Apakah uang tersebut dikembalikan kepada pemilik atau dibawa petugas perpustakaan. Allahua’lam. Tidak ada motif lain, kecuali uang itu bukan milikku. Mudah mudahan pemiliknya mengambilnya kembali.
Oleh : Jaiman Paiton

Jujur, kita semua pernah melakukan kesalahan. Apakah kadarnya ringan atau berat. Di masa muda seorang teman saya di desa sangat nakal. Bisa anda bayangkan, dia sering mabuk di pinggir jalan. Kalau ada orang yang hendak mengingatkan, marah dan memaki-maki atau menantang berkalai. Berulang kali barang dan hewan ternak tetangga menjadi korban Sekolah tidak pernah terurus, dan akhirnya jatuh di meja narkoba. Saking malunya, keluarga akhirnya memutuskan pindah tempat tinggal.
Lebih dari sepuluh tahun, saya tidak mendengar berita dia dan keluarganya. Tiba tida saya mendengar dari adik di kampung bahwa dia menjadi pedagang kambing sukses. Disamping menjadi belantik kambing dan sapi, dia dan keluarganya hidup tenteram dan dengar ddengar tahun depan akan menunaikan haji.
Sangat beda dengan yang saya perkirakan. Benar-benar cerita yang sangat aneh sekali. Tetapi inilah realitas. Siapapun tidak mengetahui apa yang bakal terjadi pada kita yang akan datang.
Oleh : Jaiman Paiton

Cinta ada batasnya. Cinta ada bosannya. Cinta ada selingkuhnya. Secinta-cintanya anda pada istri pasti pernah terlintas keinginan bercinta dengan perempuan lain, apalagi kalau perempuan itu orang baik dan cantik. Gimana,… sepakat?
Mengapa ada keinginan bercinta dengan yang lain? Ah, manusiawi saja, karena kita memiliki nafus yang seringkali meronta-ronta dalam kungkungan akal yang tidak selalu fit. Ada kalanya kita berada dalam kondisi frustasi dan stess, sehingga ingin melepaskan beban itu dengan akitivitas penuh nafsu. Sasarannya adalah seksual dan musik.
Mungkin kalau lingkungan kita sangat madani, semua orang jujur dan toleran. Keluarga kita dan keluarga lain menjadi bangunan civil society yang kokoh, tetapi kenyataannya, kita berada dalam dunia yang penuh gejolak. Dengan demikian, maka diri kita kadang terhanyut oleh kuatnya arus peradaban dunia primitif.
Bagaimana cinta yang ideal. Terus terang, saya kurang suka menggunakan cinta sejati, apalagi cinta abadi. Jujur, cinta manusia tidak pernah abadi, cinta manusia ada batasnya. Bagaimana mungkin kita anggap cinta kita kepada manusia yang lain menjadi abadi, padahal keabadian hanya milik Tuhan. Cinta Tuhanlah yang abadi. Rahmah dan Rahim Tuhan yang abadi kepada ciptaannya, yaitu alam semesta dan isinya.