Oleh : Jaiman Paiton

Dalam kekalutan hati Ira berpikir akan mengugat cerai suaminya. Dia sebel banget dengan suaminya, Maec yang sering meminta pertimbangan bibinya. Terakhir dia minya pertimbangan bibinya waktu akan mengganti susu anaknya yang menginjak usia satu tahun. Ira kesel banget, “Sedikit-dikit minta pendapat bolek, kenapa sih mas nggak langsung berangkat aja?”
Sampai sedemikian parahkan perbedaan ini sehingga mempertimbangkan cerai? Jujur saya juga pernah berpikir ini, tetapi akal saya selalu berpikir sehat. Kenapa saya melakukan ini dan itu. Apakah keputusan ini tepai? Apakah ini hanya karena ego saya yang terlalu berlebihan? Apakah saya memang perlu berubah?. Akhirnya saya mendapatkan nasehat bijak dari perenungan mendalam. Saya mendapatkan banyak nasehat dari buku motivasi dan spiritual agama.
Apa tujuan keluarga anda? Ini yang selalu saya tekankan. Kemudian pikiran saya membayangkan visi ke depan yang ingin saya capai bersama dengan istri dan anak-anak. Visi yang menjulang tinggi dan akan kami wujukkan dalam jangka panjang. Apa visi keluarga? Saya kristalkan benar dalam benak saya, bahwa visi keluarga saya adalah menggapai kebahagiaan bersama di dunia dan akhirat. Kami ingin bersama di sunia dan akhirat nanti.
Dengan visi yang mengkristal ini, kami disatukan dalam goal yang sama. Kami mencari rejeki dengan cara yang halal dan tidak saling menonjolkan siapa yang paling hebat. Tidak ada yang paling hebat di dalam keluarga kami. Kami semua berjasa dan sama besarnya. Oleh sebab itu, kisi-kisi kecil yang menjadi sandungan mudah lenyap dihapis oleh tujuan kami yang maha besar. Dengan demikian, suasana-suasana panas segera mendingin dan kami tidak berpikir apapun selain tujuan keluarga kami yang kami junjung tinggi.
Oleh : Jaiman Paiton

Seperti apa keluarga yang anda bayangkan? Ekonomi mapan, dua anak semua baik dan cerdas, rumah bagus dan asri, mobil kinclong dan sehat lahir batin. Lantas bagaimana kondisi riil yang anda hadapi saat ini? Jauh dari ideal, mendekat ideal, sama dengan yang anda harapkan atau lebih dari yang anda anggankan?
Mari kita menyelami rahasia keluarga kita dengan cara yang bervariasi sesuai dengan yang ada di angan-angan anda.
Ada keluarga yang berantakan karena diterpa badai ekonomi yang sangat hebat. Saking hebatnya prahara ekonomi, suami dan istri memutuskan deforce. Ini artinya keluarga ini berorientasi ekonomi. Kemapanan ekonomi menjadi prioritas utama, sehingga pada saat kebutuhan utama tidak terpenuhi, pilihannnya adalah meninggalkan keluarga. Masing-masing mencari jalan berbeda sesuai dengan orientasi diri.
Ada keluarga yang berorientasi anak. Pokoknya harus punya anak. Perkawinan harus menghasilkan anak, kalau tidak kelangsungan keluarga tidak bisa dilanjutkan. Kalau anak menjadi orientasi utama, maka kehadirannnya menjadi fardhu ain. Mungkin bagi keluarga yang menyadari bisa menerima kehadiran anak adopsi, tetapi sebagian orang tidak menginginkan anak adopsi. Bagi dia anak biologis adalah segalanya dan tidak bisa digantikan dengan yang lain. Beberapa orang akhirnya memutuskan ikrar suci perkawinan karena tidak membuahkan anak biologis. Fenomena ini ada di sekitar kita.
Ada keluarga yang berorientasi kebahagiaan sejati. Mereka membangun keluarga dilandasi oleh keinginan lihur menunaikan kewajiban kerkasih sayang antara sesama. Keluarga yang berorientasi kebahagiaan akan menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan, kejujuran, kesederhanaan, kerja keras, saling tolong menolong. Sebuah keluarga yang berorientasi kebahagiaan yakin dengan kebahagiaan yang muncul dari dalam hati dan keyakinan yang kukuh bahwa kebahagiaan adanya di dalam hati. Materi tidak bisa menggantikan ketenteraman hati karena melakukan perbuatan mulia, membantu orang lain dan tulus hati.
Apakah kita telah memiliki keluarga berorientasi kebahagiaan?
Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang perlu anda jawab. Memang tidak semua materi berkorelasi langsung, tetapi dengan cara ini kita mencoba menyelami diri dan menjauhkan ego yang berlebihan pada diri kita. Ingat, ego yang berlebihan adalah berhala.
Coba anda jawab pertanyaan saya berikut ini:
Jawablah dengan sejujurnya. Biarkan hati kecil anda membisikkan kata-kata indah di dalam akal sehat. Lalu mengatakan berulang-ulang. Saya akan menjadi orang yang rendah hati dan peka terhadap orang lain.
Oleh : Jaiman Paiton
Sebuah pengalaman pribadi yang selalu melakat di benakku hingga sekarang. Waktu itu aku sedang menempuh pendidikan S1 di sebuah PTN di Surabaya. Sebagai anak kos, aku harus mengatur waktu dan keuangan seefisien mungkin. Belanja makanan dan keperluan kuliah harus aku lakukan secara cermat supaya tidak kekurangan. Dengan uang saku mingguan Rp 10000 aku mengalokasikan makan pagi, siang dan sore sangat hati hati. Pagi sarapan pecel, siang nasi sayur lodeh dan malam makan seadanya. Menu mie instan paling sering aku nikmati di malam hari karena harganya murah.
Pulang kuliah jam satu siang. Setelah makan siang dan sholat, aku istirahat siang sekitar sejam. Jam 3 sore bangun untuk menunaikan sholat ashar di masjid sebelah kos-kosan. “Ah, nikmatnya bertasbih kepada Allah pada saat-saat orang sedang menyibukkan diri dengan urusan fidunya.
Turun masjid, aku segera bergegas membersihkan diri, ganti baju lalu berangkat ke Perpustakaan Universitas. Memang tidak ramai, tetapi Perpustakaan ini sangat nyaman dan luas. Aku sangat senang berlama-lama dengan buku dalam kesunyian bersama hasil karya orang-orang yang bekerja penuh dedikasi. Aku biasanya pulang paling akhir, yaitu jam 7.30 karena Perpustakaan ini tutup jam delapan kurang seperempat. Aktivitas ini yang menghanyutkan aku menikmati waktu sehingga detik-demi detik berlalu sangat cepat.
Suatu sore setelah sholat isyak, aku mencari-cari buku yang kuinginkan di lantai tiga. Tiba-tiba dilantai aku dapati seonggok uang tercecer di atas lantai. Ada pecahan limapuluh ribuan, sepuluh ribu dan lembar lainnya. Aku tidak tahu persis uang siapa ini. Badanku langsung gemetar “Uang siapa ya? Apa ada yang kehilangan dan orangnya di sini tapi kok sepi…” waktu itu lantai tiga memang sangat sepi. “ini bukan milikku, bukan milikku” Berulang-ulang suara batinku. Kuambil dengan hati-hati, lalu aku bergegas ke lantai dasar lalu menyerahkan kepada petugas yang stand by di sana. “Pak ini aku menemukan uang di lantai tiga. Kalau ada yang cari silahkan diberikan. Terima kasih”. Setelah petugas menerima uang ini, aku kembali ke lantai tiga dan melanjutkan perjalananku dengan keagungan karya orang-orang berakal.
Aku tidak pernah menanyakan kepada petugas setelah itu. Apakah uang tersebut dikembalikan kepada pemilik atau dibawa petugas perpustakaan. Allahua’lam. Tidak ada motif lain, kecuali uang itu bukan milikku. Mudah mudahan pemiliknya mengambilnya kembali.
Oleh : Jaiman Paiton
Sabtu dan minggu bersama keluarga. Inilah saat paling menyenangkan bagi kita. Bermain dan bercengkerama dengan sibuah hati adalah momen yang paling berharga. Sedemikian berartinya momen ini, tidak ada materi lain yang bisa disandingkan dengan kebersamaan dengan keluarga.
Sebuah tantangan muncul silih berganti antara menemani keluarga dengan bisnis dan nilai kepuasan lain. Aku ingin memanfaatkan momen luang ini untuk bisnis yang menjanjikan sejumlah nilai rupiah dan ikhtiar untuk membantu sesama. Sorry, agak religius. Kayak ceramah subuh Mas.
Seorang teman mengatakan “Bisnis tidak hanya menggiurkan karena sejumlah nilai uang, tapi bisnis akan membantu sejumlah orang yang ada di sekeliling kita. Bayangkan kalau ada lima orang yang bekerja kepada anda, kemudian masing-masing dari mereka memiliki keluarga, istri dan satu anak. Ini berarti anda sudah membantu lima belas orang. Anda sudah meringankan beban hidup lima belas jiwa, bukankah ini luar biasa?”
Saya berpikir lagi, “Aku kira pendapat teman saya benar. Dengan membuka bisnis saya bisa membantu orang lain. Bukan hanya itu, apabila kelima keluarga tadi bisa bersedekah dan membantu tetangganya, bukankah aku patut bersyukur?. Kalau kemudian anak-anak mereka bisa menempuh pendidikan sampai ke jenjang ideal, tentu aku juga patut bersyukur”. Akhirnya kuputuskan aku hendak membuka bisnis dengan tujuan yang lebih mulia daripada hanya pundi-pundi rupiah.
Bisnis apa, mulai dari mana?
Pertanyaan yang selalu dipikirkan oleh siapa saja yang akan memulai usaha. Cerita bisnis sesungguhnya beragam. Misalnya Kolonel Sanders yang menciptakan KFC bermula dari hobby masak, kemudian menciptakan resep yang digemari oleh semua orang di seantero jagad. Sauchiro Honda Juga demikian, berawal dari kegemarannnya pada mesin dan teknik dia memulai bisnisnya dari bengkel sederhana yang akhirnya menjelma menjadi pabrikan mobil raksasa di Jepang. Larry dan Sargei pencipta search enggine paling top, Google mengawali bisnis dari kemampuan akademisnya di bidang matematika logika super cerdas. Saat ini Google masih digdaya di jajaran top one search enggine paling berpengaru. Bob Sadino lain lagi, dia memulai bisnis karena tekanan ekonomi keluarga yang berat, menuntut dia melakukan bisnis serba apa adanya. Bob sukses dan bisnisnya merambah bidang makanan sampai properti. Mereka semua orang hebat dan memberikan manfaat kepada banyak orang. Luar biasa, hebat sekali.
Bisnis apapun oke, bisa berkembang kok. Kuncinya ketekunan, inovatif, dedikasi, pantang menyerah, integritas dan komitmen. Ini artinya bisnis bisa diawali dari mana saja, bisa dari hobi, kemampuan akademis, atau bahkan keterpaksaan.
Oleh : Jaiman Paiton
Semua orang pasti berharap kebaikan. Ya kebaikan dari apa-apa yang diusahakan, bahkan seorang malingpun mengharap kebaikan diantara perbuatannya yang merugikan orang lain. Artinya, kebaikan adalah adalah kebutuhan semua orang walaupun seorang penjahat sekalipun.
Kalau seorang penjahat saja mengharapkan kebaikan pada dirinya bagaimana dengan anda yang meniatkan amalan jelas-jelas untuk kebaikan diri sendiri, keluarga dan orang lain.
Perbuatan baik apa yang bisa memberi kebaikan kepada orang lain? Banyak sekali dan mudah kita lakukan. Kalau pagi ini anda berangkat ke kantor membawa mobil sempatkan memberi tumpangan kepada teman dan tetangga. Mungkin hari ini dia sedang kesulitan uang untuk transport, dan anda datang meringankan bebannya. Bukan main anda menjadi orang baik yang akan dikenang. Mungkin juga mereka yang anda mudahkan hari ini berdoa dan doanya dikabulkan Tuhan. Andy F Noya yang ngetop lewat acara TV Kick Andy menyarankan supaya kita membersihkan sendiri meja makan. Atau bayarlah uang tol untuk mobil di belakang anda. Mudah dan murah.
Sebuah kisah ringan yang pernah saya alami sekitar 15 tahun lalu. Pagi itu saya memenuhi pangilan sebuah perusahaan jasa feri penyeberangan jembatan Madura (JM) di jalan Rajawali, Surabaya untuk melakukan wawancara lowongan kerja. Dengan senang hati pagi itu aku datang dengan sepeda motor kesayangan. Setelah memarkir sepeda motor, aku langsung naik ke lantai 2, tempat departemen HRD ngantor. Setelah mengisi formulir yang disodorkan pegawai HRD aku menunggu di di ruang tamu. Tiba-tiba aku teringat sepeda motor di parkiran. “Lho kok kuncinya nggak ada di saku?” pikiranku langsung kalut. “Bagaimana kalau kuncinya tertinggal di sepeda. Pasti lenyaplah sepeda kesayanganku. JMP daerah rawan bung”. Lemes … Aku cepat berlari menuju parkiran sepeda motor dan menuju tempat sepeda berada. Kaget sekali. Ternyata sepeda motorku masih ada di sana. Posisinya sama seperti waktu aku parkir. Sejenak aku menghela napas dalam-dalam. “Lho, kok bisa ya, di mana kuncinya”. Sambil menenangkan diri aku berjalan menuju tukang parkir yang sedang ngopi di warung. “Mas, maaf…. Apa tadi menemukan kunci sepeda motor saya?” “Oh iya mas, tadi tertinggal di sepeda”.
“Ya Allah, Alhamdulillah…” Dengan haru saya menerima kunci ini dari Mas tukang parkir yang baik tadi plus senyum lebar. “Semoga sampean mendapat perlindungan dari Allah Swt, dan semua hajad dikabulkan, amin.” Saya keluarkan sedikit uang yang tersisa di dompet dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang.
Kisah ini sangat lekat di hati saya, karena pada saat itu, sepeda motor ini adalah harta saya satu-satunya. Allah Swt menyelamatkan harta saya dengan cara yang tidak disangka-sangka. Bagaimana mungkin ini terjadi di daerah JMP yang terkenal koraknya sejak lama. Ternyata masih ada orang baik di sekitar kita. Jangan ragu, jangan takut karena Tuhan menempatkan orang baik di sekitar kita.
Untuk keluargaku tercinta
Oleh : Jaiman Paiton

Apa yang membuat anda bangga? Uang, jabatan, anak, rumah, mobil, tanah emas belian, saham atau apa lagi? Silahkan saja. Tidak ada larangan anda berbangga dengan apa yang anda miliki. Tentu ada alasan mengapa anda patut berbangga. Saya yakin bahwa untuk mendapatkan semuanya memerlukan pengorbanan besar sehingga anda patut berbangga. Uang yang ada didiposito mungkin dikumpulkan bertahun-tahun sehingga patut anda menghagainya. Bukan pada uangnya melainkan penghargaan atas kerja keras yang tidak dapat dilakukan oleh semua orang. Demikian juga dengan mobil kinclong yang nongkrong di garasi. Anda membutuhkan waktu 4 tahun menahan keinginan belanja kebutuhan lain karena harus mengangsurnya. So, silahkan berbangga dengan hasil kerja anda.
Satu hal yang perlu saya tekankan di sini, bahwa kebanggan kita terhadap poporti ini bukan karena pamer kemewahan, atau kekuatan, melainkan anda berbangga karena mampu mewujudkan mimpi anda meraih sesuatu yang hebat dan sulit untuk didapatkan kebanyakan orang.
Oleh : Jaiman Paiton
Seorang teman bercerita ketemu dengan kenalan mertuanya. Seorang pedagang sapi yang usianya mendekati 50 tahun, tinggal di daerah pinggiran, dan sangat kaya menurut ukuran daerah tersebut. Rumahnya yang paling mentereng menyebabkan semua orang mengenalnya. Yang menjadi fokus cerita adalah, si pedagang sapi ini beristri dua. Istri kedua masih relatif muda cantik lagi. “dua kosong” seorang teman lain tiba-tiba komen dan kami semua tertawa riuh.
Bukan hanya itu. Ternyata pembicaraan kami seputar poligami adalah menu favorit, munkin karena kami tidak ada yang berpoligami sementara sudah ada beberapa teman satu kantor yang beristri dua. Di daerah kami, seorang kyai juga sering beristri dua atau lebih. Ada seorang kyai terkenal di Probolinggo yang terkenal kawin cerai. Kalau dia suka, langsung diminta ke orang tuanya, dan kalau sudah tidak suka lagi cerai saja, titik. Kami memang tidak sependapat dengan perilaku menyimpang ini. Seorang teman nyetuk “buruk rupa kaca dibelah. Karena gak bisa melakukan, orang lain dianggap buruk”. Ha ha ha… kembali suara tawa kami riuh.
Dalam keheningan, saya selalu berpikir bahwa topik poligami menjadi materi yang menyebabkan kami kaum Adam menempatkan ego di atas orang lain. Paling tidak apa yang saya pikirkan mengabaikan perasaan istri dan anak anak. Coba pikir. Misalnya anda ingin kawin lagi, sementara itu di sisi lain istri anda juga berpikir sama. Satu-satu, adil kan?
Apakah anda sebagai kaum Adam dapat menerima pemikiran perempuan kawin dua (poliandri)? Saya tidak sependapat karena agama melarang perempuan poliandri. Oke, kita tahu bahwa menurut agama perempuan dilarang poliandri, tetapi kalau unsur agama sedikit kita abaikan dan murni diskusi ini adalah sisi kemanusiaan belaka. Laki-laki kawin lagi dan perempuan juga demikian, apa jadinya?
Saya hanya memikirkan bahwa apapun yang kita lakukan harusnya balance, yaitu seimbang antara perbuatan dan balasan. Kalau anda rajin melakukan perbuatan baik pasti mendapatkan balasan yang baik pula. Dan kalau kita menyakiti hati istri dan anak-anak ada balasannnya.
“Saya berpoligami karena ingin menolong orang lain”. Banarkah itu adalah niat yang sesungguhnya? Benarkan keinginan ini bukan nafsu belaka? Benarkan istri dan anak-anak bisa menerima dengan hati tulus? Memang sesama manusia tidak dapat membaca niat masing-masing hati, tetapi kita adalah manusia biasa yang mudah tergoda oleh egoisme nafsu. Kita bukan malaikat, bukan nabi, sehingga perbuatan kita tidak terpelihara dari dosa, tidak terpelihara dari godaan nafsu.
Lalu apa yang harus saya lakukan? Mario Teguh sering menaburkan pesan “Cintai keluarga” dan anda akan mendapatkan belasannya. Mencintai keluarga adalah indah.
Oleh : Jaiman Paiton
Jujur, kita sering kali meniatkan amalan karena selain Allah Swt. Di dalam hati kita ada keinginan bahwa orang lain memberikan pujian atau minimum sekedar perhatian kepada kita. Pada saat kita memberikan sumbangan bencana gempa, menolong tetangga, mengantar korban kecelakaan ke rumah sakit dan lain sebagainya. Di dalam hati kita ada letupan-letupan sporadis ingin mendapat balasan dari orang lain.
Sesungguhnya ini manusiawi. Semua orang ingin mendapat perhatian dan menerima balasan dari amal. Yang tidak wajar adalah ketika balasan yang kita harapkan adalah bukan hak anda. Tidak layak kita menerima balasan apapun karena itulah yang seharusnya anda lakukan. Misalnya kita mengantarkan korban kecelakaan ke rumah sakit, kemudian di dalam hati kita ada keinginan dipuji karena telah berbuat derma.
Mungkin anda tidak ingin mendapatkan imbalan apapun berupa materi, tetapi di dalam hati anda ada keinginan orang lain mengucapkan terima kasih. “Saya adalah pahlawan yang menyelematkan nyawa orang lain. Jadi saya pantas menerima pujian”. Membanggakan diri adalah awal dari rusaknya niat yang menghapus nilai pahala dihadapan Tuhan.
Bukankah ucapan terima kasih adalah balasan yang paling mudah dan bisa dilakukan semua orang? Benar, wajarlah kalau sesama manusia saling menolong dan berterima kasih. Bagaimana kalau orang lain tidak mengucapkannya? Berprasangkalah yang baik. Mungkin mereka yang anda tolong tidak mengucapkan secara verbal di gendang telinga anda, tetapi mereka berdoa, supaya anda mendapatkan balasan yang hebat dari Tuhan. Ini tentunya sesuatu yang luar biasa. Kalau setiap orang yang anda tolong berdoa, dan doa-doa ini didengarkan oleh Tuhan, betapa beruntungnya anda. Jadi tidak perlu berkecil hati karena orang lain tidak mengucapkan terima kasih. Sederhana saja, berprasangkalah yang baik, anggaplah pertolongan anda adalah doa-doa yang dipanjatkan oleh orang lain untuk anda.
Menurut Dr. F. Batmanghelidj, peneliti dan penulis buku self-help Your Body’s Many Cries for Water, You are not just what you eat; you are what you drink. Itu menjadi alasan mengapa air memegang peranan penting untuk kesehatan Anda.
Agar Anda terhindar dari penyakit, ada baiknya mencoba Terapi Air Mineral. Berikut caranya:
Penelitian Asupan Air untuk Orang Tua
Penambahan asupan air sebanyak satu liter sehari tampaknya tidak mengakibatkan dampak negatif bagi orang tua. Seorang peneliti dari Belanda, Dr. Mark G. Spigt dari Maastrich University melaporkan melalui Jurnal Persatuan Geriatri Amerika, bahwa orang tua lebih sering mengalami dehidrasi, sebagian karena sensasi rasa haus mereka sudah menumpul. Di lain pihak, orang tua lebih mudah mengalami dehidrasi, karena ginjal mereka lebih lemah.
Mengkonsumsi air secara berlebih dikatakan dapat menghilangkan kadar sodium dalam tubuh dan dapat berakibat serius. “Kami melakukan analisis ini,” kata Spigt pada Reuters Health. “Karena kita tidak mengetahui apakah hal ini dapat berbahaya bagi para orang tua. Terlepas dari kurangnya bukti yang mendukung topik ini, orang mengasumsikan berbagai macam efek. Beberapa mengklaim efek positif, lainnya mengatakan overhidrasi,” tambahnya.
Untuk meneliti efek umum yang terjadi karena bertambahnya asupan cairan, peneliti melakukan sebuah kajian yang melibatkan 141 orang tua sehat antara usia 55-75. Secara acak, mereka diminta menaikan asupan air sebanyak satu setengah liter sehari, lainnya diberi satu sendok sirup placebo per hari.
Setelah 6 bulan, orang tua yang minum lebih banyak air mampu meningkatkan asupan cairan dengan rata-rata 1 liter per hari. Tidak ada perbedaan jauh dari dua kelompok itu, baik dalam tekanan darah, kadar sodium, atau kadar filtrasi ginjal mereka. Dengan hasil ini, peneliti menyimpulkan bahwa memperbanyak asupan cairan tidak berakibat buruk
Sumber, Danone Aqua
VIVAnews - Perawatan tubuh menggunakan garam laut sudah dilakukan sejak zaman dulu. Biasanya, garam laut digunakan untuk mengangkat sel-sel kulit mati. Manfaat lainnya, garam laut juga bermanfaat untuk hilangkan stres.
Garam laut yang digunakan untuk perawatan merupakan hasil dari evaporasi air laut yang bentuknya seperti kristal. Garam yang digunakan biasanya diambil dari tempat yang jarang terjamah tangan manusia, sehingga masih banyak mengandung mineral, salah satu sumbernya adalah Laut Mati. Kandungan mineral pada garam laut seperti kalsium, potasium, magnesium, sulfat dan merkuri bisa membuat kulit lebih sehat dan segar.
Mendapatkan garam laut untuk perawatan tubuh juga tidak sulit, Anda bisa mendapatkannya di toko perawatan kecantikan. Tapi, jika Anda menginginkan garam yang berasal dari Laut Mati, harganya memang agak mahal. Karena garam laut mati memiliki kadar magnesium, kalsium, iodin, dan zat besi iron paling tinggi dibandingkan garam laut lainnya.
Nah, untuk menghilangkan stres, Anda bisa mandi dengan garam laut. Caranya sangat mudah dan bisa dilakukan di rumah. Yang harus Anda persiapkan adalah :
- Bak mandi dengan air hangat (suhunya tidak lebih dari 37 derajat Celcius)
- Garam laut sebanyak 300 gram, masukkan ke dalam bak yang telah diisi air hangat.
- Mandilah dengan air yang telah dicampur garam selama 10 hingga 15 menit.
- Kemudian lilit tubuh Anda dengan handuk yang sudah dibasahi air garam laut selama 10 menit.
Hal tersebut bisa mengurangi ketegangan dan tekanan pada saraf dan memberikan suplai ion positif pada tubuh. Jadi, tunggu apalagi segera mandi dengan garam laut untuk menghilangkan stres, selain itu, kulit pun akan lebih terlihat cerah dan bersinar.